Stay I [Stay]

stay 

Elfeetoile © 2016

© Poster : Alkindi

Starring with : Do Kyungsoo [EXO’s D.O]  Park Ahyoung [OC/You] | Also Support : Kim Jongin [EXO’s Kai] Min Hwayoung [OC] | Genre : Hurt Marriage Life |Rating : 18+ WARNING!!! | Lenght : Chapter | DisclaimerThis Story Line Is Mine Please Don’t Copy Paste

___

 

Udara dingin menyergap tubuhku yang hanya berbalut sehelai handuk sebatas dada dan paha yang di terpa oleh rendahnya suhu AC. Aku melangkah menuju lemari pakaianku yang terdapat di sudut ruangan tepat di samping sebuah ranjang. Mataku yang masih merasa sedikit perih akibat terkena air, dapat melihat manusia yang tampak tenang terlelap di balik selimut. Terkadang aku suka melihatnya tertidur. Memandang wajahnya yang membuat hatiku damai. Karya Tuhan sungguh luar biasa. Meski wajah itu terlihat lelah tapi kadar ketampanannya tak berkurang sedikitpun. Dan aku sedikit merasa keheranan saat melihat tubuh polosnya yang hanya terbalut selimut tipis itu tak merasa kedinginan sedikitpun.

Kegiatanku berakhir saat lenguhan itu tertangakap oleh indera pendengaranku. Segera tanganku meraih pintu lemari dan membukanya agar menghalangi tubuhku.

Ku ambil beberapa lembar baju sebelum ke kamar mandi untuk menyalin pakaian. Kakiku kembali tergerak menuju kamar mandi tapi, terhenti saat merasakan sebuah tarikan dan tangan yang melingkar pada pinggangku.

“Pagi.”Apa kalian pikir ini ucapan hangat seorang suami pada istrinya?

“Pagi.”Aku membalasnya dengan intonasi yang sama. Dingin.

Dan selanjutnya yang terjadi adalah bibirku dilumat olehnya. Jantungku kembali berdetak tidak normal. Tidak ada spesial dari pagi ini. Pagi ini sama seperti pagi sebelumnya. Selalu seperti ini. Jantungku belum terbiasa dengan perlakuannya.

Dia melepas tautannya dan melenggang menuju kamar mandi membuatku mau tak mau untuk berganti baju di sini.

___

Pintu kamar berderit tepat setelah aku menghidangkan menu sarapan yang terakhir. Kyungsoo keluar dari kamar dan melenggang dengan kaos putih dan celana hitamnya mendekat padaku. Tanpa di beri perintah ia mengambil bangku yang biasa ia duduki saat makan berlangsung. Aku membalikan piringnya dan mengambil nasi beserta segala macam lauk pauk yang ku masak. Aku tetap istrinya meski mungkin ia tak menganggapku begitu.

Kyungsoo hanya diam menatap piringnya yang sudah terisi makanan yang pas untuk porsinya. Seperti biasa, ia hanya terdiam saat makan. Ibu mertuaku bilang itu memang sudah kebiasaannya.

Kyungsoo adalah pria yang satu tahun lebih tua dariku, mengikat janji suci denganku di hadapan Pendeta, Tuhan dan banyak orang, lima bulan yang lalu. Dia adalah seniorku saat kami menginjak pendidikan sekolah tingkat akhir. Kyungsoo adalah pria dengan latar belakang dan dari keluarga baik-baik. Ayah dan Ayah mertuaku bersahabat, jadi beliau memutuskan menjodohkan kami karena alasan agar mempererat tali persaudaraan. Dan aku Park Ahyoung. Berumur 24 tahun lulusan sastra jepang di Seoul Universty. Aku hanya gadis biasa saat sekolah. Bahkan kami baru menyadari pernah satu sekolah setelah ia melihat seragamku. Dan hobiku adalah membaca serta menulis. Ya, jika ada waktu luang.

“Kau tidak makan?”Tanyanya saat menyadari diriku terlarut dengan pikiran dan tak menyentuh makanan.

“Maaf.” Aku mulai memakan makananku dalam diam.

___

Pergi menuju mini market memang sudah menjadi tugasku saat libur seperti sekarang. Lagipula bahan makanan dalam kulkas hampir habis. Sepertinya berbelanja memang tidak buruk meski hari ini hujan rintik-rintik dari langit kelabu bodoh yang menghiasi kota di musim panas.

