It’s Our Fate? #4 [Trauma]

PicsArt_07-17-04.01.23

2016 © Elfeetoile

Starring With : Park Ahyoung [OC/You] Do Kyungsoo [EXO’s D.O.] Park Jisoo [OC] | Also Support : Byun Baekhyun [EXO’s Baekhyun] Mrs. Park [As Ahyoung’s Mom] Kim Sohyun & Other |  Genre : Family, Romance, Sad, Comfort, Marriage life slight! | Rating : PG+17 | Lenght : Chapter | Disclaimer : This Story Line Is Mine, Please Don’t Copy Paste.

Previous : 

#1 [Meet Again] | #2 [The Truth] | #3 [Back To Past]

.

“You Can Call It Fate, If You Already Work Hard.”

.

It’s Our Fate? #5 [Trauma]

___

Jisoo tidak akan melupakan hari ini. Seperti biasa, Jisoo tidak akan melupakan kejadian di tiap hari ulang tahunnya. Tapi, hari kelahirannya kali ini benar-benar spesial. Di meja makan neneknya terdapat Paman Baekhyun, Nenek, Ibu, dan ….

Paman Kyungsoo.

Jisoo hanya merasa ulang tahun kali ini begitu lengkap. Seperti ulang tahun anak lainnya yang setiap tahunnya dirayakan bersama Orangtua mereka. Bolehkah Jisoo merasa seperti itu? Merasa seperti anak-anak yang mempunyai orangtua lengkap? Meski perayaan hanya dihadiri oleh beberapa orang kesayangan, kue ulang tahun dan sejumlah camilan buatan Nenek, tanpa hadiah, dan tanpa badut yang menghibur. Jisoo tidak butuh yang muluk-muluk, seperti ini pun sudah cukup. Jisoo cukup dewasa, karena ia pernah dan terbiasa menjalani pahitnya hidup dan melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa sulitnya mencari uang.

Perihal hadiah yang belum sempat terbeli oleh sang Ibu, terlupakan begitu saja saat Paman Kyungsoo benar-benar menepati janjinya untuk ikut merayakan. Jisoo tahu Paman Kyungsoo orang sibuk, dan sebuah kesenangan sendiri jika Pamannya itu datang.

Jisoo menatap mereka satu persatu yang sedang bertepuk tangan seraya menyanyikan lagu ulang tahun untuknya. Aura wajah mereka, terutama sang Ibu yang tak hentinya menarik senyum gembira. Begitu juga dirinya.

“Potongan pertama untuk siapa, sayang?” tanya Ahyoung saat Jisoo masih sibuk memindahkan kue yang ia potong untuk di pindahkan ke wadah kecil.

“Ibu.” Jisoo menyuapkan bolu cokelat itu pada Ahyoung, dan dihadiahi kecupan dalam pada pipinya oleh Ibunya itu. Posisi ibunya takan tergantikan oleh siapapun. Ibu adalah prioritas utama bagi Jisoo.

“Potongan kedua?”

Jisoo menimang-nimang seraya memotong kuenya perlahan. Mata besar itu menatap lama sepotong cake buatan Neneknya

“Paman Kyungsoo.”

Nenek hanya tersenyum. Posisinya kini sudah tergantikan, tapi ia malah senang akan keadaan ini. Jisoo sudah menganggap Kyungsoo seperti keluarga. Dan memang seharusnya seperti itu.

Jisoo menggeleng. “Maksudku untuk Nenek.”

“Tidak apa-apa. Kau bisa memberikan padanya kalau kau mau.” Nenek kembali menampilkan senyumnya.

Jisoo menghela napasnya pelan lalu menyuapkan pada orang yang di opsi pertamanya. Kyungsoo menyambutnya dengan membuka mulut dan menerima sepotong kue dari Jisoo.

Hatinya merasa berbunga-bunga. Ia merasakan bagaimana rasanya Kris yang sangat senang tentang perhatian kecil dari putrinya. Seperti menyuapinya atau bercerita ria. Dulu ia berkata Kris berlebihan karena terlalu senang akan hal sekecil itu. Kris bahkan meninggalkan ruang rapat saat tahu Xiaomei―putrinya―yang harus cepat dilarikan ke rumah sakit, padahal rapat akan berakhir dalam waktu beberapa menit.

Benar kata Neneknya bilang, anak adalah prioritas utama. Sebuah berkat dari Tuhan yang tak ternilai harganya. Sangat disayangkan ia telat merasakan semua itu. Dan ditambah pula Ibu Jisoo yang super keras kepala, membuatnya semakin sulit memperbaiki hubungan mereka.

Kyungsoo melirik Baekhyun yang ikut duduk menikmati butiran-butiran salju yang sedang turun. Mereka bergeming selama beberapa menit sebelum akhirnya Baekhyun mendesah dan mengeluarkan ucapan.

“Kau harus bekerja keras.” Kyungsoo mengangguk pelan. Ia tahu topik pembicaraan Baekhyun, Kyungsoo banyak bercerita padanya.

