Youngsoo’s Diary – Chapter 4 [Meet Stranger]

2017 © Elfeetoile

Starring With : Do Kyungsoo [EXO’s D.O.] Park Ahyoung [OC/You]  Do Youngsoo [OC] | Also Support : Byun Baekhyun [EXO’s Baekhyun] and Others |  Genre : Family, Romance, Marriage life, Comedy | Rating : PG+17 | Lenght : Chapter | Disclaimer : This Story Line Is Mine, Please Don’t Copy Paste!

Before :

Chapter 1 [Introduction] | Chapter 2 [History] | Chapter 3 [Chicken Soup]

“Apa hari ini menyenangkan?” Nenek menyapa Youngsoo dengan senyuman khasnya. Gadis berumur lima tahun itu memeluk sang nenek lalu mencium kedua pipinya.

Ibu Ahyoung itu memang sangat menyayangi Youngsoo. Terlebih dia adalah cucu tunggal saat ini. Dalam benaknya sudah tidak mengingat kembali bagaimana Youngsoo lahir. Ia juga sudah memaafkan kesalahan putrinya yang telah memalukan keluarga.

“Youngsoo lapar?” tanya Nenek seraya menggiring cucunya itu menuju kedalam rumahnya. Youngsoo menggeleng. “Minsung membelikan Youngsoo sosis yang sangat besar dan enak jadi, Youngsoo masih kenyang.” Neneknya itu mengangguk-angguk. Lantas ia menyuruh Youngsoo untuk duduk dan meminum segelas air mineral. Ia yakin Youngsoo berlari saat menuju rumahnya yang jaraknya tidak begitu jauh dari sekolah. Cucu perempuannya itu begitu aktif.

“Nenek, sekarang bulan februari ‘kan?” Neneknya bergumam sebagai jawaban.

“Januari, februari, maret—” Youngsoo menghitung urutan bulan dengan jarinya. Dengan iringan lagu seperti yang di ajarkan ibu guru Choi.

“Nenek, ulang tahun Youngsoo bulan depan.” Nenek tampak berpikir, sedikit pelupa akibat usianya, dan akhirnya benar-benar lupa.

“Nenek lupa.” Neneknya menampakan raut kesedihannya. Tapi, tak lama kemudian nenek mengeluarkan ponselnya. Ia memberi tanda semua tanggal ulang tahun orang-orang yang ia sayangi pada kalender di ponselnya yang akan berdering setiap tahunnya.

Nenek mengangguk senang. “Benar, tepatnya 9 maret.” Youngsoo menampilkan wajah senangnya.

“Itu artinya Youngsoo harus mempersiapkan permintaan.”

“Benar sekali.”

___

“Kapan kita akan berdiskusi?” Tanya si murid baru yang masuk sebulan lalu. Gosip beredar bahwa dia menyogok jutaan Won untuk pindah di semester tujuh. Meski universitasnya tergolong bagus, sogok-menyogok takan luput. Apalagi dia sebelumnya dari universitas yang terkenal di Kanada. Cukup tampan dan keren, sebut saja Kris Wu. Campuran Cina-Kanada. Dan tak tahu apa yang membuatnya terdampar kemari. Pikir Ahyoung.

“Terserah. Asalkan jangan di rumahku.” Ahyoung menjawab tanpa memandang. Kris mengangguk paham, bola matanya bergerak sembarang memikirkan tempat yang tepat.

“Bagimana jika di sebuah restoran?”

“Di restoran?”

“Restoran di pusat pembelanjaan.”

“Oke. Jamnya akan ku hubungi. Aku pulang dulu.” Ahyoung berlari menuju halte, karena ia harus segera menjemput Youngsoo. Namun, lengannya di cekal oleh seseorang. Si keren Kris mencegatnya.

” Bagaimana cara kau menghubungiku?” Ahyoung menepuk dahinya, ia lupa belum memberi nomor ponsel atau ID SNS nya.

“Line, ParkAhi.” Ahyoung berucap buru-buru, meski Youngsoo betah dengan neneknya, tapi ia benar-benar di marahi oleh Kyungsoo jika telat menjemput Youngsoo.

“Ada apa lagi?” Ia menyelipkan sedikit intonasi kesal. Kris malah membalasnya dengan senyuman.

