You’re The First, Kyungsoo!

Elfeetoile’s Present

IMG_12067444157670

Starring with : Do Kyungsoo [EXO’s D.O] Park Ahyoung [OC/You] | Also Support : Do Family   Park Family  Byun Baekhyun [EXO’s Baekhyun] Park Chanyeol [EXO’s Chanyeol] | Genre : Romance  Comedy  School Life | Rating : PG16+ | Lenght : Series

 

This Story Line Is Mine Please Don’t Copy Paste

Previous : Happy Aniversary

___

 

Ahyoung berjalan menyusuri koridor sekolahnya yang sudah begitu sesak denganpara siswa yang bersorak ria karena ujian kelulusan telah usai tadi siang. Gadis berbendana biru langit itu berusaha menerobos lautan manusia dengan tubuh mungilnya yang terkadang terjepit atau kerap kali sepatunya terinjak oleh para murid sekolah yang berbondong-bondong menuju pintu gerbang untuk pulang. Untung saja ia tidak memiliki penyakit pernafasan. Jika iya mungkin saja sekarang ia sudah terkapar pingsan di lantai dan tubuhnya terinjak injak karena mereka tak menyadari dirinya di bawah sana. Konyol !

Ia mempercepat langkahnya begitu melihat lorong koridor begitu lenggang nyaris tak berpenghuni. Oh … Ini sudah sangat terlambat. Bahkan ia sudah melewati batas jam yang ketua tentukan.

Ckklek.

” Maaf saya terlambat ” Semua mata tertuju pada dirinya. Ini benar-benar memalukan ! Sungguh. Park Ahyoung tak menyukai suasana seperti ini . Sangat. Perlu di tegaskan bahwa ia benci menjadi pusat perhatian seperti yang sedang di alami sekarang. Tidak seperti So Eun-teman satu kelasnya–yang begitu menyukai ketenaran, bersolek dan juga gemar menghamburkan harta orangtuanya. Ahyoung jauh dari kepribadian tersebut. Pria berumur yang tak jauh dari umurnya –ketua klub– mempersilahkan Ahyoung duduk sebelum melanjutkan kata -katanya yang sempat terpotong tadi.

“Kau terlambat lima belas menit, Nona.” Bisik seseorang di sampingnya. Ahyoung hanya mengabaikan perkataan tersebut. Toh, ketuanya saja membolehkan ia masuk dan duduk manis bukan?

“Pada waktu pertemuan terakhir. Kalian telah menujukan akting masing-masing. Dan … saya sudah mempersiapkan konsep teater dan cerita apa yang akan kalian perankan.” Ketua itu menyambungkan kabel Proyektor pada laptopnya. Kursornya membuka file-file data dan setelah Videonya siap di putar, sang ketua menyalakan sebuah speker aktif sebagai sentuhan terakhir.

“Kenapa harus cerita kekanakan seperti ini.”

“Huh, aku sudah berulang kali menontonnya di DVD adikku. Ck! Tidak seru sekali.”

Film telah di putar dan beberapa decakan dan gerutuan keluar dari beberapa mulut penghuni klub seni. Ah, mungkin hampir semua, dan sebagian besar para anggota berkomentar negatif.

“Pasti dari kalian merasa tak asing dengan cerita animasi ini. Biar sedikit ku jelaskan. Ini adalah film yang di adaptasi dari sebuah dongeng Jerman yang saat ini sudah di Remake menjadi Film animasi karya Walt Disney berjudul Tangled. Alasannya? Karena kami sudah bosan dengan cerita Cinderella, Putri Tidur ataupun Putri Salju untuk teater setiap tahun-tahun sebelumnya. Saya sudah memilih sebagian dari kalian sebagai pemeran acara teater nanti. Mohon kerja samanya.” Sang ketua membungkuk hormat mengakhiri pidatonya. Cerita yang ditayangkan telah selesai digantikan nama-nama pemeran yang di mulai dari pemeran bantu sampai pemeran utamanya.

“Wah, lihatlah Kangjun. Kau menjadi Maximus. Cocok sekali.”

“Oh Minyoung, aku turut berduka karena kau menjadi Mother Gothel.”

Ahyoung menggigit bibirnya menatap layar besar itu. Sebenarnya bukan takut karena tak dapat peran. Namun, sebaliknya. Ia-sangat-tidak ingin namanya tertera di layar sana. Takut tidak bisa menjalani perannya dengan baik. Semoga saja tidak. Lagi pula ia ingin menikmati masa kebebasan setelah ujian kelulusan, dan tentu saja Ahyoung tidak akan serela dan sebaik hati itu membagi waktu berharganya untuk menghafal naskah drama yang sulit di terima otaknya yang ber-IQ di bawah rata-rata.

 Tidak mungkin ! Aku tak terlalu pandai akting tapi .. bagaimana bisa?

Semua penghuni aula bubar dan pergi meninggalkan ruangan ini setelah mendengar intrupsi dari sang ketua. Ahyoung berdiri hendak mengambil naskah dengan langkah gontai penuh malas. Apa boleh buat? ia sudah terpilih. Tak ada pilihan lain karena situasi akan lebih parah jika ia protes pada ketua klub untuk menolak.