“Setidaknya mendapat satu dari tiga point itu mudah.”

Ia tertawa pelan dengan sedikit remeh terselip di sana. Baekhyun adalah orang dengan ekspetasi besar. Terkadang pria itu menganggap dunia ini seperti kartun Disney, kehidupan yang berakhir bahagia selamanya. Dia terlalu dini untuk memberi pendapat, dalam artian hidup Baekhyun masih terlalu mulus, ia belum pernah mendaki tebing seperti yang Kyungsoo, Ahyoung bahkan Jisoo rasakan.

Baekhyun orang berada dengan orangtua lengkap, rumahnya penuh kasih sayang dan kekasih yang sifatnya lebih dewasa yang selalu sabar di sisi Baekhyun. Belum lagi pekerjaan yang ia dapat dengan mudah. Yeah … perfect life.

“Tidak semudah itu, Byun. Kau pikir dia wanita seperti gadis-gadis yang berkencan denganmu?” Baekhyun menghela napasnya. Oke, ia lupa kalau Ahyoung adalah wanita dingin, keras kepala, yang sayangnya sangat menarik.

Baekhyun kembali bungkam. Otaknya sedang mengingat topik sangat menarik dibincangkan.

“Kudengar ibu menemuimu, Baek?”

Ah! Itu dia.

“Ya. Dan ada sesuatu yang akan kusampaikan padamu.” Merasa tertarik, Kyungsoo mengalihkan pandangannya pada Baekhyun.

“Kau tau Kim Sohyun?”

“Ya.”

“Bibi sudah menyukainya sejak lama. Sejak kau berpacaran dengan Chaeyeon. Dengar-dengar Sohyun pergi ke Kanada sewaktu kau menikah dengan Ahyoung untuk menyelesaikan studinya. Dan saat ini dia sudah kembali.”

“Lalu?”

“Dia setuju dengan saran Bibi untuk menikah denganmu.”

“Aku tahu itu akan terjadi.” gumam Kyungsoo datar. Baekhyun mendesah, ia yakin rencana Kyungsoo semakin terhambat karena perihal itu.

“Kali ini kau tidak boleh menyerah.” Baekhyun menepuk bahunya pelan. Kyungsoo tidak akan jatuh kedalam lubang hitam untuk yang kedua kalinya. Baekhyun tahu persis bagaimana sifat pria bermarga Do itu.

“Aku harus melakukan ini. Terlalu banyak dosa yang kuperbuat pada Jisoo dan Ahyoung.”

“Lalu, bagaimana rencanamu?”

___

Di luar sana hujan tampak sangat deras dan disertai kilat yang bergemuruh menyambar lapisan udara bumi. Suhu udara berada di titik beku yang kian menusuk tulang. Cokelat dan kopi hangat yang mengepul memenuhi meja pengunjung cafè yang terjebak hujan, sengaja berkunjung, atau sekedar menumpang berteduh mencari kehangatan.

Kyungsoo adalah salah satunya, ia baru saja sampai dan hujan deras turun tiba-tiba. Pria itu sengaja menemui seorang gadis yang terduduk di dekat jendela besar. Kehangatan muncul kepermukaan saat menatap wajah teduhnya tersenyum, namun kehangatan itu berganti memancarkan energi panas, ia merasa terbakar di tengah-tengah cuaca seperti ini. Tangannya masih terlihat mengepal hingga kubu-kubu jarinya memutih.

“Aku minta maaf.” Suara itu terpaut lirih dan bergetar. Sang Empu yang diajak berbicara hanya menatap titik-titik hujan yang menetes mengahantam litosfer bumi dan sebagian kecilnya menempel pada pemukaan kaca jendela.

Ia kira hari ini hari yang menyenangkan. Mendapat kado atau setidaknya ucapan selamat atas kemenangan lomba yang ia raih bersama timnya dan kata-kata sederhana namun selalu membuat hatinya tenang, kata-kata yang keluar dari bibir gadis di hadapannya, mengalun lembut menyapa pendengaran. Tapi, semuanya seakan sirna saat sebuah karton yang sialnya cantik menyakiti mata dan menyayat hati. Cuaca di luar sana telah mewakilinya.

“Aku tak bisa melakukan apa-apa.” ucapnya lagi setelah beberapa puluh detik terdiam sejenak

“Kau memang anak yang sangat berbakti pada orangtua.” sahut Kyungsoo dingin.

“Ibumu, orangtuaku. Kau pikir kita akan makan apa nanti kalau kita memaksakan kehendak? Kita belum lulus kuliah, dan Ibumu juga ayah ibuku akan menghapus nama kita dari daftar keluarga.”

“Oh, jadi harta ….” Kyungsoo tertawa pelan. Perjuangannya selama ini seakan tak berguna, sia-sia dan apapun itu namanya, yang terpenting adalah penyesalan yang sekarang ia alami sukar menemukan penyembuhnya.

“Aku tidak makan dan membayar kebutuhan dengan cinta, Kyungsoo.”

