It’s Our Fate? #2 [The Truth]

PicsArt_07-17-04.01.23

2016 © Elfeetoile

Starring With : Park Ahyoung [OC/You] Do Kyungsoo [EXO’s D.O.] Park Jisoo [OC] | Genre : Family, Romance, Sad, Comfort, Marriage life slight! | Rating : PG+17 | Lenght : Chapter | Disclaimer : This Story Line Is Mine, Please Don’t Copy Paste.


.

Previous : #1 [Meet Again]

.

“You Can Call It A Fate, If You Already Work Hard.

.

-It’s Our Fate? #2 [The Truth]

.

Verbal Can Pretend, Liar, and Cover The Fact. But, Heart, and Feeling Can’t Do It.

 

___

 

Kyungsoo bersorak saat penampilan Jisoo usai. Bibir tebalnya tak lelah untuk menampakan senyuman. Perasaan bangga dan bahagia menyusup pada relung hatinya melihat Jisoo yang tampan dengan kostum Pangerannya, berakting sangat baik di atas panggung sana.

Tubuhnya menegak saat melihat bocah lelaki berumur sembilan tahun itu keluar dari belakang panggung. Ia hendak menghampiri, namun langkahnya tiba-tiba berhenti saat menangkap sesosok wanita bertubuh kecil menghampiri Jisoo lebih dulu. Ia tahu siapa wanita tersebut, walaupun sudah delapan tahun tak bertemu. Perawakannya sama seperti dulu meski telah melahirkan seorang putra. Dia tidak banyak berubah, hanya wajahnya saja yang sedikit tampak lebih dewasa.

Kyungsoo terdiam sejenak, menikmati pemandangan sepasang ibu dan anak yang sedang bercengkrama ria, sebelum akhirnya memanggil Jisoo. Bocah itu membalas lambaian tangannya, dan selanjutnya ia bisa menebak kalau sang ibu kini menanyakannya. Ia melanjutkan langkahnya yang tertunda sampai akhirnya berdiri di belakang ibu Jisoo.

“Lama tidak bertemu, Park Ahyoung.” Kyungsoo berbicara tepat di depan telingannya.

Ia bisa melihat reaksi wanita di hadapannya tidaklah baik. Tangannya mengepal dan tubuh sedikit bergetar.

Mendengar yang paman Kyungsoo katakan, membuat Jisoo mengejukan pertanyaan,

“Paman kenal ibuku?”

Mata Kyungsoo beralih pada Jisoo yang nampak kebingungan. Kyungsoo tidak menjawab hanya memberi sebuah senyuman tak berarti yang menimbulkan tanda tanya pada kepala Jisoo semakin besar.

“Jisoo, kau harus mengganti pakaianmu.”

Jisoo mengangguk dan dengan berat hati menuruti perintah temannya, setelah sebelumnya berpamit padanya dan ibunya. Jisoo sungguh penasaran.

Momen yang sangat tepat sekali.

“Kau ….” Wanita itu berbalik dan menatap manik mata bulat Kyungsoo tajam.

“Aku hanya ingin melihatnya.”

“Tidak bisa. Kau sudah berjanji untuk tidak muncul di hadapannya.”

“Aku mengakui diriku sebagai paman.”

“Tetap saja! Aku ingin Jisoo-ku hanya mengetahui ibunya.”

“Ya, aku tahu. Aku hanya ingin bermain dengannya, sebentar.”

Ahyoung akan membuka mulutnya lagi, tapi urung saat mendengar suara Jisoo yang memanggilnya.

“Ibu, aku ingin pulang.” Jisoo sudah dengan kaus biru tuanya menggandeng lengan Ahyoung yang seketika meluluhkan emosinya yang sedari tadi nyaris meledak melihat kehadiran Kyungsoo.

“Paman, maukah kau pulang bersama kami?” Tawar Jisoo, sontak membuat Ahyoung melayangkan tatapan tajam pada putranya itu, tapi nampaknya Jisoo tidak mengindahkan hal itu.

“Apakah boleh?” Kyungsoo tersenyum lembut, matanya beralih pada Ahyoung yang nampak kesal.

“Tentu saja, ibu tidak kerja setelah ini.”

___

Dengan berat hati, Ahyoung membawa Kyungsoo kedalam mobilnya dan mengantarnya pulang. Jisoo merengek, dan mengatakan kalau paman Kyungsoo sudah melakukan banyak kebaikan padanya, dan ia juga ingin melakukan hal baik pada paman Kyungsoo, seperti memberi tumpangan pulang misalnya. Suasana sangat berisik, karena Kyungsoo dan Jisoo terus bermain sepanjang jalan.

Perasaan aneh tiba-tiba merambati hatinya, mendengar mereka tertawa dan saling bercanda. Ahyoung tahu Jisoo tidak mudah bergaul dengan banyak orang, bahkan teman terdekatnya hanyalah Sarang. Sama seperti dirinya yang kurang menyukai bersosial dengan banyak orang.

“Ibu, aku pinjam ponsel ibu untuk mengirim foto tadi.” Tanpa perlu persetujuan, Jisoo mengambil ponsel Ahyoung dari dalam tas di sampingnya. Dengan cekatan, tangan-tangan mungilnya itu mengirim foto-foto yang berjumlah belasan tadi lewat Line.

Sambil menunggu pengiriman, Jisoo menatap lamat-lamat wajah dirinya di foto yang berhasil di badik baik oleh ibunya.