Ahyoung menghentikan langkahnya sesaat melihat sepasang sepatu terlihat di hadapannya. Ia mendongakkan kepalanya yang menunduk, melihat siapa pemilik sepatu berwarna putih tersebut.

“Hai, aku Oh Sehun sebagai Eugane atau Flyne.” Seorang pria berkulit putih pucat, bermata sipit dan memiliki rahang yang tegas berada di hadapannya sedang mengulurkan tangan padanya.

Tunggu!

Eugane atau Flyne? Eugane atau Flyne Itu berarti,

“Eoh! Aku Park Ahyoung.” Ahyoung membalas jabatan tangan Sehun yang begitu besar di genggaman nya.

“Ini naskahnya. Mohon kerja sama dan bantuanya. Kuharap kau cukup baik dan mahir berekting. Sampai jumpa, Rapunzel.” Sehun memberikan lembaran-lembaran teks yang memang sengaja ia ambilkan untuk Ahyoung. Gadis itu mengejapkan matanya berulang kali sebelum akhirnya tersadar bahwa eksistensi manusia telah berkurang. Akhirnya Ahyoung ikut bersama yang lain berhambur keluar.

 

___

 

“Kyungsoo, besok sepertinya tidak pulang bersama mu.” Ujar Ahyoung menemukan pembicaraan yang tepat untuk memecahkan keheningan.

“Baguslah.” Ahyoung memutar bola matanya. Apa pria ini sungguh tak ingin mengetahui alasan mengapa dirinya berbicara seperti itu?

“Kau tak bertanya kenapa aku berkata seperti itu?” Tanya Ahyoung merajuk. Sepertinya Ahyoung lupa ingatan bahwa beberapa saat yang lalu ia berhasil membuat Kyungsoo kesal. Tapi, baginya Kyungsoo yang dalam keadaan mood baik atau buruk terlihat sama saja. Dingin dan selalu mengacuhkan nya.

“Tidak.” Jawab singkat khas Kyungsoo keluar melalui celah bibir tebalnya itu. Ahyoung berdecih dan mulai aksinya dengan mempoutkan bibirnya dan merubah wajahnya menjadi jelek–menurut Kyungsoo.

“Kau sepertinya benar-benar marah padaku tentang kejadian di parkiran tadi. Aku minta maaf. Aku tak bermaksud seperti itu padamu, itu hanya bercanda, Kyungsoo.” Pandangan Ahyoung lurus pada Kyungsoo yang tengah menyetir. Pria itu hanya terdiam dan fokus pada jalanan kota yang sedikit licin karena hujan mengguyur beberapa jam yang lalu.

“Kyungsoo, jawab aku.” Pria bermata bulat itu meminggirkan mobilnya. Demi keselamatan juga indera pendengarannya yang akan tuli karena lengkingan suara Ahyoung yang begitu merusak gendang telinga jika saja tak segera menanggapi ocehan tak penting itu.

“Bisakah kau diam? Aku tidak marah dan jangan banyak bicara bila aku sedang mengemudi karena itu sangat amat mengganggu, mengerti!” Ucap Kyungsoo tajam. Ia mengenyitkan dahinya melihat wajah Ahyoung yang tiba-tiba cerah.

“Ah, lega rasanya.” Gumam Ahyoung masih dengan senyumnya.

“Lega?” Kyungsoo menaikan sebelah alis tebalnya saat mendengar ucapan yang terdengar aneh dari mulut Ahyoung.

“Ya, lebih baik aku kau marahi ketimbang kau diami.” Ahyoung menampak senyum kudanya. Kyungsoo memutar bola matanya. Sepertinya, dirinya tengah berhadapan dengan manusia berspesies langka. Bukan, maksud Kyungsoo dalam artian bahwa gadis di sampingnya tidaklah normal. Ya, Ahyoung adalah gadis tak normal. Batinnya.

Kyungsoo menggeram dalam hati. Dosa apa yang diperbuatnya hingga menjadikan gadis tak normal seperti Ahyoung sebagai kekasihnya. Dan sayang sekali bahwa ibunya sangat menyayangi Ahyoung, hingga dirinya hanya mempunyai harapan kecil untuk berpisah dengan gadis tersebut. Kyungsoo menarik rem tangannya dan kembali menjalankan mobilnya menuju rumahnya.

 

____

Ahyoung merebahkan tubuhnya di ranjang yang penuh dengan bantal berbagai bentuk. Dirinya memang kurang menyukai boneka. Bahkan di kamarnya hanya terdapat satu boneka beruang berwarna sebesar ukuran tubuhnya. Kamarnya hanya ramai dengan berbagai potret dirinya yang tercetak dari kamera Palaroid dan poster Idol di berbagai sisi dinding bernuansa ungu itu. Otaknya masih memutar berbagai kejadian yang di alaminya beberapa saat yang lalu di aula seni sekolah. Sungguh ia tak siap untuk ikut bersangkutan dalam persiapan teater itu. Entah sebagai apapun. Tapi, takdir telah menempatkan di bagian terpenting dalam teater itu.