“Terserah. Aku tidak akan menghalangimu.” Kyungsoo menghela napasnya dan tersenyum remeh. “Kau benar, ternyata tidak lagi terikat denganmu sangat melegakan. Semoga si Dosen sialan itu bisa membahagiakanmu, Chaeyeon.”

Kyungsoo beranjak dan pergi meninggalkan gadis itu menuju kasir untuk membayar sebelum akhirnya benar-benar pergi.

“Selamat atas kemenangan timmu.”

___

Mimpi aneh mengantarkan Ahyoung terjaga di tengah malam. Ia menatap sekitar dan mendapatkan kamarnya yang bergaya tradisional, dan ia tidak melihat putranya yang sebelumnya ia dekap sebelum tidur. Tenggorokannya terasa kering, jadi ia memutuskan untuk pergi ke dapur dan mengambil segelas air untuk melembabkan kerongkongannya.

Ahyoung pergi keluar dan mendapatkan tiga orang pria yang tertidur nyaman di balik selimut tebal. Ya, tiga pria, Jisoo ternyata berpindah tidur bersama Kyungsoo dan Baekhyun. Matanya menatap mereka―Jisoo dan Kyungsoo―beberapa detik, seakan mereka adalah segitiga bermuda yang mampu menarik apapun di dekatnya. Darahnya terasa mendesir, lalu perasaan bersalah dan benci membelenggu hatinya. Bersalah karena selama ini Jisoo tidak merasakan hangatnya seorang Ayah dan benci pada pria itu yang meninggalkannya. Tidak, bukan begitu. Tapi, hatinya merasa seperti itu.

Beberapa saat kemudian kesadarannya kembali saat Baekhyun yang masih tertidur bergerak di bawah sana. Ia kembali melanjutkan tujuan sebelumnya keluar dari ruangannya. Ahyoung berjalan ke dapur mengambil gelas kaca dan dengan pelan ia menuangkan air putih ke dalam gelas tersebut.

Derap kaki pelan menggema di ruangan, sayangnya Park Ahyoung yang dalam keadaan setengah mengantuk tidak mendengar itu. Dan yang membuatnya sadar akan kehadiran seseorang itu adalah ketika sebuah tangan menyambar gelas yang baru saja selesai di isi oleh air. Wanita itu menatap sang empu sebal.

“Disini ada Baekhyun mengapa kau memakai pakaian seperti itu?” ujar Kyungsoo tanpa dosa setelah menengguk minumnya. Pria itu menatap wajah cuek dari lawan bicaranya yang kembali menuangkan air kedalam gelas baru. Oh, apakah ia masih merasa Ahyoung adalah istrinya? Anggap saja seperti pria penderita Alzaimer. Kyungsoo benar-benar gila!

“Memang apa urusanmu?”

“Aku hanya tidak suka.” Ahyoung memutar bola matanya, ia menaruh gelas itu di sembarang tempat dan pergi meninggalkan Kyungsoo.

Ya, tebakan kalian benar sekali. Kyungsoo tentu tidak membiarkannya pergi semudah itu. Ia menggapai tangan tersebut, membuat Ahyoung membalikan tubuhnya.

“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih karena telah merawat Jisoo dengan baik.” Ahyoung melepaskan genggaman itu dengan pelan.

“Itu memang kewajibanku. Dan sudah menjadi risiko aku merawatnya seorang diri. Sesuai dengan rencana awal pernikahan.” Ahyoung kembali akan melanjutkan langkahnya namun Kyungsoo lagi melakukan hal yang sama.

“Apa kau tidak merasa kasihan padanya?”

“Kasihan apa?” Kyungsoo menggenggam erat tangannya. Kali ini ia tidak akan melepaskannya. Ahyoung menatapnya tajam, lalu sesaat kemudian tersentak saat Kyungsoo beralih merangkul pinggangnya membuat Park Ahyoung menjadi geram.

“Lepaskan!” Desisnya, yang dikatai hanya tersenyum miring.

“Tidak kah kau kasihan pada Jisoo?”

“Dia bahagia denganku.”

“Kau tidak mengerti. Sadarlah! Kau terlalu fokus pada egomu. Aku yakin kau tidak pernah mendengarnya yang ingin ibunya menikah lagi agar dia bisa bermain dengan ayah. Jisoo mengerti perasaanmu, ia bahkan tidak mengungkit ayahnya yang seharusnya ia tahu. Ia tidak ingin kau marah dan kesal.”

Ahyoung termangu. Bergeming hanya menatap manik Kyungsoo dalam. Tubuhnya yang semula memberontak pun membeku.

“Disaat aku ingin merubah pemikiranku, kau malah pergi meninggalkanku dan Jisoo. Siapa yang harusnya sadar? Kau bahkan tidak merasakan bagaimana dulu aku hidup seorang diri dengannya. Dia mengerti karena Ayahnya tidak pernah berada disisinya saat ia butuh.”

“Aku hanya ingin hubungan kita seperti dahulu lagi.”

“Kau tidak punya alasan apapun untuk melakukan itu.”

“Aku punya tiga alasan kuat mengapa kita harus seperti yang aku katakan.”

