Youngsoo’s diary – Chapter 5 [Sausage]

Hasil gambar untuk ilayda yilmaz

2017 © Elfeetoile

Starring With : Do Kyungsoo [EXO’s D.O.] Park Ahyoung [OC/You]  Do Youngsoo [OC] | Also Support : Byun Baekhyun [EXO’s Baekhyun] and Others |  Genre : Family, Romance, Marriage life, Comedy | Rating : PG+17 | Lenght : Chapter | Disclaimer : This Story Line Is Mine, Please Don’t Copy Paste!

Before :

Chapter 1 [Introduction] | Chapter 2 [History] | Chapter 3 [Chicken Soup] Chapter 4 [Meet Stranger]

“Tidak apa kan jika aku mengajaknya? Ibu sedang kontrol ke rumah sakit.” Youngsoo menatap Kris dengan pandangan sinis. Sejak pertama kali pertemuan, Kris belum memberi kesan baik bagi Youngsoo. Gadis kecil itu masih memberi pandangan tidak bersahabat. Sedangkan yang di tatapnya hanya memberi senyum cerahnya.

Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, mereka berdiskusi di salah satu restoran di mall.

“Youngsoo ingin bersama Nenek, Ayah atau Paman Baekhyun saja.” gumamnya. Ahyoung meringis, lalu ia berjongkok di hadapan putrinya.

“Paman Baekhyun sedang sibuk, Nenek sedang ke rumah sakit, dan Ayah sedang kerja. Youngsoo harus bersama Ibu dan Paman Kris. Oke?” Ahyoung mengacungkan jempolnya. Youngsoo masih memasang wajah cemberut.

“Paman akan belikan es krim kalau Youngsoo menurut pada Ibu.” Kris mencoba membujuknya.

“Sekarang cuaca sedang dingin. Es krim tidak baik untuk kesehatan.” Kris menggaruk tengguknya yang tidak gatal. Bocah ini begitu sulit untuk ditaklukan.

“Permen kapas?” Youngsoo menggeleng. “Youngsoo benci permen. Makanan manis bisa merusak gigi.”

Mulutnya hampir ternganga mendengar jawaban gadis kecil berumur enam tahun itu.

“Sosis besar yang pernah di belikan oleh Minsung bagaimana?” Senyum licik Youngsoo tersungging di sana.

“Oke, Paman akan belikan Youngsoo sepuasnya.” Kris merasa peningnya terangkat detik itu juga. Ya, ia hanya mentraktir seorang bocah berumur lima tahun dengan ukuran tubuh normal.

Call.”

Kegiatan diskusi Ahyoung dan Kris kini berjalan dengan tenang, apalagi setelah Youngsoo di berikan pinjam Gadget oleh ibunya yang terdapat banyak permainan.

Twinkle, twinkle little star. How i wonder what you are. Up above the world so high like a diamond in the sky… “ Piano Tiles 2 memang permainan kesukaan Youngsoo. Sambil menyentuh tuts di permainan tersebut, Youngsoo mengiringi dengan nyanyian. Lagu yang selalu Ayahnya ajarkan dan salah satu favoritenya. Selain itu menyalakan beberapa trek lagu kesukaannya seperti,

You are my destiny, geudae. You are my destiny, geudae ….” atau

“Kkot heundeullideut barame niga dagawa nae mam dudeurideon geureon neoreul saranghae …. “

“You are my everything~ byeolcheoreom ssodajineun unmyeonge ….”

“Mopsido johassda neoreul jikyeobogo seollego useupge jiltudo haessdeon pyeongbeomhan modeun sungandeuri ….”

Dan kebanyakan lagu Original Sound Track drama yang pernah ia tonton. Ahyoung melarangnya menonton drama tapi, ia tetap men-Download lagu-lagu tersebut. Ugh!