Tanganku dengan cekatan meraih berbagai merek makanan yang sudah kutulis di selembar kertas yang kupegang. Mengingat persediaan bahan makanan bulanan sudah menipis mungkin hari ini aku berbelanja sedikit lebih banyak dari biasanya.

Di ujung sana, Kyungsoo terlihat sedang menelisik berbagai macam perlengkapan pria. Tak biasanya ia seperti itu. Mungkin mencari sesuatu.

”Jangan terlalu banyak membeli daging.” Ujar Kyungsoo saat aku membawa beberapa kilogram macam-macam daging yang berada di dalam troli.

“Aku tidak suka jika tubuhmu gemuk.” Lanjutnya lalu kembali fokus pada kegiatan sebelumnya.

Aku hanya bisa menghela nafas dan menuruti perintahnya. Akhir-akhir ini ia sedikit sensitif. Aku kembali pada lorong yang berisi berbagai macam daging dan mengembalikann sebagian daging yang tadi aku ambil.

“Ahyoung-ssi,” Di tengah-tengah kegiatanku tiba-tiba sebuah suara berat mengalun di telingaku . Ku balikan tubuhku agar dapat melihat sang empunya.

”Jongin-ssi.” Aku tersenyum menyambutnya. Jongin membalas senyumku.

”Kau kemari bersama Kyungsoo?”Aku mengangguk dan tersenyum tipis sebagai jawaban. Aku mengerling pada tempat di mana Kyungsoo yang tadi ia tapaki. Ternyata ia menjauh dari keberadaan kami.

“Oppa,” Kepalaku dan Jongin menoleh saat pria di hadapanku di panggil seseorang. Oh, Hwayoung tak lain adalah istrinya datang.

”Hai, Ahyoung-ssi” Sapanya seraya melambaikan tangannya padaku. Aku membalas lambaian dan sapaannya.

”Omong-omong di mana Kyungsoo?” Tanya Jongin celingkan mencari keberadaannya.

”Mungkin, sedang berjalan-jalan sekitar sini.”Jongin mengangguk-angguk mengerti.

”Kebetulan kita bertemu. Ada yang kami ingin sampaikan pada kalian,” Jongin tersenyum lalu melingkarkan tangannya pada pinggang Hwayoung istrinya.

”Datanglah ke pesta kami pada malam minggu depan.”

“Perayaan apa?”

“Memperingati kandungan Hwayoung yang genap 100 hari.”Jongin lagi-lagi tersenyum. Aku terdiam cukup lama dan mungkin terbengong, sampai-sampai Jongin mengibas-ibaskan tangannya di depan wajahku.

”Kau baik-baik saja?” Ucap Jongin membuat kesadaranku kembali. Aku mengangguk seraya mengulas senyumku.

”Maaf. Selamat atas kehamilanmu, Hwayoung. Akan kusampaikan pada Kyungsoo.”

“Terimakasih, Ahyoung. Jangan lupa datang, kami menunggu kedatangan kalian.”

___

Mataku melirik pada Kyungsoo yang sedang bersantai menonton televisi. Dua cangkir coklat panas ku bawakan menuju tempat Kyungsoo berada. Mata bulatnya beralih padaku yang sedang menaruh cangkir di meja dan mendudukan tubuhku di sampingnya dan kembali pada televisi dihadapan kami.

”Apa yang ingin kau bicarakan?” Ucapnya to the point. Otaknya mungkin sangat hafal jika aku melakukan hal seperti ini pasti ada pembicaraan seriusi. Mendengar penuturannya tiba-tiba lidahku menjadi kelu untuk mengatakan. Aku tak tega melihatnya kembali bersedih mendengar hal ini, dan tekanan akan semakin mendesak batinku jika sudah seperti ini.

Hatiku menjadi ragu. Apa yang harus ku lakukan?

“Cepat katakan.” Masih dengan nada datarnya ia berucap. Tenggorokanku mendadak kering saat ingin mengatakannya. Tapi, ini titipan yang harus ku sampaikan.

”Jongin dan Hwayoung ..”Baru saja aku mengucapkan namanya ia langsung menolehkan kepalanya padaku dan menatapku dengan tatapan mengitimidasi.

”Dia mengundang kita ke pestanya.” Dahi Kyungsoo berkerut.

”Pesta?” Aku mengangguk pelan.

”Pesta perayaan 100 hari kehamilan Hwayoung.” Aku menundukan kepalaku tak berani melihat bola matanya yang kian menatapku mengitimidasi.

