It’s Our Fate? #3 [Back To Past]

PicsArt_07-17-04.01.23

2016 © Elfeetoile

Starring With : Park Ahyoung [OC/You] Do Kyungsoo [EXO’s D.O.] Park Jisoo [OC] | Genre : Family, Romance, Sad, Comfort, Marriage life slight! | Rating : PG+17 | Lenght : Chapter | Disclaimer : This Story Line Is Mine, Please Don’t Copy Paste!

.

Previous : 

#1 [Meet Again] | #2 [The Truth]

.

.

“You Can Call It Fate, If You Already Work Hard.”

.

It’s Our Fate? #3 [Back To Past]

.

“Cause’ Past it’s A Part Of Your Life”

 

___

Mereka menikmati sarapannya dalam kesunyian. denting garpu dan pisau yang menghantam porselan piring memenuhi susana di restauran yang hanya diisi oleh mereka. Yeah, di sini sangat sepi. Untuk kesekian kalinya, Kyungsoo memicingkan matanya mencuri pandangan pada wanita di hadapannya sedang menghabiskan roti panggangnya yang sesekali meminum cokelat hangatnya.

Lalu, pandangannya beralih pada langit kota melalui celah jendela besar yang tak jauh darinya. Di luar sana sangat mendung. Beberapa jam yang lalu Baekhyun berkata untuk tetap tinggal di Hongkong sehari atau dua hari sampai badai di Korea berakhir. Ia menghela napas, merasa kecewa sekaligus senang. Pandangannya kembali pada objek sebelumnya, sang wanita di hadapannya.

“Kita tidak bisa pulang hari ini.” Suara Kyungsoo akhirnya memecahkan suasana senyap yang berlangsung selama hampir setengah jam.

Ahyoung mendongak. Menaruh sembarang pisau dan garpu di meja. “Aku tidak bisa di sini lebih lama.” Kyungsoo menghela napasnya. Ia tahu Ahyoung akan protes tentang yang baru saja dikatakannya.

“Aku juga ingin pulang. Aku ingin merayakan ulang tahun Jisoo untuk pertama kalinya.” kata Kyungsoo menatap kopinya yang masih penuh mengeluarkan kepulan asap panas.

Ahyoung membelakan matanya, mulutnya yang ingin mengutarakan banyak hal terkatup rapat. Bola mata jernihnya bergerak-gerak tanpa arti.

“Tentu saja aku sebagai seorang ayah akan selalu mengingat ulang tahun anaknya.” Tatapan Ahyoung kini berubah seperti semula. Dan ia kembali menghabiskan makanannya yang tersisa.

“Park Jisoo adalah anakku.” gumam Ahyoung pelan.

“Aku yakin suatu saat nanti Jisoo akan mengetahui semua kebenarannya.”

“Maka dari itu menjauhlah. Kau bisa memiliki anak dari Kim Chaeyeon itu.”

“Mengapa aku harus memiliki dengannya? Sedangkan aku sudah dan masih memiliki anak beserta ibunya.”

Ahyoung kembali mengintrupsi acara makannya. Ia menatap Kyungsoo yang tampak tenang dengan perkataannya itu. Ugh! Tanpa dosa sekali.

“Apa maksudmu?”

“Aku tidak bermaksud apa-apa. Hanya mengatakan dari lubuk hatiku saja.” Kyungsoo tersenyum tak berarti, membuat Ahyoung jengkel.

“Berhenti bicara omong kosong.”

___

“Park Ahyoung, kau dipanggil oleh Profesor Kim.”

 

Ahyoung berhenti menulis saat sebuah suara masuk kedalam rongga telinganya. Ia mendongak dan mendapatkan sesosok pria bertubuh tinggi dengan kulit kecoklatan di hadapannya.

 

“Aku tidak tahu dia memanggilmu karena apa, tapi kedengarannya buruk.” jelasnya lagi.

Ahyoung termangu selama beberapa detik, otaknya dengan sigap memindai kesalahan apa yang ia lakukan di hari-hari sebelumnya. Ia termasuk mahasiswi tidak banyak tingkah dan melakukan apapun sesuai peraturan. Ya, ia rasa dirinya tidak melakukan kesalahan apapun.

“Kau sedang ha-hamil?” Jongin kembali menyadarkan Ahyoung yang terhanyut dalam pikirannya. Ia menatap perutnya yang sudah tampak besar. Umur kandungannya sudah menginjak bulan ke-5.

“Ya.” Jongin menggaruk tengguknya seraya menganggukan kepalanya mengerti. Ia tersenyum kaku, “Kalau begitu, aku pergi dulu.”

“Terima kasih.”

Ahyoung beranjak perlahan, membereskan semua buku-bukunya yang berserakan dan memasukannya ke dalam tas selempangnya, lalu pergi melenggang menemui Profesor Kim di ruangannya.

Ia menundukan wajahnya saat semua pasang mata menatapnya dengan tatapan yang … entahlah, tapi ia rasa ini semua karena kehamilannya. sekarang adalah musim panas, dan pakaiannya itu sangat mengekspos tonjolan pada tubuhnya. Ia sudah mengalami hal seperti sejak seminggu lalu, sejak musim panas dimulai.

“Oh, apakah kepribadianmu tentang tidak pernah berpacaran dengan siapapun hanya sebuah tameng? Sekarang bukti ini sudah menunjukan kalau kau sebenarnya tak lebih dari wanita jalang.”