“Ibu.”

“Hmm.”

Jisoo terdiam sejenak, dan kembali menatap foto dirinya sebelum mengutarakan sebuah pertanyaan yang memang pantas dipertanyakan di depan paman Kyungsoo.

“Apa aku salah lihat atau memang kebetulan?”

“Apanya, sayang?” Jawab Ahyoung masih tetap mengontrol kemudi mobilnya.

“Kenapa wajah Jisoo mirip dengan Paman Kyungsoo?”

___

“Sunbae, cukup!” Tangan gadis itu menarik botol kaca berwarna hijau tua itu agar menjauh dari lelaki di seberangnya.

“Aku tidak suka orang mabuk di dekatku.”

Pria itu tersenyum kecil. Meski ia sedikit mabuk, tapi alam sadar dalam tubuhnya masih mendominasi. Ia bahkan masih bisa mendengar suara dan mencerna perkataan gadis di hadapannya dengan baik.

“Apa kau takut, Park Ahyoung?”

Ahyoung menggeleng. “Aku hanya tidak suka.”

Lelaki itu terkekeh. Wajah gadis itu tidak selaras dengan ucapannya.

“Saat ini, aku sedang merasa senang sekaligus stress, Ahyoung.” Kedua tangannya kini berpangku pada meja di depannya sebelum kembali melanjutkan perkataannya.

“Aku anak tunggal. Ayahku meninggal sebulan yang lalu. Tentu aku harus mewarisi dan melanjutkan perusahaan Ayah. Tapi, persyaratannya sangat sulit sekali, padahal jika aku tidak menjadi pewaris pun tidak apa.”

Ahyoung menjengitkan alisnya sejenak. Ini problem pribadi yang bersifat privasi, bukan? Masalahnya adalah, ia baru mengenal seniornya itu sekitar tiga bulan yang lalu, semenjak mereka ditunjuk menjadi tim utama perlombaan arsitektur dan desain interior gedung. Ia menghela napas dan mencoba tertarik dengan pembicaraan.

“Memang apa persyaratannya, Kyungsoo Sunbaenim?”

“Menikah.” Kyungsoo tertawa hambar. “Bukankah itu konyol?”

“Sangat konyol.” Ahyoung menanggapi dengan nada kelewat datar.

“Karena aku tidak mempunyai pasangan makanya aku katakan konyol. Oh, siapa gadis baik hati yang bersedia menjadi tamengku.” Kyungsoo mengambil kembali botol soju tersebut dan menuangkan pada gelas Ahyoung yang masih kering.

“Kau harus meminum ini untuk merayakan kemenangan kita.” Ahyoung mengambil gelas mungil itu lalu meminumnya dalam sekali tenggakan, lalu ia kembali menuangkan dan minumannya.

“Kau satu-satunya orang yang tidak terlihat senang dari sekian rekan-rekan kita. Padahal mereka yang tidak teribat perlombaan ini ikut merasa senang juga.” Pandangannya menyapu pada teman-temannya yang sudah tampak mabuk, sebagian dari mereka bahkan tak sadar diri.

“Kupikir aku ini lebih konyol.” Bukannya menyahuti perkataan Kyungsoo, Ahyoung malah kembali membahas pembicaraan sebelumnya.

“Pernikahan adalah hal yang konyol untukku. Dimana perempuan akan patuh akan perintah suaminya meski itu tidak membuatnya bahagia. Mengapa Tuhan sangat kejam? Perempuan ditakdirkan sebagai makhluk yang lemah dan ditakdirkan untuk patuh laki-laki?” Ahyoung tertawa remeh.

“Tapi, aku jauh lebih konyol karena aku tidak ingin menikah tapi ingin memiliki seorang anak yang lahir dari rahimku sendiri. Disisi lain, aku tidak mau memiliki anak dari lelaki yang tidak jelas asal-usulnya. Dan jika aku melakukannya di luar pernikahan, bukankah itu dosa besar? Tentu saja, aku sadar diri, aku ini adalah manusia bukan amoeba yang bisa membelah diri.”

Kyungsoo terdiam, pikirannya hanyut akan perkataan Ahyoung. Benar, pernikahan adalah konyol. Dimana ia sebagai lelaki harus terikat dengan satu wanita dan harus bekerja keras menafkahi istri dan anak-anaknya. Tapi, bukankah menikah itu menyenangkan? Saat terbangun menemukan pasangannya masih terlelap di sampingnya, dasi pun ada yang mengenakannya dan mereka akan bahagia bersama anak-anak mereka. Ya, anak-anak.

Senyum cerah terulas di bibir tebalnya saat otaknya menemukan sebuah ide cemerlang.

“Aku punya pemikiran, Park Ahyoung.”

___

 

Kyungsoo dan Ahyoung resmi menikah. Dan hari berikutnya perusahaan ayah Kyungsoo resmi pula jatuh di tangannya. Hubungan mereka masih selayaknya senior dan junior di kampus, hanya saja lebih intim.

Ahyoung sudah mengabulkan permintaan Kyungsoo, kini giliran Kyungsoo yang harus mengabulkan permintaan Ahyoung, sebelum akhirnya mengakhiri kekonyolan ini. Sama seperti perjanjian yang telah disepakati.

“Kenapa kau selalu meminum alkohol sebelum melakukannya?”