”Maafkan aku, Kyungsoo. Tapi aku harus menyampaikan pesan ini padamu.” Ujarku pelan.

Kalian tak akan bisa membedakan mana Kyungsoo dalam keadaan senang maupun sedih. Bahkan Ayahnya sendiri tak bisa melakukan itu. Ia terlalu tertutup. Terlalu membatasi diri dari dunia luar. Aku merasa akulah orang kedua setelah Ibunya yang mengerti berbagai ekspresi samar yang terlihat di wajah datarnya. Entah ini perasaanku atau bukan, aku merasa Kyungsoo percaya padaku. Dan saat ia percaya padaku, aku harus siap apa yang terjadi padaku saat hatinya dalam kondisi tidak baik. Ya, aku siap menerima tekanan itu kembali.

Aku mengambil nampan dan cangkir kosong milikku hendak mencucinya. Tubuhku masih merasakan mata itu mengikutiku dengan tatapan tajamnya. Untuk saat ini menjauh darinya adalah hal yang tepat. Tapi, menjauh atau tidak, Kyungsoo akan menarikku untuk melakukan apa yang ia mau saat hatinya sedang dalam kondisi buruk seperti sekarang.

___

Jika aku boleh memilih, aku ingin pergi jauh dari kehidupannya. Atau sekalian saja aku tak usah di pertemukan dengannya.

Sayangnya, aku tidak bisa pergi meninggalkannya. Akan ada banyak hati yang tersakiti jika aku benar-benar pergi dari hidupnya dan mementingkan egoku.

Aku tertekan ? Ya tentu.

Hatiku merasa sakit ? Sangat.

Aku tak tahu apa yang ia pikirkan dan menganggapku apa selama kurun lima bulan ini menjadi istrinya.

Ingin pergi meninggalkannya ? Tentu.

Ini sangat menyakitkan, baik fisik maupun batin. Kyungsoo memang pria yang baik di mata semua orang melihatnya. Pesonanya bahkan menguar luar biasa walau senyumnya di simpan rapat-rapat. Ya, itu bagi semua orang terkecuali aku. Aku tidak menganggapnya sebaik itu walau sebenarnya ia memang baik. Perih rasanya saat aku berbohong pada semua orang di luar sana jika pernikahanku dengannya benar-benar membahagiakan. Tapi, sekali lagi aku tak bisa pergi darinya.

Air mata meluncur membasahi pipiku. Selalu seperti ini. Lelah bahkan tak terasa di sendi-sendiku. Tubuhku seakan mati rasa menghadapinya. Semuanya terasa kebas saat menghantamku.

“Kenapa kau sangat suka menangis,huh?” Mata tajam itu seakan menusuk mataku. Aku mengeratkan cengkramanku saat merasakan sakit yang kembali terasa.

”Maaf.” Hanya itu yang dapat ku katakan. Cengkramanku kian mengerat saat lagi-lagi mendapat perlakuan kasar Kyungsoo.

“Simpan air matamu itu.”Aku memejamkan mataku merasakan lagi yang entah keseberapa kalinya di malam ini ia kembali mengeluarkan cairan yang memaksa masuk ke dalam tubuhku. Tubuhnya ambruk menindih tubuhku. Kyungsoo menariknya dari tubuhku dan menidurkan dirinya menghadap lemari. Memunggungiku.

Tak ada ucapan selamat malam atau terima kasih. Tak ada pelukan possesive yang biasa ku lihat di film-film yang sering ku tonton. Semua itu tak ada. Semuanya sama seperti malam-malam yang kami lalui.

Aku menatap langit-langit kamar. Tak ada objek yang kuindahkan disana. Tatapanku kosong. Aku biasanya mandi setelah ini. Tapi, akhir-akhir ini tubuhku merasa mudah lelah. Bahkan rasanya kaki ku begitu sulit hanya sekedar untuk digerakan. Kyungsoo terlalu kasar malam ini. Tidur terlelap adalah pilihan yang terbaik sekarang.

___

“Kau mau pergi kemana?” Tanyaku keheranan saat di hari libur seperti ini melihat Kyungsoo sudah rapih dengan pakaian setelannya.

“Cepat siap-siap dan temani aku pergi.” Perintah Kyungsoo masih pada kegiatannya menata rambutnya.