Itu suara Kim Dahee. Bukan, kata itu bukan ditujukan padanya, Kim Dahee membentak gadis yang meringkuk ketakutan di sudut lorong. Mengapa ia merasa seperti itu? Yang ia lakukan tidaklah salah, anak ini adalah anak dalam pernikahan yang ia lakukan dengan Kyungsoo secara sembunyi-sembunyi. Benar, di situlah letak kesalahpahaman ini. Ia hamil saat di tengah-tengah dirinya dan Kyungsoo menyembunyikan pernikahannya.

Ia mempercepat langkahnya menuju ruangan Profesor Kim yang tinggal beberapa meter ditempuh dari tempat dirinya berdiri.

“Profesor Kim memanggil saya?” ujar Ahyoung setelah mengetuk pintu dan Profesor Kim menyuruhnya masuk.

Pria berumur akhir dua puluhan tersebut berbalik dan menatap Ahyoung dari atas kepala sampai ujung kakinya. Dosen muda dengan nama lengkap Kim Junmyeon itu mengangguk dan menyuruh muridnya itu untuk duduk.

“Kau belum konfirmasi kepada pihak universitas mengenai statusmu. Saya tahu kau adalah wanita baik-baik.” Ahyoung mengalihkan pandangannya, tidak ingin menatap Junmyeon lebih lama.

“Saya menikah satu tahun yang lalu.” gumamnya terlewat pelan. Junmeyon menghela napas, wajah kecewanya terlihat semakin jelas.

“Jadi, itu alasan kau―”

“Ya,” sela Ahyoung cepat. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan kartu penduduknya dari dompetnya, menunjukan kartu tersebut pada Junmyeon.

“Dengan siapa?”

“Do Kyungsoo.” Junmyeon tertawa, entah bagian mana yang menurutnya lucu.

“Keparat itu.”

“Saya permisi, Profesor.” pamit Ahyoung membungkuk kecil sebelum pergi keluar ruangan. Junmyeon bangkit, dengan cepat ia menahan lengannya mencegah wanita itu untuk pergi.

“Lepas.”

“Aku merasa tertipu, Park Ahyoung.” Ahyoung berbalik menatap Junmyeon dengan tatapan mengintimidasi.

“Kau yang seharusnya menjaga pandangan dan perasaanmu. Bukankah, kata-kata itu lebih tepat untuk kukatakan?” Ahyoung melepaskan tangannya dari cengkraman Junmyeon.

“Kenapa harus Do Kyungsoo?” gumam Junmyeon.

“Mungkin sudah takdirku. Jadi, mulai sekarang … saya mohon untuk tidak menghubungi saya lagi, karena disini bukan hanya Anda yang merasa sakit hati. Selamat siang.”

Ia benar-benar pergi, meninggalkan Junmyeon yang tidak berkutik sedikitpun di tempatnya.

Ahyoung menahan air matanya. Ia rasa ini memang pilihannya, pilihan terbaiknya. Junmyeon bukan orang yang pantas untuknya. Junmyeon adalah pria yang memiliki segalanya, dia anak konglomerat, dengan gelar-gelar pendidikan tinggi yang ia raih hanya beberapa tahun, termasuk istri dan calon anak. Membalas cinta seorang pria beristri memang bukan hal baik dan akan berujung sakit. Mereka adalah pembohong besar yang mengatakan bahwa cinta itu membuat bahagia.

___

Jisoo menyukai semua pelajaran akademik, begitu juga dengan musik dan seni. Tapi, Jisoo hanya membenci satu hal dalam pelajaran seni. Menggambar. Jisoo tidak pandai menggambar. Orangtuanya memiliki bakat tersebut, sayangnya tidak turun padanya.

Hari ini Guru Jo memberi tugas untuk menggambar dan bercerita bertemakan ‘Siapa yang ingin kau temui’. Jisoo punya seseorang yang ingin ia temui, seseorang yang selalu ia tanyakan selama hidupnya. Tapi, bagaimana cara ia menggambar seseorang tersebut jika melihat wajahnya saja tidak. Mungkin kata yang tepat adalah mengetahui siapa ayahnya saja tidak.

Mata Jisoo mengerling pada gambar milik Sarang di sampingnya. Seperti dugaannya, Sarang menggambar Ibunya meski tidak terlihat mirip, tapi terlihat bagus.

“Kau ingin gambar ayahmu?” tanya Sarang tanpa melihat Jisoo. Gambaran Sarang hampir selesai.

“Aku tidak tahu wajah ayahku.” Sarang yang sudah selesai dengan pekerjaannya mengalihkan pandangannya pada Jisoo yang sedang menatapnya kebingungan.

“Mau kubantu?” Jisoo mengerutkan keningnya, biasanya Jisoo yang selalu membantu Sarang dalam banyak mata pelajaran. Kecuali, menggambar. Yeah, Sarang suka menggambar.

“Boleh.” Sarang menyapu pandangan sekitar, memastikan bahwa ia berada di zona aman saat membantu Jisoo. Sepertinya, Guru Jo sedang pergi ke ruang guru.

“Aku hanya akan membantu menggambar wajah ayahmu.” Jisoo mendesah sebal saat mendengar itu.

“Gamabarlah seluruh tubuh.” Sarang menggeleng menggoyangkan rambut panjangnya.

