It’s Our Fate? #1 [Meet Again]

PicsArt_07-17-04.01.23

Elfeetoile © 2016

Starring With : Park Ahyoung [OC/You] Do Kyungsoo [EXO’s D.O.] Park Jisoo [OC] | Genre : Family, Romance, Sad, Comfort, Marriage life slight! | Rating : PG+17 | Lenght : Chapter | Disclaimer : This Story Line Is Mine, Please Don’t Copy Paste!

Recommended Song :

Shawn Mendels – Stitcehes & Westlife – More Than Word.

.

.

.

“You Can Call It A Fate, If You Already Work Hard.

.

It’s Our Fate #1 [Meet Again]

___

Berdiri dan berbicara di depan banyak orang bukanlah hal yang sulit dilakukan oleh wanita berusia 30 tahun bernama lengkap Park Ahyoung. Dia wanita karier yang menawan. Menawan dalam artian banyak hal, contohnya saja di umur yang masih tergolong muda ia sudah membangun perusahaan di pinggiran kota, perusahaan konsultan desain rumah dan interior yang sudah berdiri selama empat tahun yang cukup diminati oleh banyak orang. Park Ahyoung juga memiliki paras yang cukup, tidak secantik menekin, namun enak jika dipandang bagi setiap orang, proposi tubuhnya pun pendek namun pas dan memiliki mata jernih dengan iris hitam mengkilat jika terkena terpaan cahaya sinar matahari sekalipun. Selain itu, ia adalah pribadi yang memerhatikan kesejahteraan pegawai-pegawainya dan murah senyum.

Terlihat dua orang berpakaian formal sedang berjalan di sekitar basement. Wanita dengan blazer hitam itu mendekat pada mobil putih kesayangannya, sedangkan wanita berkemeja putih yang lebih tinggi dari wanita ber-blazer hitam mengekori langkahnya.

“Besok kau harus benar-benar atur jadwalku.” Wanita berkemeja putih itu mengangguk. Lalu, membukakan pintu mobil untuk sang direkturnya itu.

“Hati-hati di jalan, Mistrees.” Ucap Sekertarisnya itu membungkuk pelan saat dirinya hendak berlalu.

“Jangan lupa, senin depan aku ada janji jam sebelas.” Sang direktur kembali mengingatkan sebelum akhrinya benar-benar pergi.

“Baik.”

Setelah itu mobilnya melaju membelah jalanan yang sisinya di tumbuhi oleh rindangnya pepohonan yang daun-daunnya sudah berubah warna kecoklatan dan sebagian besarnya sudah jatuh ke tanah. Musim gugur sudah berada di penghujung, terasa pada udara yang akhir-akhir ini semakin dingin.

Langit yang sedari pagi mendung kini meneteskan titik-titik air bervolume besar yang menghujam tanah tanpa ampun. Hujan kembali menunjukan eksistensinya memberkahi setiap makhluk hidup di bumi, dan kini tampak lebih deras dari hari sebelumnya. Suhu udara kian menurun, membuat Ahyoung kian mengeratkan pakaiannya. Ugh! Ia lupa membawa pakaian hangatnya.

Mobil berwarna putih tersebut melambatkan lajunya sebelum akhirnya berhenti di depan gedung yang terlihat ramai.

Ahyoung keluar dengan payung bening yang melindunginya. Indera penciumannya bisa merasakan aroma tanah basah yang menusuk begitu ia menginjakan kakinya. Aroma paling menenangkan-versinya-dari sekian aroma terapi yang mahal sekalipun. Ia menyukai hujan, rasanya kedamaian merasuk kedalam dirinya saat mendengar tiap tetesannya yang jatuh dari langit dan mencium aromanya.

“Ibu!”

Suara familiar yang menyeruak dan tertangkap oleh telinganya itu sukses membuat langkahnya terhenti. Kini giliran penglihatannya berpendar mencari sang pemilik suara tersebut.

Seorang bocah lelaki berjaket biru melambaikan tangannya ketika pandanganya bertemu dengan Ahyoung. Wanita itu tersenyum lalu segera mendekat dan memberinya pelukan hangat.

“Apa menunggu lama?” Bocah lelaki itu menampakan senyumnya dan menggeleng.

