Youngsoo’s diary – Chapter 2 [History]

f6bb94e5a13a5f91e7e3574df09bbc97-1

2017 © Elfeetoile

Starring With : Do Kyungsoo [EXO’s D.O.] Park Ahyoung [OC/You]  Do Youngsoo [OC] | Also Support : Byun Baekhyun [EXO’s Baekhyun] and Others |  Genre :Family, Romance, Marriage life, Comedy | Rating : PG+17 | Lenght : Chapter |Disclaimer : This Story Line Is Mine, Please Don’t Copy Paste

Before : Chapter 1 [Introduction]

–6 Years Ago–

“Baek, dia pacarmu?” tanya seorang pria berambut pirang dan bertubuh tanggung. Dia berdarah China-Korea namanya Luhan. Teman-temannya memanggil Rusa Cantik. Ah, mungkin tepatnya ejekan.

“Ya, Park Ahyoung adalah pacarku.” jelas Baekhyun bangga. Ahyoung tersenyum kecil menatap semua teman Baekhyun yang menatapnya takjub.

Dari penampilan saja mereka tampak serasi. Baekhyun dan Ahyoung sama-sama menggunakan pakaian kelabu dan hitam untuk acara pesta malam ini.

“Ku kira dia hanya teman dansa.” Jongin ikut menimbrung. Baekhyun mendengus. “Memangnya kau. Menyewa wanita hanya untuk teman dansa.” tawa dari kelima kawanan itu pecah.

“Yak! Aku tidak sebodoh itu menyewa wanita hanya untuk berdansa.” Jongin berkata jujur.

“Dasar mesum! Kau bahkan masih belum cukup umur.” Teman-teman mengangguk menanggapi perkataan Junmyeon. Jongin mengangkat tangannya seperti tersangka yang tertangkap polisi. Ia mengaku salah.

“Pengetahuan tentang seksnya bahkan melebihiku.” Luhan yang berumur dua puluh satu berucap. Mereka dulunya adalah anggota gangster cukup besar dan ternama yang mempunyai banyak anggota. Namun, delapan di antaranya memutuskan keluar dan empat dari mereka berkuliah di Seoul University ini.

“Aku ingin ke kamar mandi.” Ahyoung berbisik di telinga Baekhyun.

“Perlu ku temani?” Baekhyun yang berucap nakal langsung mendapat pukulan yang mendarat pada pundak dari kekasihnya, lalu Ahyoung pergi dengan tergesa-gesa. Ia tidak bisa menahan buang air.

Suasana pesta sangat ramai. Ahyoung harus berdesak-desakan menuju ke kamar mandi yang terletak cukup jauh dari ruangan dimana pesta diselenggarakan.

“Yak!”

“Maaf.” Ia tak mengindahkan runtukan itu. Langkah kakinya semakin cepat ketika suasana dekat kamar mandi lenggang.

“Ah … leganya.”

Tok! tok! tok!

Ahyoung mendengus. Ia baru tahu ada yang lebih tak bisa menahan buang air dari dirinya.

“Keluar!” Suara berat itu berseru di tengah kegiatannya membenarkan dalamannya. Ya, ini kamar mandi umum. Bukan hanya wanita saja yang boleh buang air disini.

“Astaga! Kau mengagetkanku!” Ahyoung mengelus dadanya. Ia sebal jika sudah terkejut. Jantungnya sulit untuk normal kembali.

“Lihatlah perbuatanmu.” sembur pria itu tepat di hadapan wajahnya. Untung saja liurnya tidak keluar. Matanya beralih pada pakaian yang dikenakannya.

“Kau bisa membersihkannya,Tuan Do Kyungsoo.”

“Apa katamu? Acara belum dimulai, tapi kau mengotori pakaianku!” Ahyoung memejamkan mata. Semprotan yang diterima memberi gerakan refleks seperti itu.

“Lalu aku harus melakukan apa?”

“Belikan aku pakaian baru!” Ahyoung melototkan matanya. Dia benar-benar benci pada lelaki di hadapannya ini. Selalu saja membuat keributan dan selalu saja ada hal yang diributkan.