“Bukankah kau juga seperti itu? Saat aku meminta jawaban matematika, kau hanya memberi tahu caranya saja.” Sarang mengambil pensil dari tangan Jisoo, dan mulai menggoresnya di buku gambar Jisoo.

“Oh, jadi, kau ini gadis pendendam.”

“Tidak juga, aku hanya sedang malas.” Kepala gadis itu menoleh dan memberi kedipan mata pada Jisoo.

Jisoo melipat kedua lengannya dan menatap hasil gambaran Sarang yang bisa dikatakan, cukup lumayan. Ya, cukup lumayan.

“Jangan gambar bentuk wajahnya, biar aku saja yang menyelesaikan itu.”

Gadis itu menuruti perintah Jisoo. Bocah berumur hampir sepuluh tahun itu menyelesaikan tugasnya selama kurang lebih sepuluh menit, sebelum akhirnya Guru Jo datang dan sesi menggambar pun selesai. Satu persatu murid mulai berdiri di depan kelas menunjukan karya mereka dan bercerita.

“Aku tidak pernah melihat Ibuku secara langsung sejak dulu. Ayah mengatakan bahwa Ibu harus pergi ke tempat yang jauh untuk menyembuhkan penyakitnya. Aku kira Ibu tidak sayang padaku tapi ternyata itu demi kebaikanku. Lalu, beberapa hari yang lalu ibu datang menemuiku walau hanya sebentar, sebelum akhirnya kembali pergi. Aku ingin bertemu Ibu lagi.”

Guru Jo tersenyum saat Sarang menyelesaikan ceritanya lalu memberinya tepukan tangan yang di ikuti oleh yang lain.

“Selanjutnya?” Jisoo berdiri dan maju ke depan seraya membawa gambarnya. Ia merentangkan kertas ukuran A3 tersebut, sontak Guru Jo dan murid lain menatap bingung gambaran Jisoo―dan Sarang.

“Aku menggambar Ayahku. Selama hidupku, aku belum mengetahui siapa dan bagaimana rupa Ayah. Jadi, aku menggambarnya dengan tanda tanya di wajahnya. Bibi Jung bilang, wajah Ayah mirip denganku. Aku ingin bertemu dengan Ayahku.”

___

Ranting-ranting pepohonan dan salju tipis yang menyelimuti tanah di bahu jalan, serta sebuah gunung yang membentang memberi panorama yang indah bagi setiap orang yang melintas di jalan ini. Tapi, Park Ahyoung justru memberi aura muka sebaliknya. Ia melanggar janjinya dengan Jisoo untuk selalu tersenyum dalam keadaan apapun. Mungkin, ia bisa saja menepati janjinya kalau saja dia tidak dipaksa oleh Do Kyungsoo untuk mengunjungi temannya di wilayah dekat pedesaan. Di cuaca mendung seperti ini.

Setelah lama menempuh perjalanan, mobil Kyungsoo berbelok menuju suatu tempat. Lalu, tak lama tampak sebuah bangunan khas Tiongkok yang indah. Dilihat dari bangunannya saja, Ahyoung sudah bisa menebak kalau tempat ini bukanlah tempat murah.

Mobilnya sudah terparkir dengan rapi di parkiran yang sudah di sediakan. Ia tak percaya ada tempat sebagus ini di daerah yang bisa dibilang cukup terpencil.

Kyungsoo melepas seat belt dan keluar dari mobilnya, tanpa mengucap sepatahkatapun pada Ahyoung ia melenggang memasuki tempat tersebut. Wanita itu menghela napas, mencoba menahan emosinya yang sedari tadi tersulut karena pria itu.

Ia mengikuti pergerakan dan mengekori langkah Kyungsoo, netranya melihat dan mendengar pria itu menaiki tangga setelah bertanya pada seorang pelayan. Well, kedengarannya pria bertubuh tanggung itu cukup pandai berbahasa Katonis.

Di sana ia bisa melihat beberapa pasangan yang para prianya kini menyapa Kyungsoo hangat. Wajah-wajah pria itu terlihat tidak asing. Oh, ia ingat, mereka semua adalah seniornya saat kuliah.

“Kau jahat sekali, menikah tidak mengundangku, Luhan.” Pria kebangsaan Cina yang bisa dikatakan ‘selebriti’ di kampusnya dulu, hanya tertawa.

“Kau lebih jahat, menyembunyikan pernikahan selama lebih dari satu tahun dari kami.” tukas pria jangkung dengan proposi tubuh pas bernama Park Chanyeol. Tanpa sadar, Ahyoung merasakan dadanya berdenyut. Ugh! Perasaan apa itu?!

“Benar.” Luhan membalas seruan Chanyeol, lalu mereka tertawa.

“Oh, ya. Ini istriku, namanya Xioxi.” Wanita perpenampilan elegan itu tersenyum dan bersalam dengan Kyungsoo dan Ahyoung.

“Omong-omong, kau sudah punya anak belum, Yeol?” Chanyeol merangkul bahu istrinya yang berkebangsaan Korea-Cina itu.

“Tentu saja, sudah.” Jawab Chanyeol penuh bangga. Kyungsoo mengangguk mengerti, lalu tiba-tiba ia memeluk pinggang Ahyoung.

“Aku yakin kalian masih ingat istriku ini.” Seketika napasnya berhenti. Ia menoleh dan melayangkan tatapan pada Kyungsoo yang seolah mengatakan; Hei, apa yang kau bicarakan?!