“Tadi, Guru Jo mengadakan sedikit rapat dengan kelas kami.”

“Rapat?” Kerutan pada dahi Ahyoung itu terlihat. Bocah lelaki itu mengagguk.

“Rapat untuk menggantikan Chisoon sebagai ketua kelas yang pindah sekolah.”

Ahyoung mengangguk mengerti. Ia menggenggam lengan putranya itu menggiringnya menuju mobil.

Dan ada satu fakta yang semua pegawai di perusahaannya tahu kalau Park Ahyoung sang direktur mudanya itu adalah single parent beranak satu.

___

Langit gelap malam telah menghampiri, tanpa bintang dan bulan yang menyapa bumi. Hanya bunyi rinai hujan yang seharian ini belum juga berhenti menjadi lagu pengantar tidur. Meski tanpa dua benda langit indah itu, malam ini terasa sangat nyaman dan indah. Ya, jika saja listrik di apartemant di mana ia tinggal berfungsi baik.

Ahyoung dan Jisoo-putranya-memilih berdiam di tenda yang sengaja dibuat dari selimut, seprai dan beberapa kursi sebagai rangka atau penyangga. Senter yang menjadi penerangan satu-satunya, sengaja di sangkutkan di tengah langit tenda. Dulu, sewaktu tinggal di rumah sewa, Ahyoung dan Jisoo sering melakukan ini, karena di rumah sewa sering terjadi pemadaman listrik saat hujan berlangsung. Tempat tinggalnya sekarang adalah apartemant yang sedikit mewah, jadi jarang sekali pemadaman listrik terjadi di sini.

Dan jika sedang seperti itu, mereka akan menghabiskan semalaman untuk bercerita, bercanda dan hal lainnya sampai tertidur. Maka dari itu, Ahyoung dan Jisoo sudah menyiapkan kasur lipat, beberapa bantal dan selimut tebal. Juga beberapa minuman dan makanan ringan sebagai camilan.

“… Now that I’m without your kisses I’ll be needing stitches~” Ahyoung bersorak saat Jisoo menyelesaikan lagunya. ” Suara Jisoo sangat indah.” Ahyoung mencubit kedua pipi Jisoo. Ia bangga putranya bisa menyanyikan lagu bahasa asing dengan benar dan juga dengan suara bak emas di umurnya yang masih sembilan tahun itu. Jisoo memang suka dan pandai menyanyi, bahkan di sekolahnya, Jisoo kerap mengisi acara dengan bernyanyi.

“Jisoo juga sudah hafal lagu kesukaan ibu.”

“Benarkah?”

Jisoo mengangguk. “Eum.” Jisoo kembali mengangkat botol yang bertransformasi menjadi mikfon malam ini.

Sayin “i love you” is not the words i want to hear from you. It’s not that i want you not to say but if you only knew. How easy it would be to show me how you feel~ More than words is all you have to do to make it real then you wouldn’t have to say that you love me cause’ i’d already know~” Ahyoung melanjutkan bait lagu tersebut dan mereka bernyanyi bersama-sama. Mereka terlarut dalam kebahagiaan.

Yeay!” Ahyoung kembali mengeluarkan tepukan tangannya saat lagu sudah berakhir.

“Bagaimana dengan latihan teater untuk acara pentas seni senin besok?” Tanya wanita itu setelah memutuskan menyudahi acara karaoke-nya. Ahyoung dan Jisoo beralih posisi menjadi berbaring di balik selimut.

“Tadi siang, kelas kami melakukan rehearsal, dan kata Guru Jo kami sudah melakukannya cukup baik.”

“Benarkah?”

“Ya.” Kepala hitam itu bergerak.

Tanpa diduga, Jisoo bangkit dari tidurnya dan berlutut lalu berkata, “Wahai Cinderella, maukah kau menikah denganku?”

Ahyoung terkekeh melihat tingkah putranya itu. Jisoo memang anak yang sulit diprediksi, seakan ia selalu diberi kejutan oleh sang putra. Sama seperti ayahnya.

“Apa itu termasuk dari naskah teaternya?”

“Tentu saja. Aku berperan sebagai pangeran.”