“Sejujurnya, aku meragukan Youngsoo adalah bocah berumur enam tahun.” Ujar Kris di tengah merangkum hasil kegiatan berdiskusinya.

“Dia sering menonton drama dengan Ibu. Makanya omongannya seperti orang dewasa.” Kris terkekeh. Bagaimana mungkin bocah berumur lima tahun bisa memahami alur drama tersebut.

“Dia bahkan mengejek Ayahnya yang masih menyukai film animasi Pororo dan Larva.” Tawa Kris pecah, Youngsoo bahkan tidak menyukai film animasi? Benar-benar.

“Aku sering sekali dipanggil oleh wali kelasnya dan diperingatkan untuk tidak memberi tontonan dewasa seperti drama.” Kris masih tertawa. Ternyata menikah muda itu tak seenak yang di bayangkan. Pikir Kris.

“Hasilnya?”

“Ibu menuruti. Tapi, tetap saja Youngsoo mengeluarkan kata-kata yang tak pantas untuk anak seumurnya.”

“Dulu mengidam apa hingga seperti itu?” Ahyoung menjengitkan bahunya. Kepalanya menggeleng.

“Ayahnya pintar bicara dan pandai menyudutkan orang.”

“Ku dengar suamimu kuliah satu kampus dengan kita?” Ahyoung mengangguk. “Fakultas hukum.”

“Pantas.”

Ahyoung menaruh penanya. Jari-jari tangannya ia regangkan hingga berbunyi. Menulis dua lembar kertas folio penuh benar-benar membuat tangannya hampir lepas. Dosen Lim memang selalu berbeda dan kuno. Ia selalu menyuruh siswanya mengerjakan tugasnya dengan cara tulis tangan.

“Youngsoo.” Ahyoung mengedarkan matanya. Putrinya tidak berada di sekitarnya. “Youngsoo.” Intonasinya meninggi namun, hasilnya nihil.

“Ada apa?” Kris yang merasa ada yang tidak beres angkat bicara. Matanya bisa menangkap bila wanita berumur dua puluh lima tahun itu gelisah. Air wajahnya menunjukan ekspresi khawatir.

“Youngsoo hilang.”

___

60 minutes ago.

Youngsoo melorotkan bahunya. Gadget yang sedari tadi menjadi fokusnya sudah tidak menyenangkan. Ia mulai bosan, ibunya mengatakan untuk tidak mengganggunya bila tidak terjadi sesuatu yang penting. Mungkin buang air sepertinya tidak penting. Youngsoo menatap Ibu dan Paman Kris yang asik mengerjakan tugas. Hidungnya mengeluarkan helaan nafas. Matanya bergerak-gerak menyapu sekitar, segelintir orang yang berlalu lalang, yang sedang meminum secangkir kopi, tidak ada yang menarik di sini.

Kereta bayi berwarna merah tiba-tiba saja menjadi pusat perhatiannya. Bukan, maksudnya bayi dalam kereta tersebut. Bayi itu sendiri, tanpa orangtua. Youngsoo akhirnya bangkit. “Ibu Youngsoo ingin kesana sebentar.” Tanpa menunggu jawaban sang ibu, ia buru-buru menghampiri bayi tersebut.

Youngsoo memberikan senyuman pada bayi laki-laki berkepala pelontos yang sedang menyusu dari botol. Bayi itu menatap Youngsoo, susu formulanya berhenti ia sedot sebelum akhirnya terlepas dari mulutnya. Bayi bermata bulat itu mencoba menggapai wajah Youngsoo dengan kedua lengan mungilnya, tak lupa suara gumaman tak jelas keluar dari mulutnya.

“Namaku Youngsoo. Kau harus memanggilku kakak.” ujar Youngsoo seraya meraih sebelah tangannya tersebut.

“Di mana Ibumu? Mengapa kau disini sendirian?” Bayi berumur enam bulan itu hanya merespon dengan suara tak jelas khas bayi.

“Kakak temani ya.”