Of course. Apa kabar, Ahyoung?” Chanyeol mendekat dan berasalaman dengan Ahyoung.

“Ba-baik.” jawab wanita itu kaku.

“Bagaimana dengan Jisoo?” Ahyoung tergagap, membuat Kyungsoo dengan sigap menjawab.

“Jisoo sudah besar. Dia sudah berumur sepuluh tahun. Ya, bulan ini dia genap berumur sepuluh tahun.”

“Kalau begitu, selamat atas ulang tahun Jisoo. Semoga ia menjadi anak yang berguna.” ujar Luhan seraya memukul bahu Kyungsoo.

“Ya, katakan juga bahwa kami rindu padanya.”

Ahyoung hanya terdiam. Mereka tahu tentang Jisoo?

“Ada rencana untuk memiliki anak lagi?” tambah Luhan dengan tatapan mata yang sulit diartikan.

“Masih dalam proses.” Jawab Kyungsoo enteng.

Ugh! Ahyoung benar-benar muak dengan Kyungsoo.

“Maaf, kami izin ke kamar mandi.” Ahyoung tersenyum dan pamit izin pergi. Ia menarik lengan Kyungsoo menuju suatu tempat, yang terpenting menjauh dari teman-teman Kyungsoo.

“Hei hei hei!” Ahyoung menghempaskan tangan Kyungsoo kasar. Ia benar-benar kesal!

“Kau ini orang gila atau penderita Alzheimer sebenarnya?!” Kyungsoo menjengitkan sebelah alisnya, ia benar-benar bingung dengan perilaku wanita di hadapannya ini.

“Tidak keduanya, tentu saja. Aku norm-“

“Aku sedang tidak bercanda!” Kyungsoo memilih untuk bergeming. Sepertinya Park Ahyoung benar-benar marah.

“Kau tahu, aku sangat kesal dengan ucapanmu.” Napas wanita itu terlihat menggebu-gebu. Tanganya mengusap wajah kesal.

“Kita memang pernah menikah sampai aku memiliki Jisoo. Tapi, kau tahu, bukan? Itu adalah masa lalu. Aku tidak suka mengungkit itu.” Pria itu menghela napasnya.

“Oke, aku tidak akan mengungkit itu lagi. Dan aku minta maaf telah membuatmu kesal.” Kyungsoo mengangkat kedua tangannya berharap emosi wanita di hadapannya segara turun.

“Mari kita minum sepuasnya.” tawar Kyungsoo sebagai bentuk perdamaian, ia menarik lengan Ahyoung kembali menuju tempat di mana teman-temannya berada.

Men, pesan sepuas kalian, aku yang traktir.” Luhan dan Chanyeol menjengitkan sebelah alisnya dan menatap satu sama lain. Oh, apa telinga mereka tak salah dengar?

“Apa aku tidak salah dengar?”

“Tidak.” Seketika seringai muncul di bibir mereka. Well, biasanya Kyungsoo paling pelit diantara mereka jika masalah uang, meski pria bermarga Do itu adalah anak pengusaha kaya.

“Aku sangat ikhlas jika kalian ingin balas dendam padaku.” ucap Kyungsoo pasrah.

Chanyeol dan Luhan ber-highfive sebelum akhirnya mengambil meja dengan istri masing-masing.

Wajah Ahyoung tampak masih kesal saat Kyungsoo sudah mengambil tempat bangku tepat di seberang wanita itu. Ia memerhatikan wanita itu dengan terang-terangan kali ini, tidak seperti tadi pagi. Sebelumnya ia jarang melihat ekspresi sangat jengkel di wajah Ahyoung. Oh, ia sering menunjukan itu, saat sedang hamil Jisoo. Ya, saat mengandung, Ahyoung berubah menjadi wanita yang mudah jengkel sekaligus manja padanya. Wanita itu seperti pengidap Bipolar saat mengandung Jisoo. Emosinya mudah berubah-ubah secara drastis. Ck, hebat!

Sang pelayan datang mendatangkan beberapa botol minuman dan sedikit camilan makanan. Ia mengucapkan,”Selamat menikmati.” dengan dan logat bahasa Katonis. Kyungsoo hanya bisa mengucapkan kata terima kasih dengan bahasa yang sama.

“Wajahmu itu mengingatkanku saat kau sedang mengandung Jisoo.” Ahyoung yang hendak menengguk minuman tersebut menjeda kegiatannya.

“Bisa kita minum dalam damai?” Mata bulat kecil itu menatap Kyungsoo masih sama seperti beberapa menit yang lalu. Tajam dan penuh kekesalan.

“Apa perkataanku ini mengajak ribut? Aku hanya mengingat masa itu jadi aku katakan. Aku mengatakan apa yang ada di pikiranku.” Jawab Kyungsoo cuek lalu meminum minumannya.

“Ya, membahas perkara masa lalu terdengar mengajak ribut di telingaku.”

“Oke, aku tidak akan membicarakannya lagi.” Sergah Kyungsoo cepat.

Setelah itu, Ahyoung terlihat merogoh-rogoh tasnya dan mencampakan minumnya selama beberap detik. Kali ini Kyungsoo tidak memerhatikanya, karena sebuah pesan masuk dari Baekhyun yang berisi bahwa, ia dan Ahyoung bisa pulang lusa pagi karena badai sudah berlalu meski cuaca belum membaik. Itu bukan hal penting sebenarnya, karena ia akan senang hati berlama-lama di negri ini dengan Park Ahyoung.