Ini adalah apa-apa! Ia harus membatalkan segala persiapan liburan musim dinginnya setelah kelulusan karena teater ini. Terlepas dari semua itu hanya ada satu permasalahan. Ia tidak yakin pada otak udangnya yang akan menghafal naskah.

Ah ya, satu lagi. Ia takut akan kaku saat berakting bersama lawan mainnya nanti. Ia hanya bergaul dengan Kyungsoo sebagai satu-satunya pria yang bisa dekat dengannya selain Ayah dan Kakak laki-lakinya. Oh, mengapa dia menjadi paranoid dan berlebihan seperti ini? Bahkah ia belum mencobanya.

Ahyoung segera menjernihkan pikirinya kembali dan mengambil naskah yang berada dalam tas yang ia campakan ke sembarang arah sehabis pulang sekolah tadi. Ia segera menyambar tasnya yang teronggok di dekat pintu kamar mandi. Oh, jika saja ia tak ingat dengan naskah yang akan ia hapalkan mungkin tas itu akan berada di sana sampai pagi menjelang. Dia benar-benar pemalas.

Ahyoung merogoh tas ranselnya mencari setumpuk kertas itu. Ya, Ia harus segera menghapal dari sekarang agar hasilnya minimalnya tidak memalukan. Tapi, sedari tadi matanya maupun tangannya tak kunjung menemukan lembaran kertas tersebut sampai membuat dirinya membongkar semua isi tasnya. Mencari ke setiap sudut ruangan yang terlihat begitu berantakan. Dan ia juga sempat mencari ke bawah ranjang takut-takut benda itu sempat terlempar kesana. Ia mencoba kembali mengingat kejadian sebelum sampai kerumahnya. Sayangnya ia tak ingat terlalu jelas kapan terakhir kali memegang benda itu. Ahyoung menerka beberapa opsi atas hilangnya naskah tersebut sampai membuat otaknya benar-benar frustasi. Bisa gawat kalau sampai naskah itu benar-benar hilang.

” Ah, bagaimana ini !. ”

 

___

 

 

“Aku tau kau yang mengambilnya, Eugane!” Teriak Rapunzel saat mahkota yang di kenakannya menghilang dari kepalanya. Eugane bersiul dan berpura pura tidak tahu. “Eugane!

Apa? Aku tak mencurinya!” Rapunzel mengahadap Eugane menarik kerahnya lalu menciumnya. Akhirnya Eugane menaruh kembali mahkota milik putri mahkota tersebut. Mereka akan segera menikah dan hidup selamanya.

Tamat

Kyungsoo menutup Naskah tersebut. Sungguh! Cerita apa ini? Ahyoung harus melakukan adegan itu di depan semua warga sekolah? Ck, yang benar saja! Kyungsoo memandang nanar kertas putih itu. Teater sekolah yang biasa di laksanakan akhir tahun sekolah memang biasanya memiliki kissing scane. Tapi, bukan itu masalahnya. Pemeran utamanya adalah Ahyoung.

Park Ahyoung kekasih paksanya.

Seingatnya gadis itu pertama dan terakhir kali berhubungan dengan Kim Junmyeon yang terkenal sebagai anak teladan sekolahnya., juga sebagai anak kolongmerat—sebelum menjadi kekasihnya. Itu pun sudah satu tahun yang lalu. Kyungsoo bisa menerka bahwa mereka tidak melakukan ciuman yang begitu asing bagi seorang Kim Junmyeon. Bukan begitu! Maksudnya mereka mungkin pernah melakukanya. Namun, tak sampai sebatas mengucup kening dan pipi–yang ia dengar dari gadis penggosip di sekolahnya.

Oh! Jangan lupakan bahwa pria itu benar-benar polos juga lugu dan terkesan alim. Dan permasalahan utamanya bagaimana Ahyoung begitu lihai meragakan adegan itu sedangkan pengalaman dalam hidupnya pun tak cukup?

Eh, kenapa ia memikirkannya? Itu bukan urusanya ‘kan? Dan sejak kapan seorang Do Kyungsoo mencampuri urusan orang lain ? Ingat itu bukan gayamu Kyungsoo!.

Kyungsoo melirik jam bulat yang berada di sisi dinding kamarnya yang menunjukan pukul 11 malam. Ah, ia harus bergegas tidur karena malam sudah larut.

 

___

 

Ahyoung turun dari bus dengan wajah cemberut khasnya-lagi. Padahal musim dingin kali ini cuaca begitu cerah dengan cahaya matahari yang sedikit menghangati penduduk kota. Ada gerangan apa yang membuatnya seperti ini saat masih pagi?

Ia kesal! Moodnya berada di titik paling rendah sekarang. Hari apa sekarang? Mengapa aku begitu sial?! Batinnya berteriak.