Aku mengangguk mematuhinya. Segera aku berjalan menuju lemari dan mengambil beberapa helai pakaian yang akan ku kenakan.

“Memangnya kita ingin kemana?” Tanyaku lagi saat memilih baju. Tentu saja aku bingung harus menggunakan pakaian apa karena tujannya saja tidak tahu.

“Pesta.” Jawabnya cepat. Aku menghela nafas. Pasti pergi kepesta Jongin. Mungkin pria itu memaksa Kyungsoo agar kami datang keacara pestanya. Entah kenapa aku merasa panas memikirkan hal itu. Kyungsoo lebih luluh dengan ucapan Jongin dari pada aku yang ber-notabene istri sahnya. Mungkin ini alasannya ia jauh lebih mudah tersulut emosinya. Padahal tiga hari sebelumnya aku sudah menelepon pada Jongin kalau aku dan Kyungsoo tidak bisa datang. Tapi, apalah dayaku, Kyungsoo masih saja tetap pergi walau hatinya pasti tidak akan baik-baik setelah ini.

.

.

.

Acara begitu meriah. Tepukan para tamu undangan bergemuruh di seluruh penjuru ruangan saat Jongin selesai dengan pidatonya. Jongin dan Hwayoung mendekat pada kami. Kyungsoo tersenyum menyambut pasangan muda tersebut. Ya, aku melihatnya tersenyum meski bukan untukku.

“Silahkan dinikmati hidangannya.” Ujar Hwayoung yang setia menggandeng lengan Jongin. Aku tersenyum lalu meraih segelas jus dari sana.

“Selamat, Jongin.” Kyungsoo memeluk tubuh Jongin erat. Aku bisa melihatnya dan merasakan ia begitu bahagia sekaligus bercampur sedih di sorotan manik matanya.

”Terimakasih.” Jongin tersenyum menyudahi pelukannya. Kyungsoo masih mempertahankan senyumnya. Aku bahkan tak berkedip melihatnya seperti itu. Takut kalau-kalau aku tak bisa melihat senyumnya lagi.

“Kapan kalian menyusul?”Aku tersenyum canggung. Usia pernikahan Jongin dan istrinya memang terbilang lebih muda dari kami, jadi pantas jika Hwayoung mengatakan hal seperti itu.

“Tuhan belum mempercayai kami.” Jawab Kyungsoo tenang. Aku tersenyum miris mendengar hal itu. Pasangan muda di hadapanku ini terkekeh.

“Apakah Kyungsoo kurang hebat saat bermain di- Yak!”Hwayoung menyikut perut Jongin dan membuat kami tertawa. Disisi lain Kyungsoo masih memandang Jongin dalam.

Tawa hambarku hilang. Terlalu sedih dalam hatiku untuk tertawa. Terdapat luka yang menganga di dadaku saat aku melihat Kyungsoo memandangnya dengan pandangan yang tak pernah ku dapat dan ku lihat. Ia hanya tersenyum semanis itu padanya, ia memeluk dengan possessive seperti itu hanya padanya. Ia memberi semua hal termasuk cinta dan hatinya hanya kepada seorang Kim Jongin.

___

Wajah tampak Kyungsoo pucat, bibirnya yang memutih dan kantung mata yang nyaris mirip dengan panda memperkuat.

Ia sering menangis setelah datang ke pesta Jongin beberapa hari yang lalu. Tubuh lemahnya hanya terbujur di atas kasur. Asupan makanannya pun berkurang drastis. Sudah hampir tiga hari ia belum mengisi perutnya. Aku hanya bisa terdiam dan menangis dalam diam, ikut merasakan apa yang Kyungsoo rasakan. Hidupnya seakan hancur kembali.

Kyungsoo pernah mengalami hal serupa sebelumnya. Dan itu bertepatan saat setelah pesta pernikahan Jongin dengan Hwayoung. Bahkan ia sempat terbaring di rumah sakit selama seminggu dan terus menggumamkan nama Jongin.

“Kyungsoo, kau harus makan.” Aku membawa sebuah nampan berisi makanan dan segelas minuman. Meski ia kerap menolak makanan yang ku bawakan tapi, aku takan menyerah. Aku tak mau ia sakit kembali.

Kyungsoo tak bergeming saat suaraku memanggil namanya. Ia masih terlarut pada dunianya sendiri sambil memandangi gemerlap langit malam di balkon dengan tatapan kosong.