Ia mendengus saat tiba-tiba sebuah asap rokok menyapa indera penciumannya.

“Yak!” Pekiknya saat benda yang terselip diantara celah bibirnya berhasil di rampas oleh Do Kyungsoo sialan. Begitu juga rokok-rokok yang lain, dan tak lupa pematiknya.

“Aku akan membelikanmu minum sampai kau mabuk sekalipun. Tapi, aku tidak akan mengizinkanmu untuk merokok. Rokok sangat bahaya.” Ahyoung tertawa remeh. Ia berusaha mengambilnya kembali, namun sayangnya Do Kyungsoo berhasil menjauhkan dari jangakauannya.

“Kangker paru-paru, jantung, gangguan rahim, kangker mulut, dan masih banyak lagi. Jisoo akan bersamaku jika kau sering seperti itu.” Ahyoung kembali mengeluarkan tawa remehnya.

“Atas dasar apa kau melarangku?”

“Anggap saja ini perintah dari sang atasan.”

___

“Luhan, kau tau hotel dekat sini?”

“Ada apa memangnya?” ujar Luhan balik bertanya.

“Dia mabuk berat dan di luar hujan sangat deras.”

“Aku dan Chanyeol sudah menyewa hotel, kau tahu ‘kan kalau rumah kami sangat jauh dari sini, ketimbang dirimu ke hotelmu? Kupikir hari ini tidak akan hujan selebat ini, jadi kita tidak menyewa untukmu.”

“Sialnya sudah penuh.” Tambah Chanyeol membuat Kyungsoo mendesah.

“Aku kurang tahu daerah sini, kau bisa bertanya pada pelayan, mungkin mereka tahu.”

Kyungsoo mengangguk. Ia mempersilahkan kedua temannya pergi dan mengakhiri acara reuni hari ini.

.

.

Pelayan cafè tersebut berkata kalau di sekitar sini ada sebuah penginapan, tapi hanya berupa motel yang berdiri beberapa meter dari sini.

Penginapan kecil yang hanya menyediakan sedikit tempat dengan harga sewa jauh dikatakan murah. Pemiliknya adalah wanita paruh baya, sialnya dia sangat cerewet dan menyebalkan.

“Di sini hanya tersisa satu ruangan, dan saya tidak akam menyewakan pada dua orang lawan jenis yang tidak terikat pernikahan.”

Yeah, kurang lebih seperti itu artinya. Kyungsoo benar-benar bingung, dan situasi semakin keruh saat Ahyoung muntah dan mengotori pakaiannya sendiri. Untung saja pakaian Kyungsoo berhasil selamat dari cairan menjijikan itu. Ugh!

Kyungsoo menggunakan segala cara. Sampai akhirnya nenek tersebut luluh dan mengizinkannya, dan juga memberi pinjaman beberapa helai pakaian untuk Ahyoung.

Ruangannya sangat kecil. Hanya terdapat ranjang dan lemari di dalamnya. Ranjangnya hanya muat untuk satu orang, dua pun bisa sebenarnya, hanya saja sangat sempit. Kyungsoo tak punya pilihan ia harus menggantikan pakaian dan tidur berdempet dengan Park Ahyoung.

“Berengsek.” umpat wanita itu, namun, itu tak membuat Kyungsoo menghentikan aktifitasnya menggantikan pakaiannya.

“Aku benci mabuk.”

Kyungsoo sudah sering melihatnya meracau tidak jelas saat mabuk. Sampai-sampai bercerita tentang keluarganya yang tak seharusnya ia tahu.

“Kau tahu, dulu Do Kyungsoo akan menyetubuhiku saat seperti ini.” Ia tertawa tidak jelas, lalu kembali melanjutkan perkataannya. “Tapi, sekarang tidak. Tidak ada lagi yang bisa melakukan seperti itu padaku.”

“Aku bisa, Park Ahyoung. Apalagi melihat tubuh atasmu yang tidak mengenakan apapun.” Gumam Kyungsoo membalas ucapan Ahyoung.

“Jisoo, ayahmu sudah muncul. Do Kyungsoo pamanmu itu adalah ayahmu. Bukankah dia begitu berengsek mengaku dirinya sebagai seorang paman bukannya ayah? Dia sudah meninggalkanmu, dia sudah mengkhianati ibu dan dirimu, Jisoo.” Kyungsoo menghentikan pergerakannya, ia menatap wajah wanita itu yang tampak sedih.

“Seperti itu jauh lebih baik, Jisoo. Ayahmu sudah tidak ada.”

Kali ini Kyungsoo yang tertawa. Oh, ia benar-benar akan menyetubuhi wanita di hadapannya kalau saja dia adalah pria berengsek seperti yang wanita itu olokan.

“Jadi, kau ingin aku mengaku sebagai ayah Jisoo? Kau tidak takut Jisoo akan memilihku daripada dirimu?”

“Jisoo akan memilih diriku karena aku ibunya.”

Napas Kyungsoo sudah kembali teratur saat ia mengancingkan kancing terakhir. Ia menatap seonggok pakaian tersebut, kemeja, tank top, bahkan bra-nya yang tampak kotor terkena muntahan. Ia harus mencuci pakaian itu agar setidaknya bisa sedikit mengurangi baunya. Walau ia tak yakin akan kering tepat besok pagi.