Naskah tak kunjung ia temukan setelah melakukan penggeledahan di penjuru ruangan. Bahkan ia meminta Bibi Kim yang pandai dalam menemukan barang hilang tak bisa menemukan naskahnya. Di tambah Kyungsoo tak menjemputnya pagi ini. Dan lebih mengesalkan nya, Pria itu dengan gamblang mengatakan bahwa dirinya sudah berada di sekolah melalui via telefon, dan terlebih lagi bahwa pertemuan kub seni akan berlangsung sepuluh menit lagi. Parahnya ia belum sarapan untuk mengisi perutnya yang berdemo minta segera di isi. Demi Dewa Neptunus! Ia ingin sekali memakan ranting pohon yang berjajar di sisi jalan kalau saja tidak menyayangi giginya. Bukankah kemarin ia hanya meminta untuk tidak pulang bersama? Tapi, mengapa harus tak menjemputnya juga ? Lalu, jika memang Kyungsoo sedang ada keperluan mendadak mengapa tak menghubunginya dan berkata ‘Park aku tak bisa menjemputmu’ Jadi ia tak perlu menunggu pria kutub itu dan segera berangkat menggunakan bus umum.

Ahyoung mendengus di tengah-tengah langkahnya kembali dipercepat menuju sekolah. Ia tak ingin terlambat lagi seperti kemarin. Pasti Ketua klub takan memberi toleransi jika ia terlambat untuk yang kedua kalinya.

 

___

 

“Baek, cepat berikan tanganmu.” Titah Chanyeol sok tegas. Baekhyun menggelengkan kepalanya dan menyembunyikan tangan lentiknya di balik punggungnya.

“Baek,”

“Tidak mau! Tangan cantik ku akan remuk karena ulah tangan besarmu itu.”

Oh, Baek. Pasti gadis di luar sana akan jijik melihat tingkahmu. Wajah Chanyeol-yang menurutnya-tampan itu berubah menjadi aneh mendengar penuturan dan melihat Baekhyun melarikan diri lagi.

“Awas kau Baek! Aku akan benar-benar menghancurkan tanganmu. Hyakk!” Chanyeol mengambil ancang-ancang menyergap Baekhyun dan menghabisi tangan cantiknya itu.

Eommma …” Teriak lengking Baekhyun yang begitu memekak telinga.

Kelas kembali gaduh. Kyungsoo benar-benar benci jika kelas sedang tanpa guru. Mengingat ujian akhir telah selesai jadi, para tingkat tiga di bebaskan dari belajar untuk beberapa hari sebelum kembali mendapat bimbingan untuk tes masuk universitas. Berada di kelas membuat moodnya buruk. Sedari tadi ia hanya membaca novel yang belum selesai ia baca sambil mendengar lagu namun, suara bising kelas mengalahkan alunan lagu yang keluar dari earphone di telinganya membuatnya tak fokus membaca. Ia mendengus kesal. Sambil membawa buku tebalnya, Kyungsoo beranjak dari bangkunya keluar kelas dan menapaki koridor kelas dua belas yang penuh kebisingan. Ia berjalan dengan wajah dinginnya menyusuri tiap tiap ruangan menuju perpustakaan.

.

.

.

Sepi. Itulah kesan Kyungsoo saat melihat hanya beberapa siswa mengisi beberapa bilik tempat duduk di perpustakaan. Mata bulatnya bergerak-gerak kepenjuru arah dan menemukan tempat favoritnya kosong di bilik paling ujung dekat dengan jendela. Sambil membaca atau sekedar bersantai di perpustakaan, Kyungsoo biasa menduduki bilik ini sembari mengawasi Ahyoung jika sedang bermain di lapangan bersama temannya. Oh, bukan apa – apa. Kalian sudah tau ‘kan akibat yang akan di alami Kyungsoo bila Ahyoung si ceroboh pulang dengan goresan luka yang kecil sekalipun?

Kyungsoo melangkah santai menuju tempat yang akan ia tempati dan duduk dengan tenang di sana. Earphone berwarna putihnya ia pasangkan di kedua telingannya. Sambil membaca buku ia mendengarkan beberapa lagu dari MP3 playernya. Kyungsoo sangat menyukai suasana seperti ini. Sunyi dan tenang, dan perpustakaan adalah tempat yang cocok untuk penggila baca buku sepertinya.

Kyungsoo kembali membaca deretan tulisan dalam buku dengan halaman mencapai dua ruas jari dengan damai. Sekolah tingkat atas sebagai tempat Kyungsoo dan Ahyoung mengenyam pendidikan mempunyai dua ruangan besar perpustakaan. Perpustakaan pusat, berisikan buku lengkap berada di lantai dasar. Sedangkan yang di singgahi oleh Kyungsoo adalah perpustakaan yang jarang sekali di kunjungi sebab hanya berisikan buku-buku yang sudah usang dan sebagian sudah tak terpakai lagi. Namun, tak ayal membuat Kyungsoo menjadikan tempat perpustakaan ini dalam daftar tempat favoritnya setelah atap sekolah.

Srek

Samar Kyungsoo mendengar suara .. entah apa, Kyungsoo pun tidak tahu.

Srek

Kyungsoo mengalihkan pandangannya ke penjuru perpustakan mencari sumber suara yang mengusiknya. Namun, nampaknya semua tak ada yang mengganjal. Persis seperti yang ia lihat sebelumnya.

Mungkin hanya perasaanku saja.

Ia menggeleng- gelengkan kepalanya lalu melanjutkan bacaanya.

“Pssst.. Kyungsoo.” Ia tak mengadahkan suara yang kali ini memanggil namanya.