“Kau pikir kau siapa? Kita hanya sebatas rekan satu kampus! Dan aku punya urusan lebih penting lagi dari pada meladeni orang sepertimu.” Ahyoung melenggang. Namun belum saja sampai lima langkah tangannya dicekal oleh Kyungsoo dan ditarik menuju pintu keluar gedung.

“Yak! Kau akan membawaku kemana?”

“Ke butik yang tak jauh dari sini.”

“Kau gila?! Sebentar lagi acara akan dimulai dan jika sudah mulai, pintu gerbang akan ditutup!” teriak Ahyoung frustasi.

“Kau pikir aku peduli?”

___

“Apa aku tampan?” Pelayan wanita itu mengangguk dengan malu. Ia menatap Kyungsoo terkagum-kagum membuat Ahyoung mual melihatnya.

“Ya, Tuan. Anda sangat tampan.” Dan kali ini Ahyoung ingin memuntahkan isi perutnya. Lihatlah, kepala Kyungsoo menjadi besar. Pria itu melirik pada Ahyoung yang sedang menatapnya malas. Membanggakan apa yang dikatakan pelayan wanita awal umur tiga puluhan tersebut.

“Kau satu-satunya wanita yang tak mengakui ketampananku, Park.” Bola matanya berputar. Ia benci jika Kyungsoo sudah memuji diri.

“Baekhyun lebih tampan. Kau itu pendek, berbahu sempit, kepala besar, bibir besar dan—“

“Ini tagihannya.” ucapannya terpotong ketika pelayan wanita tadi memberi secarik kertas padanya.

“Kau yang bayar, Park.” Matanya beralih pada pria brengsek yang hendak menuju pintu keluar toko tersebut.

“Nona, Anda harus membayar.” Pelayan tersebut membuatnya berhenti menatap Kyungsoo tajam.

“Aku tidak membawa dompet. Lihat? Aku ditarik olehnya kemari dan disuruh bayar. Seharusnya pria yang membayari wanita bukan sebaliknya, betul tidak?” Pelayan tersebut terkekeh atas ucapan Ahyoung.

“Kalian sangat serasi.” Ahyoung melotot. Tanganya berkacak pada pinggang sempitnya.

“Apa kau bilang? Alien seperti dia cocok dengan manusia sepertiku. Bermimpi berteman dengannya saja tidak.”

“Anda tidak tahu masa depan, Nona. Mungkin akan ada sebuah kejadian yang membuat kalian bersatu.” Ahyoung mengembuskan napasnya jengah. Siapa peduli dengan perkataan wanita itu?

___

“Kau harus mengganti uangku.” Ahyoung hanya memasang wajah sebal ketika mendengarnya.

“Ya ya ya.”

Malam ini langit begitu gelap. Tanpa bintang dan tanpa bulan. Sepertinya cuaca sedang mendung, padahal jika di perjalanan seperti ini Ahyoung senang sekali memandangi bintang yang terkadang membentuk rasi. Ia suka mengamati bintang. Dan benar saja, tak berselang dari praduganya hujan turun.

Tanpa sadar bibirnya mengerut. Lalu, di tatapnya arloji yang melingkar pada pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 8 malam. Pesta sudah di mulai.

“Bisa kau cepat sedikit? Kita bisa ketinggalan pestanya.” pinta Ahyoung tanpa menatap Kyungsoo yang masih terfokus pada pemandangan luar dari jendela di sampingnya.

“Sial!” runtuk Kyungsoo. Ahyoung menggerakan tubuhnya melirik Kyungsoo dengan bingung. Kyungsoo kembali melajukan mobilnya.

“Hei! Mau kemana lagi? Bukankah tadi gedung untuk acara pestanya?”

“Kita sudah tidak bisa masuk.”

“Jadi, kita terlambat?” Kyungsoo tak mengindahkan ucapan Ahyoung karena ponselnya berbunyi. Ia pun mengangkat panggilan tersebut.