“Kyungsoo,” Aku menyerukan namanya sekali lagi dan mendekat padanya setelah menyimpan nampan tersebut di atas nakas.

”Kyungsoo,” Tanganku meraih bahunya. Air matanya mengucur lagi di pipinya.

”Kyungsoo kau ha-”

“Kenapa aku di takdirkan seperti ini?” Lirihnya. Aku membungkam dan menjuntaikan tanganku yang sebelumnya menyentuh pundaknya.

”Tidak ada satupun orang yang menginginkan seperti ku.”Kyungsoo tetap memandang taburan bintang yang begitu indah di langit.

”Tidak ada.” Suara Kyungsoo memelan. Sangat pelan nyaris tak terdengar. Ia menatapku dengan matanya yang memerah.

“Kyungs-” Aku tersentak saat Kyungsoo memeluk tubuhku secara tiba-tiba dan dengan gerakan cepat. Percaya atau tidak, sekarang Kyungsoo benar-benar tampak seperti gadis remaja berumur 17 tahun yang sedang putus cinta. Mungkin hanya aku yang melihatnya seperti ini. Orang-orang  tak akan percaya bahwa Kyungsoo, CEO muda dengan tampang wibawa dan dinginnya, bisa menangis hanya karena Kim Jongin. Pria dengan kulit tan itu memang memberikan efek yang begitu luar biasa pada Kyungsoo. Kyungsoo akan terlihat seperti yang kau tak pernah terpikir sebelumnya seperti, ia akan melebarkan senyumnya yang berbentuk hati itu jika di hadapan Jongin. Tapi, kau jangan harap mendapatkan senyuman itu, karena aku sebagai istrinya selama lima bulan pun belum tentu mendapatkannya. Ia akan repot-repot menemani Jongin makan malam di saat pekerjaannya yang menumpuk di kantor. Dan Kyungsoo akan frustasi, menangis meraung seperti balita berumur 5 tahun dan membiarkan tubuhnya jatuh sakit jika hatinya sakit karena Jongin.

“Kau harus makan.” Ia menggeleng.

Kau tahu? Sekarang aku seperti mengahadapi bayi besar. Kyungsoo tidak manja, tapi sifat keras kepalanya itulah yang membuatku sedikit sulit membujuknya.

Beberapa saat kemudian, Kyungsoo melepaskan pelukannya. Dan berkata bahwa ia tak ingin di ganggu saat ini.

___

Keran air panas dan air dingin menyala mengalirkan air yang bercampur menjadi satu di Bathtub berwarna putih. Kyungsoo melepas semua pakaiannya dan menenggelamkan tubuhnya kedalam bathtub yang sebelumnya air tersebut sudah diukur suhunya. Aku hanya termenung menundukan kepalaku. Tak biasanya Kyungsoo meminta seperti ini. Jelas ini bukan gaya Kyungsoo. Dia biasanya langsung menyerang dan tidak menyukai basa-basi. Ujung gaun tidurku teremas oleh tanganku yang mengeluarkan keringat dingin.

“Kenapa kau diam?” Kata tajamnya menghujam gedang telingaku. Membuat sekujur tubuhku kian merinding. Kepalaku kian menunduk dan ku sembunyikan di balik helaian anak rambutku. Kyungsoo kembali bangkit menghampiriku. Mencengkram lenganku erat namun tidak menyakitkan. Kurasakan daguku tersentuh oleh sebuah tangan besar nan dingin.

”K-kyung,” Bibirku berucap tergagap ketika pundakku menjadi yang ia sentuh selanjutnya. Perlahan kedua tali gaun bahan sutraku ia sampirkan membuatnya merosot dengan mudahnya. Peluh sebiji jagung menetes di pelipisku. Lalu, semua berjalan begitu cepat. Hingga dalam sekejap dadaku menyentuh dadanya tanpa terhalang oleh seutas benangpun saat ia memeluku.

”Kau gendut,” Bisiknya dingin.

”Apa kau masih membeli makanan terbuat dari daging diluar sana?”Aku hanya terdiam tak menimpali pernyataannya.

”Aku tidak suka kau gendut.”

Ya, aku akui tubuhku memang mangalami kenaikan berat badan drastis mencapai 7 kg dalam kurun waktu dua minggu ini dan itu tentu saja berdampak pada tubuh kurusku.

Pelukannya mengendur. Ia menatap mataku dalam, walaupun tak sedalam tatapannya pada Kim Jongin tapi, berhasil membuat aliran darahku kian deras di sekujur tubuhku. Tangan besar Kyungsoo mencengkram pundakku.