Kyungsoo mengampiri nenek pemilik penginapan dan meminta sejumlah sabun untuk menyuci. Nenek berkata untuk meninggalkan cucian tersebut padanya, pencucian sudah termasuk servis.

Huh, leganya. Sedari tadi tulangnya terasa ditusuk-tusuk oleh dinginnya udara. Menyuci di tengah malam dengan keadaan suhu udara yang melampaui titik beku benar-benar belum pernah ia bayangkan. Kedengaran berlebihan memang, tapi ia pria, pria kaya.

___

Rasa sakit yang teramat seketika menyerang kepalanya saat dirinya berhasil terjaga. Perutnya terasa berputar-putar. Sudah lama Ahyoung tidak merasa seperti ini, mabuk berat yang berakhir merepotkan esok harinya.

Tubuhnya sudah tidak bisa menahan lebih lama, ia segera bangkit dan pergi ke suatu tempat yang bisa menampung isi perutnya. Di dalam ruangan tersebut tidak ada toilet maupun kamar mandi, jadi ia memilih memuntahkan di selokan yang sedikit jauh dari ruangan tersebut.

Perlahan kesadarannya kembali saat setelah membuang isi perutnya. Matanya memindai sekitar, merasa hal aneh dengan tempat di mana ia berada. Lingkungannya tampak asri, meski saat ini bukan klorofil yang mendominan, melainkan salju putih yang sudah turun sedari kemarin. Bangunan di belakanganya, sebagian besar berbahan dasar kayu.

“Wait!” ucapnya spontan saat penglihatannya menangkap beberapa helai pakaian uang tergantung di seutas tambang yang tidak tebal. Ia menghampiri pakaian tersebut, memastikan bahwa itu bukan benar-benar miliknya. Tangannya seketika meraba-raba sekitar bagian depan tubuhnya.

“Siapa yang … argh!” geramnya tertahan saat melihat pakaian tua yang ia pakai bukan miliknya.

Ia kembali menuju ruangannya dan menemukan … Oh, ia lupa dengan pria yang sedang asyik tidur di atas ranjang kecil itu.

“Do Kyungsoo! Kau benar-benar keterlaluan.” pekiknya tepat di hadapan rongga telinga Kyungsoo. Suara cemprengnya berhasil membuat pria itu terbangun dari tidurnya.

“Ada apa?” Nyawanya benar-benar belum terkumpul, begitu juga dengan kerja fungsi otaknya. Dan lagi dirinya sudah mendapati sapaan selamat pagi yang tak mengenakan.

“Kau sudah keterlaluan, Do Kyungsoo.” ucap geram Ahyoung tertahan.

“Keterlaluan?”

“Menggantikan pakaianku tanpa seizinku! Benar-benar keterlaluan.”

“Apanya yang keterlaluan? Menolong seseorang agar tidak sakit karena memakai pakaian yang terkena muntahannya sendiri dan memberi penginapan gratis agar kau bisa tidur dengan nyaman. Seharusnya kau berterimakasih padaku.” jawab Kyungsoo dengan suara seraknya. Sebenarnya ia sudah bangun sedari tadi. Hanya saja … entahlah, tubuhnya susah untuk bangkit.

Are you kidding me?! Dengar! Kau seperti pria cabul yang mentraktirku minum sepuasnya lalu membawaku ke penginapan dan tidur seranjang denganku, lalu parahnya kau menggantikanku pakaian dan lebih-lebih parahnya ….” Ahyoung mengembuskan napasnya, Kyungsoo hanya bergeming menatap wanita di hadapannya itu.

I saw my bra over there.

Kyungsoo bangkit dari tidurnya-dengan malas-dan menghadap pada wanita yang tampak seperti baru saja mendapat musibah perampokan. Ia menelisik wajahnya dan benar saja, peluh sebiji jagung terlihat di pelipisnya, beberapa titik keringat pun terlihat di leher dan bagian dada atasnya. Ahyoung tidak menunjukan perubahan untuk kebiasaan yang satu ini. Cemas yang berlebihan.

“Lalu?” ujar Kyungsoo pelan.

“Kau melihat semuanya!”

“Tidak semua. Aku tidak melepas celanamu.” Refleks, Ahyoung langsung mengalihkan pandangannya pada celana yang ia kenakan. Yeah, pria itu benar.

“Lagipula, aku sudah melihat semuanya puluhan kali.”

“Berapa kali aku katakan untuk berhenti bicara tentang masa lalu!”

“Aku hanya mengatakan fakta yang sebenarnya. Aku tidak mempunyai niatan apapun selain menolongmu. Dan tentang kita yang tidur satu ranjang, semalam kita terjebak badai dan mau tidak mau membuat kita menginap di sini karena hanya ini satu-satu penginapan terdekat dari tempat kemarin dan sayangnya hanya terdapat satu kamar.” Kyungsoo menghela napasnya pelan. “Kuharap kau mengerti. Dan aku bukanlah pria berengsek lagi yang meninggalkan kalian.”

___

Ahyoung menyibak gordein kamar hotelnya yang menampakan tetes-tetesan air hujan yang menempel pada kaca jendela. Ia melirik jam yang kebetulan terjangkau oleh penglihatannya. Waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari. Mestinya ia tidur nyenyak malam ini, karena penerbangan akan take off besok pagi.