“Do Kyungsoo, ini aku.” Dengan malas ia menolehkan kepalanya. Dan saat itu juga Kyungsoo terjolak kaget begitu menemukan sosok gadis di sampingnya dengan jarak tak lebih lima senti dari wajahnya. Bahkan Kyungsoo bisa merasakan nafas gadis itu. Ugh!

“Kau mengagetkan ku tahu!” Segera Kyungsoo menjauhkan tubuhnya dan mengelus dada meredakan jantungnya yang berdentum kencang.

“Berlebihan.” Ahyoung mengerling dan berdecak sebal. Ia menegakan tubuhnya kembali keadaan normal. Ternyata kulkas ini bisa berekspresi berlebihan seperti itu. Cibirnya dalam hati.

“Ada apa?” Tanya Kyungsoo tanpa basa basi. Oh, ayolah gadis ini sangat mengganggu.

“Tidak ada apa-apa. Hanya saja nanti sepulang sekolah antarkan aku ke pasar Myeongdong, ya.”

“Tidak.” Jawab Kyungsoo cepat. Ia tak mau menganggung resiko jika dompetnya akan menipis karena terlalu banyak membeli makanan.

“Ayolah, sekali ini saja.”

“Kalau aku bilang tidak ya tidak.”

“Kyungsoo,” Kyungsoo hanya menatap datar melihat wajah Ahyoung kembali mengeluarkan guratan aneh. Ugh! dia mulai lagi. Kyungsoo mendengus, sebelum akhirnya mengangguk dan menyetujui permintaan Ahyoung. Mendengar itu membuat gejolak amarah pagi tadi sirna seketika. Ahyoung memang mudah merubah moodnya dengan drastis. Terkadang membuat pelayan di rumahnya tak jarang menatap Ahyoung aneh. Termasuk Kyungsoo. Gadis itu seperti memiliki banyak kepribadian. Ya, begitulah.

 

___

 

Sebenarnya jam ini adalah waktunya Ahyoung latihan teater. Namun, karena ketua klub seni absen karena sakit, di tambah hanya beberapa pemeran penting yang masuk hari ini. Bahkan Sehun tak masuk. Jadi, latihan di undur.

Jalan – jalan di pasar Myeongdong bersama Kyungsoo di musim dingin bukanlah hal yang buruk. Pasar Myeongdong di siang hari memang sangat ramai meski suhu mencapai titik beku tapi, tak menghalangi pengujung singgah kepasar ini. Banyak stan-stan yang menjual berbagai macam jenis barang maupun makanan. Ahyoung berseri-seri melihat banyak hal yang menarik matanya di sini. Kyungsoo yang sedari tadi di tarik kesana kemari hanya bisa pasrah dan menggeram kesal dalam hati, meruntuki dirinya menyetujui permintaan Ahyoung.

“Kyungsoo, lihat.” Ahyoung menggoyang goyangkan lengan Kyungsoo sambil menunjuk ke arah penjual aksesoris tak jauh dari tempat mereka berpijak.

“Ayo, kita kesana.” Ahyoung kembali menarik lengan Kyungsoo. Tentu, tanpa persetujuannya. Kyungsoo memandang banyak benda yang terpajang ditoko kecil yang sedang ia kunjungin. Semua barang-barang di sini hanya menonjolkan satu tokoh yang terasa tak asing di matanya. Ia menyipitkan mata bulatnya membaca tulisan dengan aksara latin yang tertera di Banner. Rillakuma. Boneka beruang lucu yang menggemaskan di jual dengan berbagai jenis barang. Ah ya! Kyungsoo ingat, Chanyeol hobi mengoleksi benda dengan embel-embel ‘Rillakuma’ di kamarnya.

“Kyungsoo, lihat, boneka ini berpasangan.” Kyungsoo mengalihkan pandangannya mengikuti arah penglihatan Ahyoung tengah memandang sepasang boneka dengan warna cokelat tak jauh darinya.

“Kau tidak berniat membelikannya untukku ‘kan?” Tanya Kyungsoo. Ahyoung megembangkan senyumnya dan berkata,

“Tentu saja tidak,” Kyungsoo menghela nafas lega mengingat harga boneka itu tidak main-main.

“tapi, kau yang akan membelinya.” Ujar Ahyoung tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari boneka beruang tersebut. Kali ini Kyungsoo mendengus.

“Sebenarnya aku tidak begitu menyukai boneka. Tapi, entahlah boneka ini begitu berbeda di mataku.” Ahyoung tersenyum sambil mendekap boneka yang akan menjadi miliknya itu. Kyungsoo mengeluarkan dompetnya mengecek lembaran uang yang tersisa. Oh, Tidak! Kau dalam masalah Kyungsoo.

“Uangku-Ya!” Kyungsoo berhenti berucap setelah melihat Ahyoung pergi meninggalkannya sembari membawa sepasang boneka yang akan dibelinya  kepada wanita paruh baya sebagai kasir.

“Terima kasih, Bibi.” Ahyoung kembali ke hadapan Kyungsoo dengan senyum yang tak jauh mengerikan dari senyuman milik guru matematika killer-nya. Namun, Entahlah, itu membuat jantung Kyungsoo memompa darahnya lebih cepat.