Jisoo suka bercerita, dan Ahyoung senang menjadi pendengarnya. Cerita tentang sekolah dan apapun yang ia lakukan di luar pengawasan sang ibu. Seolah itu adalah laporan sangat penting. Ya, itu memang sangat penting untuknya sebagai ibu.

“Guru Jo mengatakan, kita boleh mengundang ibu, ayah, adik, kakak, pokoknya semua anggota keluarga boleh melihat pertunjukan kami.”

“Ibu sudah menerima undangan dari Guru Jo dan Ibu akan datang.”

“Eum, Ibu harus datang. Jisoo sering mendengar cerita Sarang tentang dirinya yang ingin bersama ibunya. Sarang tinggal bersama ayahnya sejak kecil dan ia tidak pernah bertemu dengan ibunya. Tapi, tadi, ibu Sarang datang ke sekolah dan menjemputnya pulang.”

Ahyoung hanya diam. Ia tahu kemana arah pembicaraan putra semata wayangnya itu.

“Apa ayah juga bisa seperti ibu Sarang?”

Tepat sasaran.

“Kita sudah membicarakan ini sejak lama, Jisoo. Dan ibu sudah berkali-kali mengatakan kalau ayah tidak ada. Kau hanya punya Ibu, nenek dan Bibi Jung.”

“Kalau ayah tidak ada, bagaimana bisa aku lahir? Guru Jo mengatakan kalau makhluk hidup memerlukan sepasang untuk bisa melahirkan seorang anak.”

Ahyoung menghela nafasnya. Oh, ia baru ingat kalau putranya kini berumur sembilan tahun, di kelasnya pasti sudah belajar hal seperti itu.

“Ibu tidak mengatakan Jisoo tidak punya ayah. Jisoo punya, hanya saja sudah tidak ada.”

Jisoo menundukan pandangannya. Ia tahu ibunya tidak suka pembahasan ayahnya. Tapi, bukankah itu haknya untuk tahu siapa ayahnya?

“Apa ibu punya fotonya? Aku hanya ingin tahu wajah ayahku.”

Ahyoung hanya menggeleng, ia memeluk erat putranya. Memberikan kehangatan sekaligus ketenangan pada setiap inci sentuhan kulitnya.

“Lebih baik kau tidur. Bukankah besok kau ada janji bermain bersama Sarang ke taman?” Jisoo hanya bergumam sebelum akhirnya memejamkan matanya.

Kau memang bodoh, Park Ahyoung.

Ia tidak akan mengira bahwa Jisoo akan terus menerus membahas ayahnya. Dirinya hanya mengajarkan bahwa Jisoo hanya punya ibu, nenek dan bibi Jung sebagai keluarga. Seharusnya ia tidak memasukan Jisoo di sekolah formal, kalau ia memberi Jisoo sekolah privat ia yakin tidak akan seperti ini jadinya.

___

Pagi-pagi sekali Jisoo sudah rapi. Jaket tebal, syal, dan topi rajutan warna biru. Tak lupa juga celana hangat dan sepatu berwarna hitam membalutnya.

Kakinya yang semakin hari semakin memanjang itu merajut langkah demi langkah menuju taman dekat apartemant di mana ia tinggal.

Jisoo mendekat pada sesosok gadis kecil berpakaian hangat serba merah muda yang sedang terduduk manis di bangku yang tersedia.

“Ayo.”

Kepala Sarang mendongak menatap Jisoo di hadapannya. Tak lama senyum tersungging di bibir tipisnya. Sarang menerima ajakan Jisoo dan mereka berjalan beriringan.

Sinar matahari membanjiri kota Seoul begitu terasa. Udara sedikit hangat pagi ini, membuat para penduduk kota menghabiskan akhir pekannya di luar rumah. Entah itu sekedar berjalan-jalan atau berolahraga atau bercengkrama bersama kerabat.

“Aku pikir janjiku ini bisa sedikit diundur.” gumam Jisoo. Sarang mengedikan kedua bahunya.

“Kau kan berjanji akan membelikan es krimnya hari ini.”

“Aku tahu. Tapi, kau yakin tidak akan sakit setelah memakan es krim? Cuaca mungkin sedang cerah, tapi musim dingin tetaplah dingin, Sarang.” Nasihat Jisoo yang langsung ditanggapi tatapan malas oleh Sarang.