Hal yang pertama membuatnya susah tidur adalah siang tadi ia tidur terlalu lama. Kedua, ia belum membelikan Jisoo hadiah. Dan yang terakhir adalah … Do Kyungsoo.

Sejak pertemuan pertama setelah hampir sembilan tahun tidak bertemu. Lelaki itu tak hentinya memporak-porandakan dlpikirannya. Ahyoung tidak ingin mengambil pekerjaan ini sebenarnya. Tapi, saham perusahaannya turun drastis, membuatnya harus turun tangan, sedangkan klien -klien yang lainnya, ia serahkan pada Seohee. Dia lulusan desain interior, jadi dia cukup bisa menangani hal itu. Do Kyungsoo memberinya harga cukup fantastis, mengingat kesulitan bangunan yang ia rancang, belum lagi interior tiap inci bangunan diserahkan semua padanya. Dan kontraknya saja sampai lima tahun. Pernyataan tersebut membuatnya seakan membunuhnya secara perlahan. Sekali lagi, Kyungsoo memang berengsek.

Malam ini cukup dingin, meski suhu sepertinya tidak mencapai titik beku. Ia ingin meminum cokelat panas sebenarnya, tapi demi apapun ia malas untuk beranjak dari tempatnya. Matanya masih asik memandangi tetesan tersebut, dan itu membuat pikirannya kian bercabang. Apalagi mengenai Kyungsoo. Seperti,

Apa yang membuatnya ia kembali?

Apa ia ingin merebut Jisoo darinya karena ia tidak ada kemauan menikah lagi dan menjadikan Jisoo sebagai ahli warisnya?

Atau ia benar-benar kembali karena menebus kesalahan terdahulunya dan merubah hidupnya seperti dahulu? dengan kata lain kyungsoo mengajakanya rujuk.

Kyungsoo terlalu sulit untuk di prediksi dan  selalu mengejutkannya. Entah itu bentuk perkataannya atau perilaku. Tapi, ia tidak mau pertanyaan-pertanyaan tersebut terjadi. Prinsipnya adalah tidak akan jatuh di lubang yang sama. Pria adalah orang yang harus dihindari. Semua yang ia pegang teguh terjawab, mulai dari sang nenek, ibu, bahkan dirinya ikut membuktikan itu semua.

___

Inchon Airport

Baekhyun terjolak saat mendapati Kyungsoo sudah di dekatnya. Pagi ini dia menggantikan supir pribadi Kyungsoo, yang kebetulan sedang terserang flu.

“Bagaimana penerbangannya, Kyungsoo?” tanya Baekhyun.

Sungguh, dia adalah sekretaris kurang ajar kalau saja Byun Baekhyun itu bukanlah temannya.

“Sangat baik. Seharusnya kau bekerja di BMKG saja atau sekalian saja menjadi pawang hujan, bukannya menjadi sekretaris.” ucap Kyungsoo … entah bisa disebut pujian atau ejekan. Oh, kapan Do Kyungsoo benar-benar memujinya? Dunia bisa terbelah jika itu terjadi.

“Apakah dia Park Ahyoung?” tanyanya lagi dengat intonasi yang kedengaran terkejut saat baru menyadari seorang wanita berada di belakang Kyungsoo.

“Yeah.”

Baekhyun melangkahkan kakinya mendekat pada Ahyoung, ia mengulurkan tangannya lalu memperkenalkan dirinya.

“Aku Byun Baekhyun. Aku kemari menjemput sekretarisku.”

“Siapa yang kau sebut sekretaris itu, Byun?”

Baekhyun hanya tersenyum lalu mengakhiri jabatan tangannya.

“Aku bercanda. Kau pasti Park Ahyoung, kan? Mari kubantu membawakan barang-barangmu.” Ahyoung hanya mengangguk dengan wajah terbingung melihat pria bermata sipit yang sangat aktif itu.

“Hei, yang ini juga bawakan.” ujar Kyungsoo saat melihat Baekhyun yang sudah memasukan barang Ahyoung kedalam bagasi langsung berjalan dan masuk kedalam mobil.

“Kau itu laki-laki, Do.”

“Sialan. Akan ku pecat kau, Byun.”

“Pecat saja~”

Yeah, he is really an (jerk) annoying man. Damn! Dosa apa Kyungsoo menerima sekretaris macam Byun Baekhyun.

.

.

Ahyoung mengernyit saat melihat jalanan yang tengah mereka lewati sangatlah familiar. Praduganya terwujud setelah mobil yang ia tumpangi turun di depan sebuah rumah yang dibangun berbahan dasar kayu dengan halaman yang ditumbuhi pepohonan yang tinggal ranting, tentu saja.

Kyungsoo menarik lengan Ahyoung begitu ia turun dari mobil dan pergi menuju rumah tersebut. Wanita itu hanya diam dan membiarkan Kyungsoo menggenggam lengannya.

“Nenek! Ayo kejar aku.” Pekik seseorang dari dalam rumah. Lalu, langkah lari seseorang terdengar dan tak lama seorang bocah lelaki keluar dari sana.

“Jisoo!” panggil Ahyoung. Kehadiran Jisoo menyadarkannya akan tangan Kyungsoo yang tengah menggandengnya. Ia menghempaskan tautan tersebut sebelum berlari menuju pria kecil yang ia rindukan belakangan ini.

“Ibu!” Jisoo memeluk Ahyoung erat. Ia juga rindu pada ibunya, rasanya seperti setahun tidak menghabiskan waktu bersama.