Ahyoung yang kesal membanting tubuhnya ke belakang.

“Ya, aku akan segera kesana.”

___

“Aku mau pulang!” Ahyoung menghempas tangan Kyungsoo begitu pria itu menariknya menuju tempat yang tak pernah ia kunjungi dan sama sekali tak ingin kunjungi.

“Pulanglah.” Kyungsoo hendak melanjutkan langkahnya.

“Antarkan aku.” Ahyoung menggaet lengan Kyungsoo agar menghentikan langkahnya. Pria itu tersenyum di buat-buat.

“Kau bisa naik taksi.”

“Dompetku tertinggal bersama Baekhyun. Aku ingin pulang sekarang.” Kaki Ahyoung berhentak. Seperti anak kecil saja.

“Kalau begitu pulanglah sendiri. Jika ingin ku antar, maka kau tunggu aku.”

Gadis itu mencebikan bibirnya dan terpaksa untuk mengikuti kemauannya.

Ahyoung masih memeluk lengan Kyungsoo. Malah semakin erat, ia risih berada di sini. Gadis itu sedikit takut dengan orang mabuk dan jijik melihat kegiatan tak lazim yang dilakukan di tempat umum. Kakinya seakan ingin segera meninggalkan tempat ini namun, otaknya memerintahkan untuk tinggal. Seumur hidupnya Ahyoung tidak pernah menginjakan kakinya di klub malam.

“Apa yang kau lakukan?” Ahyoung memekik tertahan saat tangan nakal Kyungsoo melingkar pada pinggangnya.

“Aku hanya melindungimu.” ucap Kyungsoo tenang. Ahyoung hanya pasrah, benar kata Kyungsoo. Pria di sekitarnya menatapnya dengan tatapan ingin menelanjangi.

Perlahan suara bising yang memekak telinga berangsur memelan seiring langkahnya menuju tempat yang lebih tertutup dan hening. Cocok sekali untuk berbincang bersama kerabat atau yang ingin menghabiskan berbotol-botol alkohol dengan suasana sunyi. Tempat itu dekat dengan private room.

Pria berperawakan lebih besar dari Kyungsoo terlihat sedang duduk seraya sibuk dengan ponselnya. Bahunya lebar dan dadanya bidang dengan balutan kemeja biru gelap. Dari tampak samping saja ia bisa menebak jika pria itu mempunyai wajah tampan.

“Sudah lama menunggu?” Kyungsoo menyapanya seperti itu, pria tersebut memalingkan wajahnya dan ia tersenyum melihat kedatangannya.

“Tidak. Baru lima menit.” Kyungsoo mengangguk lalu mengambil tempat kosong. Pria itu mengunci ponselnya menyimpannya di saku.

“Park Chanyeol.” Pria itu mengulurkan tangannya pada Ahyoung. Ia merasa belum pernah melihat gadis itu sebelumnya. Ahyoung mendadak linglung, dengan ragu ia membalas jabat tangan tersebut.

“Park Ahyoung.”

“Nama yang cantik, seperti orangnya.” Ahyoung tersenyum tipis menanggapi ucapan Chanyeol. Disisi lain Kyungsoo menatap malas kedua orang tersebut.

“Jadi, apa yang akan kita diskusikan? Bukankah semua sedang berjalan normal?” Chanyeol menyandarkan tubuhnya, tangannya terlipat sebelum mengucapkan sesuatu.

“Iya, kita akan mengadakan acara untuk merayakan ulang tahun Bar kita yang pertama.” Kyungsoo mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. “Kau ada ide?” Gigi putih Chanyeol tampak, posisi duduknya sedikit berubah dengan sedikit mencondongkan tubuhnya pada Kyungsoo.

“Ya, maka dari itu aku rundingkan bersamamu. Menurut—” Ponsel Chanyeol tiba-tiba bergetar. Sebuah panggilan masuk. Chanyeol mengeceknya takut-takut itu sebuah telepon penting.

“Ya, Bu?”