Kyungsoo tidak mengerti alasan Park Ahyoung yang melakukan banyak hal aneh. Layaknya saat ini, sebelum mereka-oh, mungkin kelihatannya hanya Kyungsoo-melakukan ‘kegiatan malam’, Ahyoung akan menghabiskan sedikitnya tiga botol alkohol. Dia gadis yang anti pada pria, bahkan seumur hidupnya tidak pernah berpacaran. Kenapa dia tidak menjadi Biarawati saja dan mengurus anak-anak yatim piatu? Bukankah, mereka sama saja anak-anak? Park Ahyoung wanita paham agama, dia tahu bahwa menikah itu hal sakral dan membuatnya menjadi wanita sempurna. Namun, trauma kehidupannya yang membuat pikirannya menjadi seperti ini. Ahyoung bercerita-saat mabuk-bahwa kakeknya adalah penjudi dan suka menyiksa almarhumah neneknya, dan ayahnya adalah pribadi ringan tangan hingga akhirnya bercerai dengan ibunya. Mindset wanita itu sudah sulit diubah, semua pengalamannya dan apa yang dialami nenek maupun ibunya telah membentuknya menjadi Park Ahyoung saat ini.

Mata Kyungsoo seolah terjebak di wajah Ahyoung yang tengah tertidur pulas. Ia menyeka peluh di sekitar dahi dan pelipis wanita itu dengan lembut, Kyungsoo yakin keringatnya itu timbul dihampir semua bagian tubuhnya. Ia juga merapihkan helaian anak-anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Wajahnya tampak merah karena mabuk dan lelah.

“Kau wanita yang lembut dan sederhana, banyak pria akan menyayangimu dengan tulus. Menikah bukan hal omong kosong, lewat itu kau bisa menjadi seorang ibu, seperti yang kau harapkan, dan lewat itu pula kau bisa merasakan bahwa ada seseorang yang benar-benar mencintaimu, dan aku bukan pria seperti kakek dan ayahmu, Young.”

___

Jisoo menatap pantulan dirinya dalam cermin dengan lekat. Memandangi setiap inci bentuk wajahnya. Ia mempunyai bibir penuh, alis yang cukup tebal, mata bulat dan hidung bangir. Sama seperti paman Kyungsoo. Ia hanya bisa melihat warisan ibunya terdapat di bentuk mata dan iris matanya yang bening dan berwarna cokelat sangat tua yang terlihat hitam, meski terpantul oleh cahaya, warnanya tidak berubah menjadi cokelat seperti umumnya.

Jisoo tahu ia hanya seorang anak kecil yang tidak mengerti apa-apa dan mudah dibohongi. Tapi, dengan semua bukti ini apa ia akan tetap percaya dengan perkataan Ibunya? Ia tidak tahu, Jisoo belum menemukan alasan apa yang membuat Paman Kyungsoo bisa mirip dengannya.

“Itu hanya kebetulan, Jisoo. Kau tahu, di dunia ini ada tujuh orang yang memiliki wajah yang persis.”

Ia menghela nafas dan pergi ke tempat tidurnya, menyudahi pikiran-pikiran tentang ayahnya yang berakhir menyakitkan kepalanya.

Kalau paman Kyungsoo adalah ayahnya, kenapa ia harus mengaku sebagai paman? Jisoo tidak tahu apa motif ibunya dan paman Kyungsoo menutupi semua ini darinya.

Jisoo menyatukan jari-jari di kedua tangannya dan menutup matanya.

“Tuhan, beri Jisoo petunjuk untuk mengetahui siapa ayah Jisoo sebenarnya. Hanya kepada-Mu, Tuhan, Jisoo bisa meminta bantuan, jadi tolong kabulkan doa Jisoo, Aamiin.”

___

Mistrees, klien kita nanti ingin bertemu di ruangan anda.” Seohee-sekertaris Ahyoung-mengkonfirmasi persetujuan dari sang direktur.

“Oke, beritahu padanya untuk datang pada pukul setengah dua.”

“Baik.” Seohee membungkuk sebelum akhirnya pergi dari ruangan Ahyoung.

Tak biasanya kliennya meminta untuk bertemu di ruangannya. Biasanya mereka memilih bertemu di cafè, restauran, atau langsung ke lokasi tempat yang akan menjadi pekerjaannya.

Matanya memincing melihat jam sudah menunjukan pukul 14.26 waktu setempat. Ia punya waktu empat menit untuk membenahi penampilannya.

“Jisoo pulang jam tiga?”

“Ya, ada ekstrakulikuler Jitsu hari ini.”

“Ibu akan menjemputmu.”

Ahyoung menutup teleponnya. Kakinya bergerak menuju kamar mandi dan melihat penampilan dirinya yang sedikit berantakan untuk dirapihkan.

Tepat setelah ia keluar dari kamar mandinya, pintunya diketuk pelan, lalu sebuah suara mengikutinya. “Mistrees, kliennya sudah datang.” Itu suara Seohee-lagi-yang berdiri di balik pintu sana bersama seorang pria.

“Masuk.” Ahyoung segera standby di mejanya. Suara deritan pintu terdangar dan derapan langkah mendekat semakin terdengar jelas di telinganya.

Tangannya yang sedang membereskan beberapa berkas-berkasnya yang berserakan, berhenti di udara saat hidungnya mengendus aroma parfume yang lama tak menyapa hidungnya itu kembali tercium. Aroma seseorang delapan tahun yang lalu. Aroma pria yang kemarin-kemarin menumpang pulang padanya.

“Selamat siang, Park Ahyoung.”