“Jisoo kira ibu tidak akan pulang hari ini.”

“Tentu saja, ibu akan pulang. Ibu tidak ingin melewatkan hari ini. Selamat ulang tahun, sayang. Maaf, Ibu belum sempat membeli hadiah.”

Awalnya Jisoo memasang wajah cemberut, namun saat matanya menangkap sesosok pria yang berdiri tak jauh darinya, bibirnya mengulas senyum.

“Tidak apa, Bu. Asal merayakan bersama Nenek, Bibi Jung dan Paman Kyungsoo, Jisoo sangat senang.”

___

Kyungsoo menolehkan kepalanya ke belakang, menelisik pemilik tangan yang baru saja menepuk bahunya. Semburat senyum khas berbentuk hati itu terpancar. Itu Nyonya Park, tak lain adalah ibu Ahyoung. Wanita paruh baya itu mengambil posisi duduk di samping Kyungsoo, ikut menikmati butir-butiran salju yang turun menyelimuti bumi.

“Aku akan berusaha lebih keras.” ujar Kyungsoo memecah keheningan.

“Ibu tahu.” Sahut Nyonya Park tanpa mengalihkan pandangannya dari apa yang menjadi daya tarik penglihatannya.

“Dia seperti ayahnya, keras kepala, susah mempercayai seseorang dan arogan.” Wanita tua itu menghela napas. “Ahyoung kecil sudah mengalami banyak hal yang tak pantas untuk umurnya. Dimulai dari Ayah Mertuaku yang sering melakukan kekerasan pada Ibu Mertuaku. Ibu Mertua meninggal karena sakit jantung yang dideritanya sejak lama. Tapi, Ahyoung mengira bahwa Ayah Mertua yang membunuh Ibu. Sifat keras itu turun pada Ayah Ahyoung. Dan hingga detik ini Ahyoung sama sekali tidak ingin bertemu Ayahnya.” Ibu Ahyoung tersenyum dan menggenggam lengan Kyungsoo lembut.

Kyungsoo sudah tahu semuanya. Ia masih ingat apa yang Ahyoung gumamkan mengenai cerita ini saat mabuk. Tapi, ia tidak tahu kalau sebenarnya penyebab sang nenek meninggal ternyata karena sakit jantung.

“Ibu tidak mengerti mengapa tiba-tiba ia menikah dan tiba-tiba berkata kalau ia sudah bercerai denganmu. Dia selalu menghindar jika kutanya seperti itu. Ibu berharap padamu untuk tidak putus asa dan tetap sabar menghadapinya.”

.

.

.

.

To Be Continue …

Makin gaje kan? -_- aku tuh kayanya emg ga bakat buat cerita yang alurnya tarik ulur karena aku pribadi bukan orang yang suka basa-basi. Wkwkwk 😀

Kayanya aku bakal jarang post soalnya udh kelas tiga 😥 baru jadi anak kelas tiga satu bulan udh ribet bgt bnyak tugas, bnyak bayaran, blm lagi pelajaran tambahan buat kepala makin puyeng -_- njir, gue jdi curhat :v

Dan kayanya lagi aku harus mem-protect dibagian akhir deh. Bukan kayanya, emg iya :D. Aku bukan orang yang haus komentar, aku cuman pengen dpet feed back. Entah itu positif atau negatif, atau bahasanya jermannya mah diwaro :v

Jangan lupa komentarnya ya …

Salam

Elfeetoile♥

Advertisements

13 thoughts on “It’s Our Fate? #3 [Back To Past]

  1. Kenapa gak pede el, bagus gini ceritanya.. ud aku tunggu2 dr kapan bulan.. wkwkwkwk asli penasaran ama ending cerita ini.. semangat trs yah sekolah ato nulis ffnya.. hehe ditunggu selalu lanjutan ff ini

    Like

  2. annyeong numpang bc yh gk sengaja nemu diggl biasa’a bc ff’a kyuhyun kalopun bc exo pernh tp sehun kris luhan yg kyungsoo jarang maka’a nyobain bc gmn rasa’a kkkk
    wel gk buruk seru bgt malah cerita’a diliat dari judul’a ma gendre’a kyk’a bgs trus pas bc yh gk nyesel sdh bc 😀

    Like

  3. Makin Gaje???
    ahhh, nggak sih. aq malah menikmati bgt.
    Ngeliyat tingkah keras Ahyoung, dan kecuekannya Kyungsoo yg bikin org snewen itu bner2 hadirin sensasi yg beda.

    Lhoo ini next nya udah mau Final Chapter toh?cepet bgt. .

    tetep smangat dek. Gak usah keburu2 ngepost. selonggarnya kmu aja. yg pntg gak off ampe berbulan2.

    Like

    1. final chapter? masih agak jauh kok kak … cuman mau ngasih tau aja klo bakal di protect seperti biasa 😀 wkwkwk

      Ga bakal bisa hiatus aku mah, kak. Tangan akunya suka gatel klo ga nulis atw ngepost hehe 😀

      Terimakasih komentarnya kak rin^^

      Like

  4. Banyak momen d.o ahyeong nya yaa. Pengen ada momen mereka ber3 gitu. Dan semoga ahyeong nanti melembut ke d.o dan mereka bisa bersama kembali,yeayy. Ditunggu kok kelanjutannya. Keep writing and fighting!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s