“Aku segera kesana.” Kyungsoo melebarkan matanya melihat Chanyeol pergi begitu saja.

“Chanyeol!”

“Aku akan kemari lagi. Ini penting sekali.”

___

Sudah lebih dari satu jam Chanyeol tak kembali muncul. Park Ahyoung bahkan sudah mengantuk, kepalanya sudah bersandar pada meja bersiap untuk tidur.

“Jangan tidur disini!” Kyungsoo berseru tepat di telingannya. Ia langsung terpenjerat dan kantuknya hilang seketika.

“Aku tidak tidur.” kilah Ahyoung membuat Kyungsoo mencebik. Mereka kembali terdiam. Dan kantuk kembali merasuki, matanya berubah sayu nyaris tertutup. Kalau bukan karena tumpangan dan dompetnya yang tertinggal ia yakin malam ini sudah tertidur dengan nyaman di rumah.

Kyungsoo memanggil pelayan dan memesan beberapa botol minuman. Lalu, ia mengajak Ahyoung minum setelah pesanan datang.

“Apa? Tidak, tidak.”

“Ini menyenangkan.”

“Kau saja. Aku tidak bisa minum.”

“Dasar kutu buku.” Ejek Kyungsoo. Ahyoung tak terima dengan perkataan pria itu. Mudah sekali menyulut emosi Park Ahyoung.

“Siapa yang kau maksud kutu buku?!”

“Tentu saja kau!”

Tangan Ahyoung mengepal, gigi-giginya tampak bergemelutuk. Tubuhnya bangkit lalu mengambil sebotol minuman itu dan menenggaknya bulat-bulat. Kyungsoo bertepuk tangan meriah melihatnya. Tak mau kalah, ia pun segera menyambar botol kaca berwarna bening tersebut dan meminumnya.

___

Cahaya matahari mulai muncul dari ufuk timur, memancarkan bias-bias kehangatan membuat gadis itu mengejap-ejapkan netranya silau akan cahaya pusat tata surya tersebut.

Perlahan kelopak matanya terbuka, pancaran cahaya itu kian menusuk retina. Pelan-pelan nyawanya terkumpul, langit-langit kamar bernuansa krim adalah yang pertama menyapanya. Tapi, kamar miliknya bernuansa merah muda dan merah jambu. Sadar akan ada yang tak beres, ia terpenjerat dan melihat seisi ruangan. Benar, ini bukan kamarnya. Jantungnya kian berdetak kencang ketika menemukan sesosok makhluk yang seharusnya tidak berada di sana. Di sampingnya.

Adalah Kyungsoo yang tanpa atasan terbalut oleh selimut yang sama dengannya. Tangannya bergetar saat hendak mengintip keadaan di balik selimut. Nafasnya berhenti beberapa saat, praduga negatifnya menjadi kenyataan. Tanpa sadar air mata lolos begitu saja. Wajah sembabnya ia tutupi dengan telapak tangannya untuk meredakan suara isakan namun, nyatanya Kyungsoo berhasil terbangun akan suara itu.

“Aku sudah membayarmu mahal. Kenapa kau menangis!” Kyungsoo masih pada posisinya—memunggungi Ahyoung—berkata dengan pelan dan sedikit di bumbui bentakan. Tangisannya kian menjadi. Ahyoung memukul Kyungsoo dengan bantal tanpa segan. Ia sakit hati dikatakan seperti itu.

“Kau pikir aku wanita murahan?” Suara Ahyoung teredam oleh suara isakannya. Kyungsoo mendengarnya, matanya sukses terbuka lebar. Ia membalikan tubuhnya menatap wanita yang semalam menemaninya.

“K-kau!” Bicara Kyungsoo menjadi gugup. Ahyoung sangat berantakan, rambutnya tak teratur, wajah sembab, setengah dadanya terekspos melihatkan bercak-bercak merah. Ugh!