Ahyoung mendongak, melayangkan tatapan es pada pria di hadapannya.

“Selamat siang.” balas Ahyoung tenang, lalu menyimpan tumpukan map dan kertas itu ke dalam laci.

“Apa yang bisa saya bantu, Tuan Do Kyungsoo?” Kyungsoo tersenyum tipis mendengar itu.

“Ku dengar perusahaan ini menyediakan jasa desain rumah dan interior?”

“Ya.”

“Bagaimana jika aku merekrutmu sebagai arsitek sekaligus pendesain interior untuk gedung cabang perusahaanku di Hongkong?”

“Kami hanya melayani desain dan interior rumah. Lagipula, Tuan bisa melakukannya sendiri bukan?” jawabnya tidak peduli. Ia kembali mengeluarkannya beberapa berkas dan sedikit menyelesaiakannya. Oh, klien ini tidak terlalu penting.

Ahyoung tentu masih ingat, kalau pria di hadapannya adalah lulusan arsitekur. Sama seperti dirinya. Tapi, ia memilih membuka konsultan desain rumah dan interior karena menurutnya itu jauh lebih menarik dan tidak terlalu menguras pikiran.

Kyungsoo menjatuhkan tubuhnya pada sandaran kursi di belakangnya lalu bersedakep.

“Aku sedang malas.”

“Kalau begitu cari saja perusahaan lain yang bisa Anda rekrut menjadi arsitek gedung untuk cabang perusahaan Tuan itu.” sahut Ahyoung tanpa melirik Kyungsoo barang sedikit pun. Ia benar-benar tidak peduli.

“Kalau aku ingin kau yang melakukannya, bagaimana?”

“Saya sudah katakan kalau kami tidak menerima arsitektur gedung. Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan, silahkan pergi dari ruangan saya. Banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan.”

“Banyak yang aku ingin bicarakan, Park Ahyoung.”

“Saya tidak punya waktu.”

“Kau ibu yang sibuk. Harus bekerja sekaligus mengurus Jisoo.”

“Jangan bahas anakku, sudah kukatakan berapa kali untuk tidak muncul di hadapan kami.” Kali ini kepala wanita itu mendongak dan melayangkan tatapan yang ia terima saat pertama kali bertemu setelah delapan tahun berpisah. Tatapan sangat dingin yang bisa saja membuatnya sebeku es.

“Aku seperti orang yang paling bersalah disini. Kau tahu, betapa menyedihkan saat mendengar cerita Jisoo yang ingin mengetahui ayahnya. Padahal setiap kau tidak menjemputnya, ayahnya sendiri yang menjemputnya. Ayahnya selalu menemaninya membeli cokelat panas dan bermain.”

“Kubilang berhenti mendekat padanya!” Suaranya terdengar seperti ancaman, namun intonasinya dibuat tertahan. Ia tak mungkin meledak karena masalah pribadi di tempat kerjanya. Tidak! Biarkan pegawainya cukup tahu mengenai ia adalah janda beranak satu.

“Oh, ya. Setelah aku lihat perjanjian yang masih kusimpan, ternyata di sana tidak tertera jika aku tidak boleh mendekatinya dan bermain bersamanya.”

Ahyoung mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya memburu. Kentara sekali kalau emosinya sedang di puncak. Mereka terdiam, hanya mata mereka saja yang saling berbicara. Membiarkan suasana hening selama beberapa menit. Sebelum akhirnya sebuah dering ponsel memecahkan suasana. Emosi yang tak lama akan meletus itu sedikit menurun saat melihat siapa si empu yang menelponnya.

“Kau sudah pulang? Oke, tunggu disana, ibu akan segera menjemputmu.”

Ahyoung menyimpan ponselnya kedalam tasnya dan membawanya. Ia berlalu meninggalkan Kyungsoo begitu saja.

___

Kyungsoo manapaki kawasan basemen. Netranya langsung disuguhkan pandangannya aneh. Aneh saat melihat Ahyoung-yang masih berdiri beberapa meter darinya-sedang memandangi mobil putihnya dengan pandangan kesal. Bukankah ia bilang akan menjemput Jisoo? Kenapa ia masih disini? Tidak ingin menebak lebih atau mencari jawaban sendiri, akhirnya ia memutuskan untuk mendekat pada wanita itu.

“Ada apa dengan mobilnya? Bukankah kau harus pergi menjemput Jisoo?”

“Bukan urusanmu.” Ketus Ahyoung.

“Ini akan menjadi urusanku jika menyangkut Jisoo. Dia pasti kedinginan. Dengar, hujannya sangat lebat.” Kyungsoo kembali berujar tak kalah ketus dari lawan bicaranya itu.

Ya, di luar sana hujan lebat dengan petir yang berkilat kencang.

“Ayo, akan kuantarkan kau menjemput Jisoo dan pulang.” Pria itu kembali berkata, berharap Ahyoung akan menurutinya kali ini.

Kyungsoo berbalik dan berjalan kembali menuju mobilnya. Lalu, berbalik dan menemukan Ahyoung yang ternyata masih berdiri di sana. Ia tahu dia tidak mudah patuh perkataannya.

“Park Ahyoung.”

Ahyoung menoleh menatapnya lalu pergi ke luar basemen dengan payung di tangannya.

“Tidak ada taxi maupun bus yang beroperasi saat hujan lebat seperti ini.”

Langkah wanita itu berhenti, genggaman pada payungnya kian mengerat saat mendengar Kyungsoo kembali bicara,

“Anggap saja ini balasan kemarin kau mengantarku pulang.”