“Anggap saja es krim itu sebagai penghangat.” Sarang melayangkan kedipan sebelah matanya pada Jisoo. Lelaki itu memutar bola matanya.

“Terserah. Kau itu memang gadis aneh.” Mendengar itu Sarang cemberut lalu menjulurkan lidahnya. Sarang sangat suka es krim, apapun cuacanya dan berapapun suhu udaranya  ia akan tetap makan. Berbeda dengan Jisoo yang selalu menyukai cokelat hangat.

“Jisoo.”

Jisoo tersenyum senang sewaktu mendengar suara yang tak asing di pendengarannya, lantas ia berbalik dan menemukan seorang pria bermantel biru tua di belakangnya.

“Paman Kyungsoo.”

Pria itu merentangkan tangannya, dengan sigap Jisoo berlari dan memeluk pria bermantel biru tua yang dipanggil Paman Kyungsoo itu.

“Paman sedang apa kemari?”

“Paman sedang berjalan-jalan dan kebetulan bertemu denganmu, juga temanmu.” Jisoo mengalihkan pandangannya pada Sarang di belakang sana. Oh, ia lupa kalau ia sedang bersamanya.

“Namanya Sarang.”

Kyungsoo menggandeng Jisoo lalu menghampiri Sarang yang terdiam.

“Hai, Sarang.” Sarang mencekal lengan dan bersembunyi di punggung Jisoo ketika Kyungsoo menyapanya.

“Sarang ingin es krim?” Gadis kecil itu menggeleng.

“Tadi, kau bilang ingin es krim.” sahut Jisoo dengan nada sedikit ketus.

“Jisoo yang akan membelikan es krim untukku karena dia sudah berjanji,” Sarang membungkuk pelan, “Terimakasih atas tawarannya, Paman.” Mendengar itu Kyungsoo hanya bisa menampakan senyumnya.

“Ayo kita ke kedai es krim.”

Kyungsoo merangkul bahu Jisoo selama perjalanan. Mereka terlihat akrab. Ya, Jisoo mengenal Kyungsoo sudah hampir setengah tahun ini. Jisoo tidak mudah bergaul dengan orang asing. Kyungsoo dan Jisoo sering bertemu di bus-jika Ahyoung tidak menjeputnya-hingga akhirnya mereka dekat. Jisoo tentu senang menerima sosok Kyungsoo, pamannya itu baik hati, dan senang di ajak bercanda. Namun, Jisoo belum menceritakan hal ini pada ibunya. Jisoo memang senang menceritakan semua hal. Tapi, pengecualian untuk Paman Kyungsoo.

“Paman, kau harus datang ke acara pentas seni sekolahku.” Jisoo kembali menyesap cokelat panasnya dengan khidmat.

“Paman sudah janji, jadi paman akan datang.”

“Apa paman akan berkenalan dengan ibu? Selama ini paman melarang aku bercerita tentang paman pada ibu.”

“Biarkan paman yang memperkenalkan diri pada ibumu.” Jisoo mengangguk lalu menandaskan minumannya.

“Saya pesan satu gelas cokelat panas.”

“Kau mirip sekali dengan ibumu.” gumam Kyungsoo lirih yang tidak terdengar oleh Jisoo.

___

Sesuai janjinya yang akan datang, kini Ahyoung sudah terduduk manis di kursi yang sudah di siapkan di aula sekolah Jisoo.

Kelas Jisoo tampil di pertengahan acara, jadi ia bisa sedikit menyelesaikan pekerjaannya sebelum kemari. Ia sedikit terlambat datang.

“Penampilan selanjutnya adalah persembahan dari kelas IV 1.”

Gemuruh tepuk tangan memenuhi ruangan. Sesosok gadis kecil berpakaian lusuh adalah penampakan awal saat tirai tersibak. Oh, dia Sarang.

Sarang tampak sedang menyapu dan mengepel, lalu tiba-tiba ibu tiri beserta dua anaknya datang menyuruhnya dengan nada membentak. Sarang hanya bisa menuruti perintah sang ibu tiri, dan … ya, selanjutnya seperti pada cerita Cinderella pada umumnya.