“Sepertinya kau butuh tumpangan. Bus terlalu berbahaya pada jam segini.” ujar pria tersebut, yg seketika membuat matanya memandang langit yang menampakan semburat oranye senja. Berlebihan. Batinnya. Tapi, pada akhirnya anggukan yang Kris dapat. Ya, tidak ada salahnya sesekali menumpang pada teman bukan? Lagipula hari ini masih dalam masa perayaan Imlek. Susah untuk mendapat tempat duduk saat di bus.

___

“… tinggal lurus saja, nanti berhenti di gerbang berwarna hitam dan emas.” Kris mengangguk di sela fokus mengemudinya.

“Itu rumahmu?”

“Ya, hanya saja aku sudah tidak tinggal di sana lagi.”

“Kenapa?”

“Karena—berhenti! Kau melewatinya.” Kris mulai memundurkan mobilnya sampai di gerbang dengan warna emas.

Minat Ahyoung untuk menjawab sudah menyusut. Ia sudah melepas seatbelt dan keluar dari mobil.

“Kau akan mengantarku lagi kan?” Kris mengangguk. Apapun akan ia lakukan untuk wanita yang akan menjadi sasarannya. Kris mengaku hatinya merasakan, orang bilang cinta pada pandangan pertama, pada Ahyoung. Kris ikut turun dan mengekorinya, pandangannya menelisik pada tiap sudut rumah Ahyoung yang tampak tertata apik dan bersih.

Setelah pintu terbuka, di sana tampak tiga orang perempuan yang bertubuh mungil, bertubuh dewasa dan berwajah sedikit keriput. Ia yakin semuanya adalah ibu dan saudari-saudari Ahyoung. Semuanya memiliki wajah yang persis dengan Ahyoung.

Gadis berambut panjang itu langsung terpana dengan pesonanya saat matanya bertemu. Dia seperti kembaran Ahyoung. Lalu, gadis itu mendekat padanya seraya menampilkan senyum manis.

“Hai, Kak. Perkenalkan aku adik Kak Ahyoung. Park Nayoung.” Kris membalas jabatan tangan itu juga senyumannya. Ahyoung memutar bola matanya melihat tingkah genit adiknya sedang kambuh.

Mata Kris kini beralih pada wanita berumur awal lima puluh itu.

“Selamat Malam, Bibi, saya Kris teman Ahyoung.” Kris membungkuk memberi hormat pada Ibu Ahyoung. Ibu Ahyoung tersenyum ramah pada Kris dan menyambut baik. Kris sangat sopan meski pindahan dari Kanada.

“Hai, adik manis.” Youngsoo tersenyum sinis saat Kris mencubit pipinya.

“Belum kenal sudah pegang-pegang.” Kris terkekeh. Baru pertama bertemu saja sudah sangat menggemaskan.

Sst, Tidak boleh seperti itu. Ayo beri salam pada paman Kris.” Youngsoo menatap Ahyoung lalu menuruti perintahnya.

“Namaku Youngsoo. Senang bertemu dengan Paman.” Kris masih mempertahankan senyumnya, tubuhnya bangkit lalu berbisik pada Ahyoung. “Adikmu yang satu ini lucu.” Gelakan tawa Ahyoung pecah.

“Dia anakku.” Senyum Kris pudar begitu saja. Jantungnya seakan merosot ke dasar.

“Kau sudah menikah?” Ahyoung mengangguk.

“Kakak terlihat kecewa.” ujar Nayoung memenasi. Kris kembali menampilkan senyumnya. ” Tidak, hanya terkejut saja.” Nayoung membulatkan mulutnya. Ber-Oh ria dengan penuturan Kris.

___

“Kau menikah sangat muda.” Ahyoung menampilkan senyum tipis.

“Semua orang berkata begitu.”

“Suamimu kerja di mana?”

“Dia masih kuliah. Menunggu kelulusan.” Kris menampakan wajah terkejut.

” Benarkah?”

“Hm.” Ahyoung mengangguk. “Sebenarnya aku berada di tahunnya yang sama dengannya, karena aku harus cuti selama setahun karena sering sakit saat setelah melahirkannya. Hidup kami masih sedikit bergantung pada orangtua.”

“Di zaman seperti ini jarang sekali menikah muda. Kuharap kalian benar-benar baik.”

“Apa kelihatannya begitu?”

What? Kalian MBA?”

“Setidaknya jika menikah muda, anakku tidak mungkin sebesar ini bukan?”

Kris mulai sedikit tidak fokus pada jalanan. Otaknya masih mengatakan tak masuk akal dengan apa yang Ahyoung bicarakan. Tapi, Ahyoung mengatakan dengan jujur. Terlihat dari matanya saat ia menatapnya dalam. Dan sikap jaga jarak terhadapnya. yang membuat tak percaya adalah Ahyoung berasal dari keluarga baik-baik.