Youngsoo mengambil kursi dekatnya dan duduk bercengkrama dengan bayi yang ia beri nama ‘Jisoo’ karena ia tidak tahu namanya dan harus memanggil apa. Jadi ia memberinya nama.

“Jisoo, kalau Ibumu tak kembali, apakah kau mau menjadi adikku?”

Bayi itu tentu tak menjawab. Seandainya ia bisa berbicara pun ia akan mengatakan tidak. Karena Ibunya tepat berada di belakang Youngsoo.

“Yongji.”

Youngsoo berbalik dan menemukan wanita berpakaian kasual dengan gaun berwarna biru langit membawa nampan berisi makanan dan minuman. Senyuman kembali Youngsoo luncurkan.

“Maaf, Bibi. Youngsoo hanya ingin menemaninya.”

Ibu Yongji membalas senyum Youngsoo dan mengucapkan terima kasih.

“Youngsoo kemari dengan siapa?” Wanita itu sedikit menghapal nama Youngsoo. Youngsoo selalu memanggil dirinya sendiri dengan nama bila berbicara dengan orang yang lebih tua. Nenek yang mengajarkan seperti itu.

“Disana.” Ia menunjuk Ahyoung yang berjarak 60 meter dari tempat berpijak. Lantas ibu Yongji mengangguk paham.

“Bibi, bisa mengantar Youngsoo buang air? Ibu sedang sibuk mengerjakan tugas.”

___

“Apa yang harus ku lakukan.”

“Tenanglah. Youngsoo akan ketemu.” Kris mengusap punggungnya mencoba menenangkan Ahyoung yang tak hentinya menangis.

“Ibu mana yang tenang bila anaknya hilang!” Ahyoung sedikit membentak Kris kali ini. Kris hanya diam, ia tak ingin memperkeruh masalah jika membalas perkataan Ahyoung. Mereka sedang berdiri di ruang pusat informasi, cara paling ampuh untuk mencari anak hilang.

“Tolong umumkan sekali lagi. Kumohon.” Staf pusat informasi itu mengangguk.

“Pengumuman, bagi yang bertemu dengan bocah berumur enam tahun berjenis kelamin perempuan, memakai jaket hijau, rambut di ikat dua bernama Do Youngsoo, tolong segera hubungi kami. Terima kasih.”

Ahyoung memeluk tasnya erat. Ia tak mau Kyungsoo sampai tahu permasalahan ini karena ia yakin Youngsoo akan kembali. Tapi, meskipun begitu emosinya benar-benar tidak stabil. Air matanya tak hentinya mengalir. Tubuhnya merosot, ia berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di tengah-tengah lutut.

Suara orang berjalan tertangkap oleh inderanya. Ia tidak mempedulikan hal itu. Meskipun otaknya menyuruhnya untuk melihatnya.

“Ibu.” Kata dan suara itu mampu membuatnya berhenti menangis. Ia melihat Youngsoo dengan wajah sembabnya. Tanpa basa-basi ia memeluk putri semata wayangnya tersebut.

“Ibu mengapa pergi?”

“Seharusnya Ibu yang berkata begitu. Mengapa tidak berpamitan pada Ibu terlebih dahulu?”

“Tadi Youngsoo bermain dengan Jisoo dan minta diantarkan oleh Bibi Park ke toilet sebentar. Tapi, sewaktu aku kembali aku sudah tak menemukan Ibu. Ibu bilang untuk tidak mengganggu Ibu kalau tidak terlalu penting ”

“Jisoo?” Youngsoo mengangguk lalu menunjuk wanita dengan bayi dalam kereta dorong berwarna merah.

“Terima kasih. Anda sudah repot-repot mengantar anak saya.”

“Bukan apa-apa. Saya juga berterima kasih pada Youngsoo telah menjaga Yongji. Dia gadis kecil yang baik hati.”