___

Malam ini sangat indah. Rembulan dan bintang menghiasi langit. Cocok sekali untuk menghadiri acara pesta di kediaman Profesor Kim yang mengundang seluruh warga kampus. Termasuk Kyungsoo dan Ahyoung.

Kyungsoo yang sudah siap dengan setelan hitamnya mengembuskan napas melihat Ahyoung yang masih berpakaian rumahnya asik menonton televisi dengan semangkuk berondong jagung di atas perut besarnya. Oh, Tidak.

“Kau menindih anakku dengan mangkuk ini.” Kyungsoo memindahkan wadah tersebut ke atas meja. Ia mengusap perut besar tersebut, seakan ia menyapa Si Kecil di dalam sana. Ahyoung bergeming, seolah kegiatan yang Kyungsoo lakukan adalah sihir yang dapat membuatnya beku. Ahyoung meraba perutnya hanya memastikan calon bayinya baik-baik saja.

“Apa kau sedang bermain bola di dalam sana?”

Duk duk duk

Hentakan-hentakan kaki yang tiga bulan terakhir ini sering muncul, sangat terasa. Yang membuatnya terkadang tiba-tiba meringis, dan membuat tidurnya terganggu.

“Ra-rapi sekali.” gumam Ahyoung pelan.

“Cepat siap-siap. Kau tidak lupa ‘kan acara pesta di rumah Profesor Kim?” Wanita itu terdiam sejenak. Ia menggeleng pelan dan kembali menyimak apa yang sebelumnya ia tonton.

“Aku tidak mau bertemu dengannya.” Pria itu terkekeh, menarik tangan Ahyoung agar menuruti perintahnya. Kyungsoo merasakan hal yang sama. Ia tidak ingin datang ke acara itu. Tapi, ia hanya ingin menunjukan kalau ia pun bahagia walau tak bersama gadis itu. Gadisnya yang sudah menjadi milik orang lain.

“Aku ingin datang bersamamu, agar orang-orang tidak menyangka yang tidak-tidak tentangmu.”

.

.

.

Hampir semua pasang mata menatap pasangan yang berbalut pakaian formal berwarna hitam. Mereka bukan Pangeran dan Putri kerajaan Inggris, mereka hanya sepasang suami-istri muda yang akan mempunyai anak. Tangan Kyungsoo beralih merangkul bahu Ahyoung, meminimalis jarak keduanya.

Sekarang olokan dari sang pemilik mata terawab sudah. Park Ahyoung adalah istri Kyungsoo. Pria itu tersenyum, akhirnya ia bisa terang-terangan menunjukan Ahyoung sebagai pendampingnya dan tentu calon anak yang dikandungnya. Mungkin, sebagian wanita di sana merasa kecewa dengan hal itu. Kyungsoo muak mendengar gosip-gosip buruk tentang Ahyoung, hanya karena istrinya yang jarang sekali berinteraksi dengan pria-bahkan dirinya-membuat orang-orang berpikir yang tidak-tidak.

Chanyeol dan Luhan melambaikan tangan padanya, memberi kode non-verbal. Kyungsoo dan Ahyoung mendekat pada dua pria dengan senyum berengseknya, mereka memenuhi panggilan tersebut.

“Hai, Park Ahyoung.” Chanyeol tersenyum pada Ahyoung. Senyum berengsek tentu saja. Kyungsoo mengerlingkan matanya jengah.

“Hei! Dia sudah punya suami! Lihat, bahkan mereka akan memiliki anak. Jangan seperti bujang lapuk.” Cerocos Luhan. Menarik Chanyeol agar duduk di meja yang di sediakan.

“Aku senang kau bisa berjalan bersama Kyungsoo. Kau tahu Kyung- aww!” ucapan Luhan seketika berhenti saat sebuah kaki mendarat menghantam sepatu pentopelnya dengan keras.

Ahyoung hanya tersenyum menanggapi tingkah polah dua kawan suaminya itu. Mereka benar-benar orang yang asik diajak bicara dan bercanda.

“Omong-omong, berapa usia kandunganmu? Sepertinya kehamilanmu sudah tua.”

Ia mengangguk. “Benar, Chanyeol. Kurang lebih sudah delapan bulan.”

Luhan tersenyum menatap Chanyeol dan mereka ber-highfive sambil mengatakan,

“Akhirnya kita akan menjadi paman.” Secara bersama dengan nada bocah yang baru saja mendapat mainan baru.

Kyungsoo banyak cerita pada mereka. Meski mereka berengsek, namun untuk masalah hubungan dengan pasangan mereka ahlinya. Ya … mereka itu kan berengsek-sudah berapa kali mengulang kata ini?-masternya dalam hal merayu dan menjerat hati wanita. Kyungsoo sangat berterima kasih pada mereka yang sudah mengarahkan orang kaku sepertinya agar hubungannya dengan Ahyoung lebih hidup.

Di tengah-tengah acara Chanyeol dan Luhan tertawa, acara yang sebenarnya akan segera dimulai. Mereka semua merapat, terkecuali mereka berempat.