___

“Tumben sekali pergi dengan mobil pribadi. Biasanya, Paman selalu menggunakan bus.” komentar Jisoo begitu bocah dengan jaket hitam itu selesai memasang seatbelt-nya.

“Paman hanya rindu pada mobil Paman.” Jelas Kyungsoo lalu tersenyum. Senyuman itu bisa di lihat oleh Jisoo dari cermin yang bertengger di atas.

“Jisoo sudah siap?”

“Eum.”

Decitan halus mobil yang meredam suara lebat hujan terdengar. Mobil hitam Kyungsoo melaju sangat lambat. Spidometer hanya berjalan sebatas 20km/h, ia tidak ingin mengambil risiko atau sesuatu buruk terjadi menimpa anak dan wanita yang ia sayang yang sedang terduduk di sampingnya. Ya, orang yang ia sayang.

“Kenapa ibu menaiki mobil Paman Kyungsoo?”

“Mobil ibu sedang rusak dan kebetulan Paman berkunjung ke kantor Ibu sehingga Ibu dan Paman pergi menjemput Jisoo, setelah itu mengantar ibu dan Jisoo pulang.” jawab Kyungsoo mengintrupsi Ahyoung yang akan angkat bicara. Wanita itu memutar bola matanya jengah dan melipat kedua tangannya.

“Jisoo kira Paman dan Ibu sudah berpacaran, lalu sekarang sedang berkencan.”

Ahyoung membelakan matanya mendengar ucapan Jisoo. Itu tidak pantas untuk umurnya yang menyentuh angka sepuluh pun belum.

“Siapa yang mengajarkan kata-kata itu, Jisoo? Ibu tidak mengajarkan Jisoo seperti itu.” sahut Ahyoung dengan nada yang terdengar khawatir. Ia memutar tubuhnya ke belakang, menatap putranya yang tampak tenang dengan perkataannya itu.

Jisoo mengedikan bahunya. “Teman-teman Jisoo banyak yang sudah mempunyai pacar.” jawabnya entang. Ahyoung menghembuskan napasnya. Zaman berubah drastis. Sangat berbeda sekali saat sewaktu ia masih kecil, ia bahkan mengerti arti pacar saat sekolah menengah.

“Paman dan Ibu tidak berpacaran. Kau tidak boleh mengikuti teman-temanmu, kau boleh pacaran saat sudah besar nanti.” Kyungsoo kembali mengambil alih pembicaraan. Ia menatap sekilas Jisoo-dari pantulan cermin-yang menunduk dengan wajah muram.

“Baik, Paman.”

___

Ahyoung mendengus saat melihat krim malam yang selalu ia gunakan sebelum tidur itu habis. Ia benar-benar lupa untuk pergi membeli produk-produk perawatan kulitnya.

Dirinya terlalu sibuk akhir-akhir ini. Apalagi setelah akhirnya ia menyetujui permintaan klien yang paling ia hindari, Do Kyungsoo. Pulang pergi Seoul-Hongkong membuatnya terlalu lelah hingga melupakan barang keperluannya. Jangankan barang keperluannya, Jisoo saja tidak sempat ia uruskan.

Bahkan bibi Jung-Pengasuh Jisoo-mengatakan kalau putrannya itu kini sedikit sedih, karena ibu dan paman Kyungsoo sibuk. Benar, biasanya jika ia sibuk, Kyungsoo yang akan menemaninya. Sekarang mereka sama-sama sibuk hingga tidak bisa mengurus Jisoo.

Ahyoung membuang wadah berbahan kaca itu kedalam tong sampah. Ia kembali membereskan semua produk riasan maupun segala tetek bengek perawatan kulitnya ke dalam tas kecil sebelum akhirnya ia masukan ke dalam koper. Besok pagi-pagi sekali ia harus kembali terbang ke Hongkong.

Tubuhnya kini sudah terbalut oleh bed cover dan siap pergi ke alam mimpinya. Tapi, matanya tidak kunjung terpejam. Seperti malam-malam kemarin. Entah apa yang ada dalam otaknya hingga semua pikirannya hanya tertuju pada Kyungsoo. Pria yang ia anggap sudah musnah dari muka bumi itu, kembali muncul dalam hidupnya dan bertransformasi menjadi pamannya Jisoo dan kliennya.

Ia tidak pernah mencintai pria itu. Bahkan setelah tiga tahun pernah hidup bersama. Ya, dalam pikirannya ia tidak pernah mencintai Kyungsoo. Ahyoung masih mengingat semuanya, sikapnya, malam-malam yang pernah mereka lewati-seberapun ia mabuk ia tetap merasa bahkan mengingat-, kata-kata di setiap ia sudah tertidur lelap dalam kelelahan-ia mendengar dan itu masuk kedalam memorinya-, dan feromon tubuhnya yang sulit hilang dari ingatannya. Kepalanya kembali memutar kenangan lama yang indah sebenarnya, namun pikirnya itu perlu dibuang jauh-jauh. Ia ingin menuruti kata pikirannya, karena jika ia melakukan itu, ia tidak akan berakhir seperti ibu dan neneknya.

___

Incheon Airport, South Korea. 6.14 KST.

Jisoo dan bibi Jung kini mengantar kepergian Ahyoung ke Hongkong. Karena hari ini adalah hari minggu, jadi Jisoo rela pagi-pagi bangun demi mengantar ibu dan bertemu paman Kyungsoo.