”Kau harus diet.” Detik selajutnya Kyungsoo meraup bibirku dan membawa tubuhku kedalam bathtub yang berisi air beraromakan apel.

.

.

.

Aku tak pernah mengalami ini sebelumnya. Setelah ‘percintaan’ kami, Kyungsoo memelukku dengan possessive. Kepalaku bersandar di dada bidangnya. Hangat terasa menjalar ke sekujur tubuhku, meski air dingin merendam tubuh naked kami dan semerbak angin malam dari fentilasi udara kamar mandi. Lelah dan pegal yang menderai tubuhku perlahan menghilang entah kemana perginya. Kami hanya terdiam dalam posisi seperti ini. Berkecamuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Kyungsoo semakin memelukku erat dan menelusupkan kepalanya pada bahuku. Ia kembali menangis. Air matanya menetes di pundak telanjangku. Ini benar-benar percintaan yang benar-benar rumit.

Seandainya orangtuanya tak pernah menyekolahkannya di sekolah asrama pada saat tingkat menengah dan satu kamar juga satu kelas dengan Jongin. Pertemuan yang mereka lalui membuat hubungan semakin dekat. Jongin dan Kyungsoo adalah sepasang sahabat. Jongin selalu mengajarkan Kyungsoo menari dan itu membuat Kyungsoo kagum. Dan Perlahan rasa kagum tersebut mulai menaik level dalam penempatan hati Kyungsoo. Hingga akhirnya Kyungsoo mencintai pria tersebut sampai saat ini. Jongin pernah berkata bahwa akulah wanita pertama selain Ibu dan saudara perempuannya yang mempunyai hubungan dengan Kyungsoo. Jongin juga bercerita bahwa ia sangat senang akhirnya Kyungsoo menikah denganku karena sebelumnya Kyungsoo tak pernah berhubungan dengan perempuan manapun meski banyak gadis yang mengantri mengajaknya kencan atau menembaknya.

Miris, Kyungsoo tak pernah menyatakan rasa cintanya pada Jongin. Itu tidak mungkin! Kyungsoo hanya mengatakan bahwa ia menyayangi Jongin dan Jongin sebagai pria normal tentu saja menganggap itu lumrah sebagai sahabat.

Begitu juga dengan diriku. Nasibku sama seperti Kyungsoo. Menggapai cinta rasanya bak mengharapkan setetes air digurun pasir. Cintaku pada Kyungsoo tak terbalas. Dan mungkin takan pernah terbalas.

“Aku benci Tuhan” Ia bergumam di telingaku. Pelukan kami semakin mengerat dan itu sedikit membuatku sesak.

”Aku ingin menjadi pria normal, Ahyoung!” Mataku terpejam saat mendapat teriakan Kyungsoo didekatku.

”Aku, aku ingin menjadi pria normal.” Suara Kyungsoo kian parau di akhir kalimat. Ia kembali menangis tersengguk-sengguk. Aku hanya wanita biasa bisa melakukan apa selain memberikan yang terbaik untuknya?

Siapa pihak yang patut disalahkan di sini? Orangtua Kyungsoo? Jongin? Atau aku juga harus ikut menyalahkan takdir Tuhan ?

“Kyungsoo,”

“Aku mungkin akan di hajar oleh Ayahmu karena menipu kalian menikahkan putrinya dengan pria sepertiku.”

Ya, Ayah akan memukulmu jika tahu hal ini, Kyungsoo.

“Aku ingin sembuh! Aku .. aku ingin melupakan Jongin! Aku ingin menyukai wanita. Tapi, aku tak bisa” Aku menangkup sebelah pipinya mempertemukan pandangan kami.

”Kau bisa, Kyungsoo.”Ia menggeleng-geleng cepat. Pelupuk mataku tiba-tiba terisi air.

”Aku tidak bisa. Sudah berbagai cara aku lakukan. Bahkan itu sampai melukaimu!”  Nafasku tercekat mendengar hal itu. Ini terlalu menyesakan dada sekaligus melegakan. Setidaknya dia mengetahui apa yang ku rasakan.

”Maaf, aku tetap tak bias.” Akhirnya bendungan di pelupuk mataku hancur. Air mataku kembali mengalir bercampur dengan air mata Kyungsoo.