“Tunjukan kalau kau lebih bahagia.” bisik Luhan tepat di hadapan rongga telinga Kyungsoo. Sang Empunya hanya mengangguk. Inilah tujuan kedua mereka kemari. Yang pertama, meluruskan pemikiran orang-orang kampus terhadap Ahyoung, dan kedua, menunjukan bahwa Kyungsoo bisa bahagia tanpa Chenyeon, juga Ahyoung bisa bahagia tanpa Junmyeon, Profesor Kim. Sialnya para pengkhinat itu telah menjadi pasangan. Oh, takdir macam apa ini? Well, semua ini tidak ada namanya kebetulan. Ia percaya Tuhan sudah merancangnya sedemikian rupa.

Chanyeol dan Luhan beranjak. Mereka menggaet primadona-primadona kampus yang tengah berbicang untuk diajak berdansa. Oh, mereka memang pria berengsek yang sialnya tampan luar biasa. Lalu, mereka merapat pada kerumunan orang-orang berdansa di Hall.

Kyungsoo menatap Ahyoung yang sedang memijat-mijat kakinya. Oh, ia ingin sekali mengajak istrinya itu untuk berdansa.

“Aku ingin mengajakmu berdansa, tapi sepertinya kakimu sedang tidak baik untuk itu.” ujar Kyungsoo pelan. Ahyoung mendengar itu, walau suaranya hampir teredam oleh suara musik dengan volume besar.

“Aku baik-baik saja. Aku hanya senang memijat kaki akhir-akhir ini. Kau ingin dansa?” tanya Ahyoung.

“Kau mau?”

“Tentu.”

Mereka melakukan hal yang sama seperti yang Chanyeol, Luhan dan orang lain lakukan. Meski terasa aneh dengan perut besar Ahyoung di tengah-tengah mereka. Kaki mereka bergerak dengan tenang, ke kanan ke belakang, ke kiri lalu ke depan.

“Kau pernah melakukan ini?” Wanita di hadapannya menggeleng.

“Aku anak rumahan.”

“Aku suka itu. Meskipun mereka kurang bergaul dan menghabisi waktunya di rumah dengan setumpuk buku atau gadget.”

“Kau mengejekku?” Ahyoung balik bertanya.

“Aku bercanda. Ya, maksudku gadis seperti itu pintar memenage waktu, ahli berhemat dan mereka masih tersegel.” Bibir wanita itu tersenyum miring.

“Itu terdengar seperti sedang menggodaku.”

“Apa salah menggoda istri sendiri?”

“Tidak sih, hanya saja … sepertinya Luhan dan Chanyeol memberikan pengaruh aneh padamu.”

Sang Pria tersenyum. Kyungsoo merubah gaya berdansanya, ia melepaskan tautan tangannya dan beralih memeluk pinggangnya. Ia juga menuntun tangan Ahyoung agar merangkul lehernya.

“Ini pelukan aneh tapi menyenangkan.” gumam Kyungsoo pelan.

“Kita seperti tiga orang yang sedang berpelukan.” tambah pria itu.

Ahyoung hanya diam saja menikamati sentuhan kulit mereka yang memancarkan kehangatan dan kenyamanan satu sama lain.

“Aku ingin mengatakan sesuatu.” ujar Kyungsoo lagi.

“Apa itu?”

“Aku mencintaimu, Park Ahyoung. Bisakah kita hidup bersama selamanya?”

___

Jisoo harus mengubur dalam-dalam rasa penasarannya dan bersabar, Paman Kyungsoo tidak memberitahu tujuan mereka pergi. Memang sedikit menyebalkan tapi Jisoo menyukai kejutan meskipun ia tipe orang tidak sabaran.

Bangunan sedikit besar yang berjajar rapi, juga pepohonan yang tersusun menghiasi mata sepanjang sisi jalan. Paman Kyungsoo tidak akan mengajaknya menuju cafè, wisata alam maupun taman rekreasi. Spekulasi Jisoo. Ia hanya bisa mengamat, menganalisis dan menerka. Pemikiran Paman itu memang sulit ditebak.

“Paman, berapa lama kita akan sampai?”

Setidaknya Paman Kyungsoo akan menjawab pertanyaan yang satu itu.

“Sekitar dua puluh menit.”

Opsi yang Jisoo pilih adalah berkunjung ke rumah seseorang. Bocah itu tahu sekali tempat ini adalah kawasan komplek elit. Dan beberapa menit kemudian praduganya tepat sasaran. Mobil Paman Kyungsoo memasuki salah satu rumah yang gerbangnya dibukakan oleh penjaga pribadi pemilik rumah tersebut.

“Tuan Kyungsoo.” Jisoo melihat seorang pria setengah baya tersenyum pada Paman.

“Lama tak bertemu, Paman.” sapa Kyungsoo balik.

“Senang melihat Anda kembali.”