“Apa Jisoo boleh ikut?” Tanya Jisoo masih setia menggandeng tangan ibunya. Matanya berserobok dengan Ahyoung ketika menoleh. Wanita itu menggeleng seraya dengan wajah kecewa.

“Kalau ini perjalanan liburan, Ibu akan mengajak Jisoo sedari kemarin-kemarin, ini pekerjaan Ibu, Jisoo.” Wajah Jisoo kembali sedih, namun ia memilih tersenyum tipis seraya menganggukan kepalanya.

Kalau aku punya Ayah, Ibu tidak perlu bekerja dan menemaniku sepanjang hari di rumah.

Pandangan Jisoo kembali ke depan. Tak sampai sepuluh langkah ia sudah bertemu dengan Paman Kyungsoo yang sedang duduk.

Eoh, Jisoo?”

“Paman Kyungsoo.” Jisoo melepaskan genggaman ibunya lalu menghampiri Kyungsoo yang beberapa meter di hadapannya. Melihat itu, Kyungsoo berjongkok dan merentangkan lengannya.

“Paman, Jisoo kesepian.” Keluhnya. Ia benar-benar rindu pada Kyungsoo.

“Biasanya, Paman akan menamani Jisoo kalau Ibu sibuk. Sekarang ibu dan paman sama-sama sibuk.” Tambah Jisoo dengan wajah sedih. Kyungsoo menampilkan senyumnya, lalu mengacak rambut putranya itu dengan penuh kasih sayang.

“Maafkan paman, ya. Kalau pekerjaan paman dan ibu sudah selesai, paman dan ibu akan menemanimu.” Jisoo mengangguk dan mendapatkan usapan kepala dari Kyungsoo.

“Paman, jaga ibuku baik-baik, ya.”

“Pasti. Ibumu akan aman bersama Paman.”

Kyungsoo mendirikan tubuhnya begitu sebuah suara yang menyatakan bahwa penerbangan tujuan Hongkong akan lepas landas sepuluh menit lagi.

“Jisoo harus baik-baik bersama Bibi Jung, oke.” Jisoo tersenyum dan mengangguk. Atensinya kini beralih pada Ibunya yang berdiri tak jauh di belakangnnya.

“Ibu, kau tidak boleh memasang wajah cemberut pada Paman. Bukankah Ibu yang selalu mengatakan kalau kita tidak boleh memasang wajah itu, kita harus tetap tersenyum apapun kondisinya.” ujar Jisoo mengembalikan nasihat sang Ibu seraya menarik kedua ujung bibir Ibunya. Ahyoung tersenyum dan mengecup pipi putranya lembut.

“Ibu tidak akan memasang wajah itu lagi.”

“Janji?” Jisoo mengacungkan kelingkingnya kehadapannya, dan dengan senang hati Ahyoung menyambut dengan kelingkingnya.

“Ibu janji.”

___

Kyungsoo tidak tahu harus berkata apa saat melihat sebuah benda persegi panjang berwarna putih dengan dua garis merah yang ia temui di tong sampah kamar mandi pagi ini.

Pantas saja wanita itu tidak lagi meminum alkohol dan minuman soda akhir-akhir ini. Dan, kenapa hal penting seperti ini tidak diceritakan padanya? Meskipun mereka hanya menikah sebatas status, tapi Ahyoung tidak membelah dirinya seperti amoeba atau bakteri untuk menghasilkan keturunan ‘kan?  Ia juga termasuk peran utama dalam hal ini.

Langkah kaki jenjang pria itu menapaki lorong-lorong fakultas arsitektur. Kelas baru saja berakhir, beberapa mahasiswa terlihat berlalu lalang di sekitarnya. Ia rasa perlu membicarakan hal ini di lingkungan kampus, karena wanita itu terlihat menghindarinya saat di rumah. Dan ia akan sibuk pada hari ini dan hari-hari berikutnya.

“Apa Park Ahyoung masih di kelasnya?”

Dahee, teman sekelas Ahyoung sekaligus rekan satu tim perlombaannya tahun lalu itu menghentikan pergerkannya dan menatap Kyungsoo. Ia menampilkan senyum tipisnya. “Kyungsoo Sunbae,”

Kyungsoo kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Dan entah mengapa wajah gadis di hadapannya itu seketika berubah sedikit tidak bersahabat.

“Ya, dia terlihat sedikit sakit.” Kyungsoo mengucapkan, “terima kasih.” sebelum kembali melangkah menuju kelas Ahyoung.

Belum sampai ke kelasnya, ia melihat seorang wanita yang seperti diceritakan Dahee-terlihat sedikit sakit-memeluk buku-buku tebal berjalan di pinggir koridor dengan pelan. Kyungsoo tersenyum kecil, lantas berlari ke arahnya dan memeluknya. Tubuh wanita itu tersentak saat merasakan hantaman yang begitu tiba-tiba. Buku-buku tebal di tangannya jatuh seketika. Tak hanya tangan. Mata dan dadanya bahkan memberi reaksi.

“Kyungsoo,” lirihnya yang terdengar begitu jelas di telinga Kyungsoo. Sangat jelas, karena suasana berubah jadi hening. Dan semua pasang mata penghuni koridor fakultas arsitektur lantai dua, tertuju padanya.

“Terima kasih.” bisik Kyungsoo tepat di telinga Ahyoung. Wanita itu hanya diam, seakan kemampuan verbalnya tidak berfungsi dengan baik.