“Kau sendiri mengapa bisa berkuliah di Korea?”

“Ada pekerjaan. Dan aku harus menyelesaikan kuliah secepat mungkin agar tidak kelabakan nantinya.”

Setelah Ahyoung menganggukan kepala suasana kembali hening dan senyap. Entah pembicaraan apalagi yang menarik untuk di bahas. Faktor baru saja kenal membuat mereka sedikit canggung.

“Ibu.” Youngsoo yang sedari terdiam mengeluarkan suara.

“Youngsoo menginginkan sesuatu” Gadis kecil itu menggeleng.

“Apa saat ini ibu dan paman Kris berselingkuh?” Kris dan Ahyoung terbelak detik itu juga. Disisi lain Youngsoo menatap dua orang dewasa itu dengan pandangan polos.

“Dari mana Youngsoo tahu kalimat itu?” Youngsoo menjengitkan bahunya.

“Drama. Katanya seorang yang mempunyai pasangan tapi bersama dengan bukan pasangannya bisa di katakan selingkuh.” Ahyoung merasa nafasnya berhenti beberapa saat. Ia meruntuki ibunya yang kerap mencekoki putrinya dengan cerita dewasa.

“Ibu dan paman Kris hanya berteman. Paman akan mengantarkan kita kerumah.”

___

“Pulang bersama pria?” Kyungsoo memandangnya dingin begitu ia baru saja selesai mandi.

“Ya. Dia temanku.” Ahyoung melenggang begitu saja menuju meja rias hendak mengeringkan rambutnya.

“Anak baru itu?” Ahyoung hanya mengangguk. Ia mencoba untuk jujur.

“Dia memberi tumpangan karena Bus sedang penuh. Kau tahu ‘kan kondisi perayaan Imlek?” Kyungsoo menghela nafas. Ia segera menutup tubuhnya dengan selimut dan tidur.

“Kau belum makan kan? Mau ku buatkan sesuatu?”

“Tidak perlu. Aku merasa mengantuk sekarang.”

“Maag mu akan kambuh.”

“Tidak usah, Aku sedang tidak bernafsu.”

“Kau tahu, pipimu itu terlihat lebih tirus.” Ahyoung duduk di samping ranjang bertepatan di depan wajah Kyungsoo, lalu mencubit pipinya.

.
.
.

“Siapa yang memberi tahu, kalau aku sudah dipindahkan menjadi asisten Ayah?”

“Apa masalah sekecil itu harus di beri tahu?” Ahyoung menopang dagunya. Ia menaruh sendok yang sempat di pegang. Kedua lengannya kini terlipat di depan, memandang Kyungsoo sedikit remeh.

“Lalu?”

“Aku harap kau tak lupa selama ini siapa yang membersihkan ruang kerjamu.”

Kyungsoo mendengus. Makanan di sela sumpit itu dengan cepat masuk ke dalam mulutnya. Menandakan bahwa ia kesal. Ahyoung pun tertawa.

“Tidak-tidak, aku tahu dari Ayah Mertua. Kau banting setir, Kyung.”

“Aku harus melakukan apa lagi untuk menghidupi kita selain kerja di perusahaan Ayah?” Kyungsoo berucap cuek. Bahasa tubuhnya memperkuat itu.

“Kau tidak perlu seperti itu. Bukankah sebentar lagi kita akan berpisah?” Kunyahannya berhenti sejenak lalu, menelan makanan itu bulat-bulat.

“Jangan membahas itu.”

“Kenapa?” Kali ini Kyungsoo menatap Ahyoung penuh intimidasi.

“Aku sedang makan.”

“Kau tak mau bercerai?” tanya Ahyoung yang langsung membuat Kyungsoo menjatuhkan sumpitnya.

“Jujur saja, aku sudah menikmati peranku begitu juga denganmu, aku juga sudah menikmati peranmu.”

“Kau terlalu bawa perasaan.” tanggap Ahyoung seraya tertawa pelan.

“Dan juga aku tidak ingin berpisah dengan Youngsoo.”

“Kau bisa menemuinya jika ia memilihku.”

“Aku juga tidak ingin berpisah denganmu, Ahyoung.”

Advertisements

3 thoughts on “Youngsoo’s Diary – Chapter 4 [Meet Stranger]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s