Percakapan pendek tersebut diakhiri dengan senyuman Paman dan mobil yang kembali melaju mendekat pada rumah besar yang tak jauh dari pandangan keduannya. Jisoo terkesiap melihat tatanan halaman rumah yang indah.

Kyungsoo turun dan membukakan pintu mobilnya untuk Jisoo yang hendak turun juga. Mata bulat bocah itu langsung berhenti menatap air mancur di tengah-tengah halaman. Kyungsoo tak tahu apa yang anak lelakinya itu pikirkan.

“Ini rumah Orangtua Paman.” Atensi Jisoo seketika beralih pada Kyungsoo.

“Mari kita buat kesepakatan sebelum masuk.” Mata Kyungsoo mengerling pada mobil merah yang tak jauh dari tempat mobilnya berparkir.

“Panggil Paman Ayah, Jisoo memanggilku Ayah saat di dalam nanti.”

“Memang kenapa?”

“Jisoo tidak suka?” Jisoo menggeleng. “Jisoo suka, tapi Jisoo ingin dengar alasannya terlebih dahulu.”

“Ada seseorang yang menghalangi Paman dan Ibumu berpacaran di dalam sana.” Mata laki-laki berumur sebelas tahun itu membola. “Jadi, Jisoo harus memanggilku Ayah agar Paman dan Ibumu bisa berpacaran, oke?” Jisoo mengangguk pasti.

Kyungsoo menggandeng lengan Jisoo dan masuk kedalam rumah. Dua daun pintu yang menjulang terbuka. Melihat interior yang elegan membuat Jisoo langsung berpikiran jika besar nanti ingin mempunyai rumah seperti ini.

“Hai, Kyungsoo. Hai, adik kecil.” Gadis berperawakan pendek dengan rambut digerai serta gaun santai membalutnya menyapa.

“Kyungsoo.” Di samping gadis itu terdapat wanita paruh baya yang rambutnya sudah memutih.

“Selamat Siang, namaku Do Jisoo.” Jisoo membukuk kecil mengakhiri perkenalan dan salamnya.

“Dia siapa?” Jisoo mengeratkan genggaman tangannya dengan Kyungsoo saat ditunjuk oleh wanita paruh baya tersebut.

“Ibu tidak boleh kasar pada cucumu. Kau ingat Ahyoung? Dan bukankah kami mirip?”

Senyum gadis itu seakan luntur begitu saja saat mendengar perkataan Kyungsoo. Banyak sekali hal yang terjadi selama ia pergi. Dan apa tadi katanya? Ahyoung? Do Jisoo? Bukankah kami mirip? Netranya seketika menatap lekat bocah lelaki yang memang terlihat seperti foto copy-an Kyungsoo.

“Ka-kau bercanda, Kyungsoo. Bukankah kau sudah janji akan menikah denganku setelah aku lulus kuliah?” Gadis itu berdiri dengan mata yang berkaca-kaca. Ia masih bingung akan situasi seperti ini, tapi ia adalah gadis sensitif dan mudah mengeluarkan air mata.

“Bukan aku yang menjanjikan, Sohyun. Tapi iIu.” Kyungsoo segera membawa Jisoo menuju ruangan yang sudah lama tak ia tempati. Tempat dimana ia menghabiskan waktu semasa kecil hingga remajanya.

Untuk kesekian kalinya Jisoo dibuat kagum dengan apa yang ia lihat. Ini kamar Paman Kyungsoo yang didominasi oleh warna abu, dipadu dengan sedikit warna maroon dan magenta. Yang buat ia lebih tertarik adalah sebuah bingkai-bingkai foto Paman Kyungsoo semasa kecil hingga dewasa. Jisoo melepaskan gandengan tangan yang terkait lengan Paman Kyungsoo selama beberapa menit yang lalu. Manik penglihatannya menyetuh foto Paman Kyungsoo bersama seorang wanita yang sangat ia kenali.

“Ini Ibu.” gumam Jisoo terdengar lirih.

“Sebenarnya Paman mengajakmu kemari ingin menyampaikan sesuatu.” Kyungsoo kembali membawanya kesebuah ruangan pribadinya yang selama beberapa tahun terakhir ia kunci rapat.

Jisoo melihat Kyungsoo tengah mengeluarkan bingkai-bingkai foto berdebu dengan ukuran yang berbeda-beda. Jisoo hanya terdiam, ia tidak dapat mencerna semua ini. Tak bisa dipungkiri ia hanyalah bocah berumur tak lebih dari sepuluh tahun.

Bingkai foto paling besar menarik perhatiannya. Foto pengantin yang dicetak besar.

“Jadi, Paman pernah menikah dengan Ibu? Artinya….” Jisoo mengalihkan pandanganya pada Kyungsoo. “Paman adalah Ayahku.”

Perasaan kecewa bercampur bahagia membelenggu hati Jisoo. Tangannya mengepal, dan air mata tidak dapat terbendung lagi.

“Kenapa Ayah muncul dengan mengenalkan diri sebagai orang lain?”

“Ayah tidak mungkin memperkenalkan diri seperti itu. Maafkan Ayah.”