Terima kasih sudah mengandung anakku dan menjaganya dengan baik.

“Terima kasih sudah melakukan dan berjuang dengan baik, dan selamat.”

Selamat, kita sudah menjadi orangtua.

“Selamat, aku sudah menepati janjiku.”

“Ya,” Ahyoung melepaskan pelukan Kyungsoo dengan gerakan pelan, lalu ia mengambil buku-bukunya yang jatuh berserakan. Kyungsoo ikut berjongkok dan membantunya. Matanya menyapu sekitar, menemukan orang-orang kini sudah mengalihkan atensinya pada pekerjaannya masing-masing.

“Jadi, kau sudah tahu?”

“Aku menemukan testpack dengan garis dua di kamar mandi.”

Ahyoung mengangguk. “Sudah jalan tiga bulan.” jelasnya, lalu meninggalkan Kyungsoo yang termangu di belakang.

“Kenapa kau baru memberitahu hal penting seperti ini?” ujar Kyungsoo setelah berhasil mengimbangi langkah kakinya.

“Aku baru saja cek ke rumah sakit lusa kemarin.” Kyungsoo terdiam dan hanya bisa mengembuskan napasnya perlahan. Ia memeluk pinggang yang terasa sedikit melebar itu saat semua mahasiswi menatap Ahyoung dengan tatapan intimidasi.

Ahyoung menghentikan langkahnya saat merasakan sesuatu melingkar pada pinggangnya. Ia meminta pada Kyungsoo untuk melepaskannya lewat kode non-verbal dari pancaran matanya. Selama ini orang-orang tahu kalau Ahyoung adalah gadis kaku dan tidak mudah bergaul dengan banyak orang, dan mereka menatapnya tajam karena ia berhasil dekat dengan Kyungsoo. Oh, sekedar info saja, Kyungsoo cukup populer dan di incar banyak wanita.

“Diam, semua gadis menatapmu seperti ingin mencabik-cabikmu.”

___

“Tuan Muda Jisoo, waktunya makan malam.” Bibi Jung memberinya instruksi dengan suara yang di buat-buat seperti paduan suara di opera-opera berkelas. Ugh! Opera berkelas apanya, bahkan itu terdengar lebih buruk dari pengeras suara rusak.

Jisoo tidak menanggapi perkataan wanita paruh baya berumur empat puluh tahun itu. Atensinya masih kukuh pada ponsel di tangannya. Ia tidak berhenti tersenyum menatap benda elektronik itu.

Mendengar tak ada sahutan dari sang empu, Bibi Jung yang baru saja selesai menghidangkan menu terakhirnya menemui Jisoo yang masih pada aktifitasnya beberapa menit yang lalu.

“Hei, Tuan Muda tidak dengar Bibi?” Jisoo mendongak dan tersenyum saat menemukan wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya itu berdiri di hadapannya.

“Tuan Muda sedang apa? Sampai-sampai Bibi tidak didengar.”

“Jisoo sedang berkirim pesan dengan Paman Kyungsoo.”

“Semenyenangkan itukah?” Jisoo mengangguk. Bibi mengambil tempat di samping Jisoo untuk duduk. Matanya memincing pada layar ponsel Tuannya itu. Ia ikut senang saat membacanya. Sudah lebih dari sepuluh tahun ia mengabdi pada keluarga Do, sebelum akhirnya bekerja di rumah Kyungsoo dan Ahyoung, ia mengetahui banyak hal yang sudah terjadi pada keluarga kecil itu. Bibi Jung sudah seperti keluarga bagi Jisoo dan Ahyoung. Sejak Ahyoung dan Kyungsoo bercerai, Bibi Jung diperintahkan oleh Kyungsoo-tanpa sepengatahuan Ahyoung-untuk tetap di sisi Ahyoung, karena Bibi Jung satu-satunya pelayan yang dekat dengan Ahyoung.

“Kapan Tuan akan makan jika Tuan terus-menerus berkirim pesan? Lihat, Paman Kyungsoo bahkan menyuruh Tuan untuk makan.” ujar Bibi Jung lembut yang langsung di hadiahi tatapan curiga dari Jisoo.

“Bibi mengintip.” Jisoo menutup layar ponselnya dari Bibi Jung. Bibi Jung yang tertangkap basah pun gelagapan.

“Tidak, maksud Bibi tidak semua. Bibi hanya melihat pesan Tuan Kyungsoo yang menyuruh Tuan Muda makan.”  Mata Jisoo menyipit seolah mengatakan, Bibi bohong. Bibi Jung menghela napasnya pasrah.

“Bibi tidak sengaja, maaf.”

“Bibi, berbohong itu dibenci oleh Tuhan.” ujar Jisoo seraya menyimpan ponselnya dan berlalu meninggalkan bibi Jung yang masih terdiam di atas sofa. Ujung bibirnya tertarik membentuk garis horizontal yang sedikit melengkung, mempertegas kerutan-kerutan samar wajahnya. Kelak, Jisoo benar-benar menjadi lelaki yang baik.

“Bibi, ayo makan.”

___

Kyungsoo menatap langit malam kota Hongkong yang indah. Meski musim dingin tengah berlangsung, namun bintang-bintang dan bulan masih menerangi langit gelap yang membuat tampak indah. Ia menyimpan ponselnya ke dalam sakunya saat dirasa sudah tak mendapat balasan pesan.