“Ini.” Sebuah boneka Rillakuma tersodor dihadapannya. Kyungsoo mengerutkan keningnya memandang boneka tersebut bingung.

“Aku ini laki – laki!”

“Ck! Aku sudah membelikan untukmu! Lalu memangnya kenapa jika kau laki – laki ? Tak ada undang – undang melarang laki – laki mempunyai boneka.”

“Kau simpan untuk koleksi mu saja.” Kyungsoo tetap menolak.

“Ambil atau aku adukan pada Ibu mu?” Kali ini Ahyoung mengancam. Ia tersenyum miring melihat pria itu dengan kasar merampas boneka di tangannya. Ia tau kata – kata tadi paling akurat dalam masalah seperti ini.

“Dasar tukang adu!” Ahyoung hanya mencibir dan kembali melanjutkan perjalanannya.

“Besok kau harus mengganti uangku!.”

.

.

.

Kaki – kaki mereka mulai terasa pegal dan perut merekapun sudah terasa penuh. Seharian mengelilingi pasar Myeongdong benar – benar membuat mereka kelelahan. Matahari senja kini tak terlihat sinarnya karena di tutupi awan kelabu. Cuaca musim dingin yang tadinya cerah sudah kembali seperti semula. Mendung dan berawan. Hawa dingin kian menusuk sebagai tanda hujan akan kembali turun. Kyungsoo dan Ahyoung berinisiatif untuk segera kembali pada mobil mereka saat merasakan tetesan kecil air pada kulit mereka.

Beberapa menit yang lalu Ahyoung mendapat telepon bahwa harus menginap di rumah Kyungsoo karena di rumah tak ada siapapun. Orangtua nya sedang dalam perjalanan keluar negeri sedangkan para pembantu mengambil cuti untuk natal bersama keluarga mereka masing – masing, dan kakaknya yang sedang berada di Jepang, membuatnya mau tidak mau menginap meski berani untuk tinggal sendiri dirumah.

Kyungsoo mendengus. Lagi – lagi ia mengemudi di tengah derasnya hujan. Ia tak akan bisa sampai di rumah dengan cepat bila badai datang. Resikonya akan sangat besar bila ia mengemudi di atas 40km/s. Jalan mulus kota bisa menjadi licin jika hujan. Tapi, kali ini Kyungsoo harus mengucapkan rasa syukur pada Tuhan, karena gadis dengan mulut yang mendapatkan perhatian khusus itu—Cerewet– sedang tertidur pulas di sampingnya. Itu sedikit menenangkan bagi Kyungsoo. Semakin Kyungsoo melaju badai yang datang semakin besar. Entah karena angin yang semakin bertiup kencang atau petir yang menggelegar kian menjadi. Kyungsoo harus berhati – hati. Bayangan berita yang di tontonnya pagi hari terbesit di bayangannya. Bagaimana kalau pohon-pohon besar di sisi jalan yang ia lewati tersambar petir lalu menindas mobilnya? Atau bagaimana jika mobil yang mereka tumpangi terjungkal karena tiupan angin badai? Atau–

“Kyung,” Ahyoung yang baru saja terbangun sedang mengucak matanya. Ia melihat kesekeliling, dan matanya hanya mendapati Kyungsoo sedang menyetir juga badai di luar jendela sana. Begitu kepalanya menoleh ke depan, mobil Kyungsoo memasuki sebuah rumah dengan melewati gerbang besar berwarna hitam yang menjulang.

“Kau tunggu sini.” Kyungsoo mematikan mesin mobilnya lalu mengambil sebuah jas hujan dari kursi belakang mobilnya dan keluar membelah hujan. Ahyoung hanya menatap Kyungsoo kosong dan tak merespon. Otaknya sedang loading karena efek baru saja bangun tidur. Tak sampai beberapa menit ia mendengar pintu di sebelahnya terbuka. Ahyoung menengok, melihat Kyungsoo berada di balik pintu tersebut.

“Ayo keluar.” Suaranya seakan teredam oleh derasnya hujan membuat Ahyoung hanya mentap Kyungsoo bingung. Kyungsoo berdecak. Ia segera mengambil tindakan menarik tangan Ahyoung–sedikit–kasar, membuat tubuh mungil Ahyoung menabrak tubuhnya.

Seakan nyawa Ahyoung terkumpul seketika. Jantungnya detik itu juga memompa darahnya dengan cepat hingga dirinya merasakan setiap desiran darah yang mengalir dalam tubuhnya.

“M-mau apa kau?” Cicit Ahyoung saat merasakan sebuah tangan besar merangkulnya dengan possesive lalu menggiringnya menuju rumah besar di depan sana. Aroma maskulin khas Kyungsoo menusuk indera penciumannya membaur dengan aroma tanah basah.

Begitu juga dengan Kyungsoo, feromon yang menguar dari tubuh Ahyoung membuat dadanya berdetak abnormal.

 

___

 

“Kyung,”

“Hm ” Kyungsoo yang sedang berkutat dengan permainan di Gadget-nya hanya bergumam menanggapi panggilan Ahyoung.