Ahyoung tetap antusias meski ia sudah menyelesaikan tiga seri film animasi Cinderella berlabel Disney  dan bahkan sudah menonton versi 3D-nya. Mungkin efek seorang ibu yang melihat pertunjukan anaknya.

Saat pertengahan pertunjukan, Jisoo muncul mengenakan pakaian khas bangsawan Eropa yang membuatnya nampak tampan dan gagah. Jisoo sempat melayangkan senyuman padanya sebelum kembali fokus pada dialognya.

Jisoo dan Sarang tampak serasi. Tinggi mereka tidak terpaut jauh dan Sarang lebih pendek. Sarang memiliki rambut yang panjang dan berpipi tembam. Oh, ia baru ingat jika Jisoo pernah mengatakan kalau saja ia memiliki adik perempuan, ia ingin adiknya itu memiliki rambut panjang, berpipi tembam dan berwajah lucu. Persis seperti Sarang.

Tepukan tangan kembali menyeruak. Menandakan pertunjukan drama dari kelas Jisoo sudah berakhir. Tirai berwarna merah darah itu kembali tertutup dan pembawa acara kembali menunjukan eksistensinya di atas penggung.

Ahyoung bangkit dan menghampiri Jisoo yang keluar dari belakang panggung. Kostum pangerannya masih melekat di tubuhnya. Jisoo terlihat tampan dan gagah dengan itu. Postur tubuhnya yang sedikit berisi itu membuatnya tampak pas dengan pakaiannya.

“Ayo kita mengambil foto sebelum kau berganti baju.” kata Ahyoung seraya mengacungkan ponselnya. Mereka mengambil posisi saling berdekatan, lalu,

Kimchi~

Mereka tertawa saat melihat hasil fotonya. Oke, kalau kau ingin tahu gaya foto tadi sangat konyol sekali. Ahyoung yang biasa terlihat wibawa kini terlihat konyol jika bersama putranya.

“Jisoo.”

Jisoo mengalihkan atensinya. Ia melambaikan tangan pada pria yang berdiri beberapa meter di belakang ibunya.

“Siapa?” tanya Ahyoung tanpa bersuara.

“Paman Kyungsoo.” bisik Jisoo di tengah riuhnya suara di ruangan ini.

“Huh?”

“Paman—”

“Lama tidak bertemu, Park Ahyoung.”

To Be Continue …

 

 

A/N :

Maapkeun aku yah .. malah buat project baru bukannya ngelanjut yang Kyungsoo-Ahyoung series, Stay atau Abnormal Vampire. Belum ada feel kalau ngelanjut yang Stay & Abnormal Vampire, sumpah. Dari pada tulisannya gaje mnding ya … yang buat nunggu tuh dua ff di harap bersabar, oke. Aku juga bkn org yg suka di kejar deadline. Kalau yang Kyungsoo-Ahyoung series aku punya banyak stok di hp juga laptop, tinggal ngatur-ngatur yg mana harus di post duluan, hehe 😀

Jujur, aku sebenernya belum sreg buat post cerita ini soalnya aku bahkan belum menemukan celah dan masih mikir-mikir momen-momen yang pas buat jadi plot untuk menuju ke endingnya. So, aku ga tau kalau cerita ini akan panjang atau pendek, bakalan complicated atau tidak. Tapi, yang penting aku akan berusaha buat ff ini bakal seru. I hope you guys like this, don’t forget leave your comment, click like and click follow my blog.

Hantu … menjauhlah dari sini … hush hush..

 

Salam

Elfeetoile

Advertisements

10 thoughts on “It’s Our Fate? #1 [Meet Again]

  1. Ini bagusssss. . .
    critanya gak mainstream. .
    aku penasran lanjutnya. . brasa gmana gtu.

    mgkin kmu butuh pengalihan dri ff sblumnya. jadi gak ada salahnya klo kmu lanjutin ini. krna ini bagus.

    Diksimu juga udah rapiii bgt. tau harus gimana buat bikin crita yg gak bertele2 dan gak kosong. .
    aq tunggu next nya dek. .

    Liked by 1 person

  2. jisoo……. aoa orang tua mu kembali bersatu… aku rasa ia kyungsoo pasti bsa ambil keputusan yg bagus….. eonni jangan ubah image d.o ya eonni

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s