”Lebih baik kita berpisah saja.” Ujar Kyungsoo pada akhirnya.

Kata-kata ini akhirnya terucap. Kata-kata yang ku tunggu-tunggu sejak lama. Namun, itu tak berlaku untuk sekarang. Benar-benar tidak berlaku. Kenapa kau baru mengatakannya saat semuanya telah terjadi, Kyungsoo?

“Kyungsoo,” Aku mengangkat kepalaku dan menatapnya dalam.

”Terlalu banyak perasaan yang ku sakiti jika aku tetap bersamamu, Ahyoung. Terutama dirimu sendiri.” Aku menggeleng. Kyungsoo menangkup wajahku dan menghapus air mataku.

”Kau salah, Kyungsoo! Orangtua kita akan kecewa jika kita berpisah.”

“Tapi, akan lebih menyakitkan kalau mereka sampai tahu apa yang terjadi padaku.” Kyungsoo benar. Perkataannya tak ada yang salah. Namun, itu berlaku jika ia tak mengetahui segalanya. Kyungsoo tak mengetahui apa yang harus ia ketahui.

Aku menggigit bibir bawahku memejamkan mataku erat-erat. Jantungku kembali berdegup dengan kencang, bahkan kedua tanganku mengepal hanya untuk mengatakan ini. Mengatakan kenyataan yang harus Kyungsoo ketahui.

“Ka-kau harus tahu ada seseorang yang lebih terluka dari orangtua kita dan diriku sendiri.” Aku terisak keras. Kyungsoo menghentikan tangisnya. Ia mengerutkan dahinya melihatku yang mungkin terlihat aneh di matanya. Aku menggenggam tangannya dan mengarahkan pada salah satu bagian tubuhku.

”Dia, dia sangat membutuhkanmu. Ia akan menjadi pihak yang paling tersakiti jika kita berpisah. Apa kau tega ia lahir dan tumbuh tanpa seorang Ayah?”

Perasaan nyaman menjalar ke seluruh tubuh. Ia merasakan kehangatan di dalam sana. Kehangatan seorang Ayah belum pernah ia rasakan. Perutku seakan berputar-putar. Dan hatiku lega sudah mengatakan apa yang harus aku katakan padanya. Setidaknya aku sudah memberi tahu keberadaannya meski pada akhirnya entah itu di terima, tak di acuhkan atau bahkan di buang.

“Ba-bagaimana bisa?” Dengan wajah terheran-heran Kyungsoo bertanya padaku. Tangannya masih menempel pada perutku.

Aku terdiam. Masih sibuk menikmati sentuhan tangan besarnya. Aku dan dia bahagia. Sangat. Hingga tanpa sadar aku menarik ujung bibirku dan membuat lengkungan.

“Ahyoung,”

“Biarkan seperti ini, sebentar saja.” Mataku terpejam. Luka hatiku yang menganga tertutup dan sembuh sejenak saat mendengar berita itu. Saat aku memeriksakan diri kerumah sakit dan dokter mengatakan dia sudah berusia dua bulan di dalam sana. Walaupun, terkadang aku harus terbangun di tengah malam hanya menuruti semua permintaannya. Tapi, aku bahagia. Dan permintaannya yang begitu sulit ku wujudkan, kini terkabul. Ia menginginkan ini. Menginginkan sentuhan sang Ayah.

“Setidaknya kau harus menjadi seorang Ayah yang baik untuknya meski kau tidak mencintaiku.”

Advertisements

22 thoughts on “Stay I [Stay]

  1. Ff nya keren bgt kak. Aku kira Kyungsoo nya suka sama Hwayoung, tapi ternyata si Kyungsoonya suka sama jongin. sedih banget Ahyoungnya dikasarin. Tpi gpp Kyungsoonya kan pengen sembuh :3. Ttp semangat ya kak, fighting.

    Like

  2. Pingback: Elfeetoile26
  3. Pingback: Elfeetoile26
  4. Jadi Kyungsoo suka Jongin kirain dia patah hati karena istrinya Jongin pantes klo ketemu Jongin sumringah bgt htiku tersakiti sekali. Istri cuma dianggap pajangan mau enak doang.

    Like

  5. hah ternyata kyungsoo itu gay 😱
    ayo kyung kau bisa berubah. ada ‘dia’ yg membutuhkanmu.
    setiap baca ff kyungsoo rata rata sifat dia dingin banget. tapi itu yg bikin gregetan 😆

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s