“Bukankah ini naskah dramaku? Mengapa bisa ada di rumah mu?!” Kyungsoo bisa merasakan ranjangnya terisi seseorang selain dirinya. Dan benar saja, setelah itu kupingnya berdengung mendapatkan suara cempreng meninggi dari gadis di sampingnya. Kyungsoo mem-Pause Game yang sedang ia mainkan dan menatap Ahyoung yang sedang menatapnya marah.

Kyungsoo terkekeh. Bukan karena raut wajah Ahyoung yang sedang kesal. Melainkan bajunya yang di pakai Ahyoung terlihat begitu besar dan hampir menenggelamkan tubuh kurus Ahyoung.

“Apa yang tertawakan, huh?!” Tanya Ahyoung galak. Kyungsoo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Maaf. Aku lupa mengatakan padamu kalau naskah dramamu tertinggal di mobil.” Kyungsoo kembali mengalihkan matanya menuju Gadget yang ia mainkan dan melanjutkan Game-nya yang tadi sempat terjeda.

“Kau tahu?! Seberapa khawatirnya aku saat naskah itu hilang!” Nada Ahyoung kian menaik. Tapi, itu malah terdengar seperti merajuk di teling Kyungsoo.

“Jangan berlebihan! Kau bisa mem-Fotocopy milik temanmu.” Ucap Kyungsoo santai.

“Sebagai permohonan maafmu, kau harus menemani dan mengajari ku latihan drama malam ini.”

“Tidak.” jawab Kyungsoo cepat masih fokus pada permainan.

“Harus!”

“Tidak.”

“HARUS!” Teriak Ahyoung kencang. Kyungsoo terjolak dan hampir saja membanting Gadget-nya kalau saja ia tak ingat betapa mahalnya–bagi Kyungsoo–membeli barang tersebut. Kyungsoo menggeram kesal, ia menatap Ahyoung yang tak kalah kesal darinya.

“Bisa tidak sehari saja kau tidak berisik?!” Ahyoung menengguk liurnya melihat sebuah porselan wajah yang begitu, ah! Ahyoung tak bisa menjelaskannya. Yang pasti saat ini wajah Kyungsoo berada kurang dari lima senti dari wajahnya.

“Kyungsoo, apa yang kau-”

“Dan jika ku katakan tidak ya tidak, mengerti?!” Hembusan nafas Kyungsoo dapat Ahyoung rasakan. Nafasnya tiba-tiba tercekat saat Kyungsoo semakin mendekatkan wajahnya dan membuat mata bulat Ahyoung semakin membesar.

“Jangan macam-macam” Cicit Ahyoung.

“Kalau kau bisa diam dan tidak membuat keributan aku tak akan macam-macam padamu. Tapi, jika iya, aku bisa melakukan lebih dari yang kau bayangkan.” Kyungsoo menyeringai. Ahyoung mendorong dada Kyungsoo. Membuat tubuh pria itu sedikit terpental.

“Kau pikir wajah dan perkataanmu tadi membuatku takut, huh?” Ahyoung meliapat tangannya di dada menatap Kyungsoo remeh.

“Kau menantang ku? Aku ini laki-laki normal!”

” Mana ada laki-laki normal tidak bisa berkelahi, buruk dalam pelajaran olahraga dan kau-akh Ya! Apa yang kau lakukan, huh?”

“Sudah ku katakan aku ini laki-laki normal!” Kyungsoo kembali pada posisi sebelumnya. Kau tidak boleh main-main dengan Do Kyungsoo, Park Ahyoung.

“Aku hanya menguji mu. Bukan bukan ! Maksudku aku hanya bercanda ! Kau- ” Mata Ahyoung kian melebar.

Perutnya seperti terdapat beribu kupu-kupu terbang disana.

Kyungsoo membuktikan perkataannya.

Sebuah benda basah menempel pada bibir Ahyoung.

Kyungsoo menciumnya!

Jantung Ahyoung kembali tak normal. Bibir tebal Kyungsoo bahkan tak lagi hanya menempel di sana tapi bergerak-gerak melumat bibir tipis gadis di pelukannya. Perlahan Ahyoung menutup matanya menikmati setiap lumatan yang Kyungsoo berikan walau tak membalasnya.

Kyungsoo menahan tengguk Ahyoung dan mengelus punggungnya lembut. Mungkin Ahyoung terlalu terbuai dengan ciumannya sampai tak menyadari kalau posisinya benar-benar dalam bahaya. Ahyoung bersandar pada Dashboard ranjang di bawah sana, sedangkan Kyungsoo berada di atasnya dengan kedua tangan yang menahan berat tubuhnya dan menahan tengguk Ahyoung. Kalau Kyungsoo tahu faktanya bahwa yang sedang mereka lakukan adalah ciuman pertama Ahyoung mungkin ia akan tertawa dan benar bahwa gadis itu tak memiliki pengalaman berciuman.

Dan lebih baik kita biarkan menikmati waktu dengan momen yang indah ini dan jangan sampai ada yang-

“Astaga.”

Melihatnya.

Seketika Ahyoung kembali mendorong tubuh Kyungsoo membuat tautan mereka terlepas. “I-ibu”

Nyonya Do masih mematung disana. Bahkan matanya masih menatap sepasang manusia itu tanpa berkedip.