Kyungsoo merengkuh tubuh Jisoo erat. Ini adalah saat yang tepat untuk mengutarakan semua kebenarannya, ia tidak mau membuat Jisoo benci padanya hanya karena ego pecundangnya. Biarlah terlambat daripada tidak sama sekali.

“Jisoo, Ayah mencintai Ibumu. Tolong bantu Ayah untuk bersama dengannya kembali.” Jisoo mengangguk.

“Pasti. Jisoo pasti akan membuat Ayah dan Ibu bersama kembali.”

“Rahasiakan ini dari Ibumu. Kita harus tunggu tanggal mainnya untuk memberitahunya.”

___

Ahyoung menatap jam analog yang tertempel manis di dinding bercat lembut yang sudah menunjukan pukul enam sore lebih dua puluh menit. Jisoo pergi dengan Kyungsoo sejak jam sepuluh pagi, bahkan sebelum putranya itu mengisi perutnya. Sebenarnya kekhawatiran yang sedang merambat pada batinnya hanyalah perasaan sia-sia. Jisoo pergi dengan Ayahnya sendiri, dan secara rasional delapan puluh persen aman. Ahyoung mungkin termakan berita yang ia tonton siang tadi, perihal Ayah yang membunuh anaknya sendiri dan setelah itu dimutilasi, oh! Kyungsoo tidak sejahat itu.

Ponsel yang basah oleh keringat karena digenggam terlalu lama ia gunakan untuk menghubungi Jisoo. Tapi, sayangnya nomor ponsel Jisoo sedang di luar jangkauan.

Ting!

Meskipun di luar sana sedang badai, telingannya mendengar suara pintu yang ter-unlock. Ia segera bergegas menemui Jisoo. Oh, hanya dirinya dan Jisoo yang tahu kata kunci rumahnya.

Dia mendapati dua pria dalam keadaan sedikit basah berdiri di depan pintu utama. Ahyoung tak menarik sedikitpun ujung bibirnya saat menangkap Kyungsoo sedang tersenyum padanya.

“Jisoo, cepat mandi.” Bocah lelaki itu menurut dan segara menjalani perintah Ibunya.

“Terima kasih sudah mengantarkan Jisoo, kau-”

“Paman menginap saja, di luar badai sangat kencang.” Ujar Jisoo sedikit berteriak.

“Katakan kalau kau ingin pulang saja.” bisik Ahyoung penuh penekanan. Kyungsoo menyeringai dan itu membuat Ahyoung memelototkan matanya.

“Paman terima tawaran Jisoo. Terima kasih.” Balas Kyungsoo dengan suara kencang.

“Jisoo!”

“Itu permintaan hadiah ulangtahunku, Bu.”

Kyungsoo tersenyum penuh kemenangan. Ia mendekat pada Ahyoung, membuat wanita itu memundurkan tubuhnya hingga menabrak tembok di belakangnya.

“Do Kyungsoo, jangan bodoh!”

“Hanya ingin bilang, aku rindu padamu. Aku rindu ketika melihat kau meniduri Jisoo, aku rindu ketika aku bisa mencium dan memelukmu semauku.-”

“Cukup! Kau harus pergi ke psikater dan memastikan dirimu tidak terkena Alzaimer.”

“Aku jamin seratus persen aku tidak mengidap penyakit itu. Kenapa bukan kau saja yang periksa? Kau memiliki traumatik bukan? Berkeringat saat bercinta dalam keadaan sadar, bahkan hanya berciuman pun seperti itu, kau takut mencintai orang lain maka dari itu kau tidak pernah mencintaiku.”

“Tidak! Aku sudah sembuh. Dan aku memang tidak memiliki niatan untuk mencintaimu.”

“Oh, ya?”

“Ten-”

Tubuh Wanita itu membeku dan matanya membelak, terkejut ketika Kyungsoo mendaratkan material lunak tebalnya pada bibir tipisnya. Oh, tolong beritahu Ahyoung juga bagimana cara bernapas, otaknya sedang lambat bekerja. Pria itu mencoba aktif, ia tidak bodoh menyia-nyiakan kesempatan ini untuk tidak bertindak lebih. Kyungsoo tidak bohong bahwa ia rindu Ahyoung, yang bahkan hanya baru berpisah selama beberapa jam. Wanita itu bagai ganja. Terlalu membuatnya mabuk dan sulit berpaling.

Dan semuanya usai dalam waktu kurang dari semenit. Tepat saat Ahyoung mencengkam bahunya. Kyungsoo patuh, dan ia sudah memastikan Ahyoung memang berbohong. Matanya menangkap dahi Ahyoung yang penuh titik-titik keringat.

“Kau itu benar-benar. Menggantikanku pakaian, lalu menciumku.” Kyungsoo mengedikan pundaknya.

“Oh! Aku juga menidurimu puluhan atau bahkan ratusan kali.” tambah pria itu dengan wajah bajiangannya―menurut Ahyoung.

“Itu dulu. Dulu! Bisa tidak kau membedakan? Kau tidak lebih dari sekedar mantan suamiku saat ini. Tapi, apa yang kau lakukan padaku? Oh, Tuhan!”