Bibir tebalnya tak kunjung berhenti tertarik menampilkan bentuk hati yang elok di wajah tampannya yang bermandikan cahaya bulan. Emosi dalam tubuhnya naik, dalam artian mood-nya sedang baik malam ini. Sangat baik. Bukan karena bintang dan bulan yang muncul di musim dingin, bukan pula karena salju pertama sudah turun. Semuanya karena Jisoo, ia belum pernah berkirim pesan dengan Jisoo sebelumnya, ia tidak ingin putra semata wayangnya itu tidak melulu dengan gadget. Sudah cukup atensi Jisoo ada pada pelajaran, yang sampai-sampai membuatnya hanya mempunyai Sarang sebagai teman terdekatnya.

Apakah ini yang dinamakan ikatan batin antara ayah dan anak? Jisoo selalu takut melihat Kris, Tao atau Sehun saat salah satu dari mereka di minta untuk menjemput saat Ahyoung maupun dirinya tak bisa menjemput. Sebenarnya ia hanya iseng saja menyuruh mereka untuk menjemput Jisoo selama dua hari berturut-turut dan mendapat reaksi seperti itu.

Ponselnya kembali bergetar, ia merogoh sakunya dan mengeluarkannya.

“Paman, terus jaga ibuku, oke. Selamat malam^^ Semoga mimpi indah.”

Kyungsoo hanya tersenyum tak berniat untuk menjawab pesan itu lagi, jawabannya hanya ia simpan dalam hati.

___

 

 

“Jisoo akan setuju tidak, kalau Paman berpacaran dengan ibumu?”

“Tembak saja, Paman. Jisoo senang kalau Paman dan ibu berpacaran, apalagi sampai menikah.”

“Benarkah? Jisoo tidak takut kalau Ibu akan mencintai Paman nantinya?”

“Heol, Ibu tidak seperti itu, Paman. Kalau Paman menjadi Ayah Jisoo, cinta untuk Jisoo akan lebih melimpah.”

“Hehehe, Paman bercanda.”

“Paman bercanda berpacaran dengan ibu?”

“Tidak, maksud paman, paman bercanda untuk yang Ibumu akan lebih menyayangi paman. Jisoo sudah makan? Kau tidak boleh melewatkan makan malammu.”

“Baiklah, Jisoo akan makan. Paman juga jangan lupa makan.”

“Paman sudah makan bersama ibumu.”

“Paman, terus jaga ibuku, oke. Selamat malam^^ Semoga mimpi indah.”

.

.

.

To Be Continue …

 

 

___

 

 

A/N :

Part akhir itu bagian teks sms nya kyungsoo dan jisoo ya. Aku kasih flashback tuh yang udh ngejelasin hubungan mereka sebenarnya. Aku kasih clue kalau cerita ini sedikit lebih fokus ke kyungsoo-ahyoung. Jadi jisoo disini sebatas sebagai penunjang aja, hehe …

Maaf ya ngepost kelanjutannya lama. Actualy ini udah selesai sejak lebaran. Tapi kan ga mungkin aku post waktu lebaran, please, jalan macet brebes-pemalang sudah membuatku stress belom lagi di rumah mbah aku cuman tiga hari dan itu cuman buat kumpul dan silaturahim dengan keluarga. Terus setiap aku ngereview ff ini, ga tau kenapa tiba-tiba ketiduran -,- *malah curhat* aku juga masih bingung nyari visual jisoo, jadi, kalau ada salah-salah kata bisa kalian benerin dan punya rekomen bisa kasih tau aku dengan cara isi kolom komentar di bawah, oke (y)

Oh, ya. Aku cuman mau bilang kalau aku ini tipe orang yang peduli dengan sekitar, dan suatu saat nanti kalian yang masih jadi hantu (siders) akan bermunculan dan berteman baik sama aku karena suatu yang mendesak (you know what i mean) kalo ga ngerti .. :’) aku rapopo

Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir batin ya …

Jangan lupa untuk berkomentar … karena cuman manusia yang bisa ninggalin jejak *apa ini* 😀

See you next chapter …

 

Salam

Elfeetoile

 

 

Advertisements

11 thoughts on “It’s Our Fate? #2 [The Truth]

  1. Maaf Lahir bathin juga dek. . .
    Ahh.. aku telat baca ini. dan sebenernya udah nunggu2, tpi baru keinget pas buka wp mu.

    makin kesini aku makin penasaran dek. Suka banget ama kisah yg tarik ulur gini. keras kepala dan suasana family nya dapet.
    Smoga mreka bisa rujuk lagi. krna aku suka couple ini. . .
    ditunggu nextnya El :-*

    Like

  2. Akhirnya di lanjut. Ahh suka jisoo sama kyungsoo deket gitu. Berharapnya sih hubungan ahyeong kyungsoo cepet membaik.. Aku tunggu kelanjutannya,keep writing and fighting!!!

    Like

  3. Akhirnyaaaaaa update juga setelah sekian lama di tunggu 😂😂
    Masih rada belum ngerti sih jalur ceritanya gimana tapi kayaknya bakal seru deh. Semoga cepet chap selanjutnya ya 😊
    Fighting!!!!

    Like

  4. Akhirnya updateee!!! Huu ditunggu pama banget loh ini el:( kyungsoo sudah cinta dari awal atau baru cinta sekarang el? Ahyoung cuma benci masa lalukan ngga benci sama kyungsookan??
    Duhh semoga cepet ngalir deh cintanya merekaaa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s