“I-ini tidak yang sep-” Kyungsoo mencoba menjelaskan walau mulutnya tergagap – gagap, takut-takut ada hal buruk akan terjadi setelah ini.

“Aku akan menghubungi Minna untuk segera mempercepat pernikahan kalian menjadi setelah lulus sekolah nanti.” Nyonya Do berucap dengan suara tertahan. Minna, tak lain adalah ibu Ahyoung.

“Tapi, Bu-”

“Jangan menolak. Aku tak mau kau menghamili Ahyoung sebelum menikah.” Mata Kyungsoo sukses ingin keluar dari tempatnya. Ahyoung yang sedari awal kedatangan Nyonya Do menundukan kepalanya, kini mendongakan wajahnya. Apa ? Menghamli ?.

“Ibu aku tidak- ”

“Bibi, Kyungsoo tidak- ”

BRAK!!

Ucapan mereka terhenti kala pintu kamar Kyungsoo tertutup dengan kencang, mereka membeku seketika.

“Aku tak mau menikah sebelum lulus kuliah,” Gumam Ahyoung masih memandang pintu kayu berwarna cokelat tua itu dengan tatapan kosong.

“Aku juga tak ingin menikah sebelum menjadi Chef terkenal.”

“apalagi menikah dengan pria sepertimu.”

“Ya, kau juga bukan tipe ku. Aku tak mau mempunyai istri pemalas, ceroboh dan berisik.” tambah Kyungsoo.

” Yak! Apa kau baru saja mengataiku pemalas, ceroboh dan berisik ?. ” Amuk Ahyoung berkacak pinggang. Kyungsoo yang tak mau kalah ikut berkacak pinggang memandang Ahyoung remeh.

“Bukankah itu kenyataan?”

“Ini semua salah mu. Kalau saja kau tidak men-” Ahyoung menggantungkan perkataannya. Wajahnya benar-benar merah.

“Apa?”

“Argh! pokoknya ini salahmu! Dasar Byuntae.

“Kau yang memancingku! Kan aku sudah katakan bahwa aku Laki-laki normal. Dan aku membuktikannya tadi.”

“Jangan bahasnya lagi!” Kesal Ahyoung lalu ia beranjak dan meninggalkan Kyungsoo di kamar. kenapa harus Kyungsoo yang menjadi pertama? Argh!. Ahyoung mengacak rambutnya dan memberikan beribu sumpah serapah pada Kyungsoo.

 

.

.

.

Nyonya Do menutup pintunya dengan kasar menimbulkan debuman yang keras.

” Kenapa bisa berjalan semulus ini ? Aku harus menelfon Minna untuk mempercepat pernikahan mereka.” Nyonya Do menyeringai dan berjalan ke kamarnya dengan hati berbunga.

Nyonya Do baru saja pulang dari supermarket karena terjebak hujan, dan salah satu pelayannya mengatakan bahwa Kyungsoo sudah pulang bersama Ahyoung dan mereka berdua berada di kamar. Berniat untuk menyuruh mereka makan, karena itu Nyonya Do menghampiri kamar Kyungsoo dan melihat kejadian itu.

Ia harus menyampaikan kabar bahagia ini pada suaminya dan tentu saja keluarga Park juga.

“Anak muda jaman sekarang.”

 

 

Kkeut–

Advertisements

25 thoughts on “You’re The First, Kyungsoo!

  1. emaknya pura” kaget padahal momennya udh dinanti bener biar cpt nikahin hahaha makanya ahyoung jgn suka nntangin cowo, kl udh bgni kan bakal nyambek ke yg laen 😂

    Like

  2. Pingback: Elfeetoile26
  3. Ngegenk bareng ChanBaek: Cieee yang pertama cieeeee, cieeeee, cieeee…..
    *bugh* sendal rumahan Ahyoung-Kyungsoo neplok di kepala….ahahah,abaikan.

    Kyungsoooo, uuuush gregetan banget aku sama karakter kau di ff ini, kaya Kyungsoo di real life, persis banget….
    Tangled? Ahahaha gue aja atuh yg jadi Rapunzelnya biar tak cium-cium tuh si magnae setan Sehun, yehet…
    Yaaah secene first kiss itu emang paling daebak, disemua cerita dan masing2 punya kekhasannya. Paling penting adalah sangat untung yg mengambil pertama adalah pemeran utama pria yg akan jadi jodohnya….huhuhu

    Like

  4. ff ini seru tpi msh ad beberapa typo yg hrs d perbaiki. fighting! jgn bosen nulis ffnya ya gw selalu nunggu ff lo kok.:-D

    Like

  5. gak tau kenapa bisa nyasar disini haha
    tapi gapapa nyasarnya membawa berkah kok 😂

    aku sebenernya gak pernah baca ff kyungsoo.. tapi setelah baca ff disini langsung suka kkk
    apalagi cerita yg berseries ini 😁😁

    aku lanjut baca ya hehe

    Like

  6. Ekhm… yg sdh ciuman, cieee… gpp, cinta dtg karena terbiasa.. Semangat Ny. Do! Semoga rencananya berhasil! Kkk~ 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s