“Kau brengsek, Kyungsoo!” Pria itu menjadi bisu. Ia tidak tahu harus berkata apa melihat semua yang terjadi. Dirinya memang player, tapi tidak sampai mengahamili gadis orang. Menyewa lebih baik dari pada harus menanggung risiko.

___

–2 Mounts Letter–

“Cepat katakan ada apa?” Kyungsoo sudah kehabisan kesabaran. Ahyoung mengajaknya bertemu untuk membicarakan sesuatu namun, sedari tadi yang ia lakukan adalah diam.

“Aku ada kelas lima menit lagi, Park Ahyoung.” Ahyoung masih tertunduk, memilin jari-jarinya. Sepatunya mendadak begitu menarik untuk di pandang.

“Park! Aku sud—“

“Aku hamil.” Kyungsoo membelakan matanya. Lalu, tak lama ia tertawa. Mata Ahyoung berkaca-kaca, kali ini ia berani menatap Kyungsoo dan berhasil membuat pria itu berhenti tertawa. Ia menggenggam tangan Ahyoung, memandang wanita itu penuh intimidasi.

“Kau serius?” Tangisan sudah cukup meyakinkan kebenaran ucapannya. Bahu Kyungsoo merosot, wajahnya ia usap sebagai wujud rasa bersalah dan tak terimanya.

“Kau ingin aku bagaimana?” Kyungsoo memberi tawaran. Kalaupun ia harus menikah dengan Ahyoung sekalipun ia akan melakukannya, meski tak siap. Tapi, jika Ahyoung ingin menggugurkan, ia pun terima. Sangat. Itu adalah jackpot.

“Aku tidak menginginkannya, Kyungsoo.”

___

Tangan Ahyoung mendingin, wajahnya berubah pucat. Wajar saja, ia akan menghadapi sebuah fase kehidupan dimana wanita bertaruh dengan nyawa. Melahirkan setidaknya sedikit lebih baik dibanding Aborsi, tingkat kematiannya jauh lebih besar. Ahyoung tahu itu, ia juga tahu kalau tindakan ini bukanlah yang di sukai Tuhan. Tapi, semua itu harus ia lakukan demi status sosialnya.

Kyungsoo menggenggam tangannya. Ia juga mengecupnya, berkata semua akan baik-baik saja. Disisi lain Ahyoung hanya diam. Pandangannya kosong, bahkan tangannya terasa mati rasa saat bersentuhan dengan  Kyungsoo.

“Nyonya Park Ahyoung.”

Ahyoung menatap Kyungsoo. Sebanarnya ia masih ragu untuk melakukan ini. Namun, jalan ini paling untung untuk ia lewati. Ia bangkit bersama dengan Kyungsoo. Tangannya mengepal, ia menarik nafasnya pelan dan mengembuskannya. Perlahan kakinya mulai melangkah menuju ruang operasi.

“Miyeong ….” Dari samping sana ia mendengar isakan dan suara benda yang berjalan. Hatinya diketuk detik itu juga dan jantungnya berdetak abnormal saat melihat sebuah mayat perempuan yang sudah terbujur kaku keluar dari ruang operasi.

Tubuh Ahyoung melemas dan jatuh setelah ranjang yang didorong oleh beberapa orang itu melewatinya. Kyungsoo, membantunya bangkit.

“Kau baik-baik saja?” tanya Kyungsoo penuh khawatir. Wajah pucatnya kian menjadi. Tiba-tiba Ahyoung merasakan verbalnya tidak bekerja, ia tak sanggup bicara  sedikitpun. Raganya segera memeluk Kyungsoo erat.

“Aku tidak bisa, Kyungsoo. Aku akan membesarkan anak ini.”

___

Maafin aku ya kalo ada salah. Minta do’anya untuk aku juga yang mengikuti UNBK dapat berjalan lancar … Aamiin.

Advertisements

7 thoughts on “Youngsoo’s diary – Chapter 2 [History]

  1. Berawal dari kesalahan. Aku kira mereka sama2 suka terus mutusin nikah muda gitu ternyata..
    Keep writing el 💪
    Aku suka ceritamu~~

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s