“Kau ingin?”

“Apa?”

“Bercinta.” Ahyoung tersenyum manis, membuat Kyungsoo ikut menarik ujung bibirnya penuh.

Kau tahu pakaianmu itu benar-benar.” Netra Ahyoung melirik pakaian yang ia pakai. Sayangnya Ia hanya memakai kemeja putih sepaha dan hot pantas di baliknya. Well, ia tidak tahu mantan suaminya itu akan menumpang dirumahnya.

“Kau ingin di mana? Sofa atau kamar?” Tawar Wanita itu masih dengan nada yang manis. Kyungsoo terlihat seperti keledai di matanya.

“Terserah. Tapi, kamar lebih baik.” Ahyoung masih mengulas senyum termanisnya. Oh, itu hanya senyuman tapi Kyungsoo sudah terbuai.

Plak!

“Berengsek! Kau pikir aku jalang!”

___

Sebelumnya aku minta maaf karena udah menunda post part ini. Ini udah selesai sekitar pertengahan oktober. Tapi, banyak banget faktor yang buat aku menunda untuk post. Mulai dari limit kuota, sibuk sama tugas dan bimbel sampai kiss scane Kyungsoo :’) kasian dia kemaren nyium payung, jadi biarlah dia nyium perempuan. (El lagi belajar dewasa :D)

Dan kedepannya aku mungkin bakal jarang banget ngepost karena UN udah di depan mata . Belum lagi disibukin sama belajar buat persiapan masuk PTN dan aku ga bohong kalau dramanya kyungsoo itu buat mood aku sedikit terganggu(moodnya yang terganggu bukan jiwanya ya :v). Tapi, aku bakal usahakan bakal nulis di waktu senjang. Karena nulis dan ngereview tulisan sendiri adalah obat tidurku, haha :v (kok jadi curcol?)

Oh ya, waktu diwawancara Kyungsoo itu(intinya)ga suka balik ke masa lalu apalagi masalahin tentang mantan. Mungkin aku bakal menyesuaikan dengan itu, biar keliatan real 😀

I hope you guys like it. Don’t forget to leave comment, click follow and click like. Bye~ bye~

Salam

Elfeetoile💜

Advertisements

15 thoughts on “It’s Our Fate? #4 [Trauma]

  1. Waahh bakalan nunggu lama lg ni buat chap selanjutny tp gpp aku sbar kok nungguny..
    Chap ini bikin hati cenat cenut n baper tingkat tinggi sm karakter kyungsoo,ahyong n jisoo tentuny..
    Pengertian banget ni anak sm omma n appa ny…
    Aku doain semoga semua ny lancar ya urusan kamu el..

    Like

  2. Waahh bakalan nunggu lama lg ni buat chap selanjutny tp gpp aku sbar kon nunggny..
    Chap ini bikin hati cenat cenut,baper tingkat tinggi sm karakter kyungsoo,ahyong n jisoo tentuny..
    Pengergian banget ni anak sm omma n appa ny…
    Aku doain semoga semua ny lancar ya urusan kamu el

    Like

  3. Makin menarik aja El.

    Aku suka karakter Ahyoung disini,.keras kepala dan brwibawa bgt sbgai single parent. .

    Smoga smuanya lancar mulai dri UTS UAS TRY OUT ampe UN,
    yg pntg jangan berhenti nulis. anggep aja kmu istirahat bentar 😀

    Like

  4. Aahhh akhirnya update juga,udah berkalikali buka blognya nggak ada2, akhirnya jisoo tahu kalo kyungsoo ayahnya,gimana yaa ahyoung ke kyungsoo.
    Jadi penasaran

    Like

  5. Aahhh akhirnya update juga,udah berkalikali buka blognya nggak ada2,
    akhirnya jisoo tahu kalo kyungsoo ayahnya,,
    gimana yaa ahyoung ke kyungsoo.
    Jadi penasaran..
    Heehehehehe

    Like

  6. Wahhh!! El akhirnya kamu update lagiiii… ini gemash banget deh kyungsoo yang rada jail tapi brengsek juga wkwk. Sukaa! Tapi ahyoung napa dingin banget sih de, ngeselin-.-

    Like

  7. Aku pikir kiss scene-nya kyung lucu..abis dicium dia jadi imut banget

    Jisoo umurnya 11 tahun? Udah gede dong..Lha terus umurnya kyung berapa? Dia ninggalin jisoo pas jisoo umur berapa? Aku juga penasaran kok kyungsoo ninggalin ahyoung. Aku pikir ahyoung yang pergi
    Lanjut thor:)

    Like

  8. Akhirnyahhhh update juga stlh kmrn2 bolah balik ngunjungin blog kamu el..hehe

    Suka bangett akhirny jisoo tau klo kyungsoo ayah kandungnya..btw endingny gw pikir ahyoung ud mulai luluh gataunya cuman becanda..

    Semangt yh el prsiapan un dan sbmptnny semoga sukses!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s