___

“Paman jadi ‘kan membelikan Youngsoo sosis besar di dekat sekolah?” Kris mengangguk pasti di sela-sela kegiatan mengemudinya.

“Tentu saja. Bukankah paman sudah berjanji?”

Youngsoo tersenyum senang. Kesan buruknya pada paman Kris kini hilang di gantikan kesan baik. Youngsoo bukan tidak menyukai paman Kris tapi, sifat penuh kehati-hatian pada orang yang tidak di kenal membuatnya begitu. Youngsoo hampir memperlakukan semua orang yang baru saja di kenal dengan sikap seperti itu. Mungkin pengecualian dengan Yongji dan bibi Park.

“Youngsoo sekolah dimana?”

“Di taman kanak-kanak Chansun.”

___

Kris memakirkan mobilnya di kedai Sosis yang cukup ramai. Maklum saja hari ini adalah hari minggu sehingga banyak pengunjung.

“Aku disini saja. Kepalaku sedikit pusing.” Ahyoung memilih tinggal di mobil. Kris mengangguk, ia mengerti kondisinya setalah menangis. Kris menggenggam tangan Youngsoo dan memasuki kedai tersebut.

“Youngsoo pesan apa?” Tawar Kris meliriknya sekilas lalu kembali fokus pada menu yang terpampang. Menunya sangat pas di kantung. Pantas saja pengunjungnya kebanyakan anak muda atau yang memiliki anak kecil.

“Sosis yang paling besar.” Kris mengangguk harganya hanya lima ribu won.

“Lalu, minumnya?” Tawar Kris lagi, ia tidak mau mentraktir seseorang setengah-setengah. Tapi, Youngsoo menggeleng. “Tidak usah.”

“Tolong sosis paling besarnya satu.”

“Lima, Paman.”

“Apa?” Mata Kris hampir keluar. Bocah ini benar-benar menguras dompetnya.

“Iya, lima. Paman harus menepati janjimu. Bukankah, paman mengatakan untuk mentraktirku sepuasnya?” Senyum paksaannya tertarik. Oke, bocah ini tidak bisa di anggap main-main.

“Laki-laki itu harus menepati janjinya.” ujarnya seraya mengacungkan jari telunjuknya.

“Tolong sosis yang paling besar empat lagi.”

Kris menggiring Youngsoo ke salah satu tempat meja kosong dan duduk di sana.

“Youngsoo, kalau boleh tahu siapa nama Ayahmu?”

“Burung hantu.” Kris mengerutkan dahinya bingung.

“Burung hantu?”

“Hm.” Youngsoo mengangguk.

“Ibu menyebut ayah begitu karena mata besarnya.” Ia menggaruk tengguknya yang tidak gatal.

“Apakah ayah dan ibu selalu aku?”

Youngsoo menggeleng. “Mereka selalu bertengkar hanya karena hal kecil.”

“Benarkah?”

“Hm,” Youngsoo mengangguk. “Tapi, Ayah dan Ibu selalu menyayangiku. Kami saling menyayangi.” Kris menggerakan kepalanya paham, lalu ia tidak bertanya lebih lagi, karena seorang pelayan datang padanya.

“Ini pesanannya. Semuanya lima puluh ribu won.”

___

“Ayo bilang terima kasih pada paman Kris.”

“Terimakasih, Paman Kris.” Youngsoo membungkuk pada Kris setelah keluar dari mobil. Ahyoung tersenyum pada Kris.

“Aku benar-benar terima kasih dan maaf telah merepotkanmu.”

“Itu bukan apa-apa, Ahyoung. Selamat malam.”

“Selamat malam.” Kris yang hendak menutup jendela mobil, urung saat mendengar Youngsoo berteriak.

“Ini untuk Paman.” Youngsoo mengambil kotak persegi panjang dari dalam keresek putih besar. Youngsoo memberi satu kotak sosisnya.

“Untuk Paman?” Youngsoo mengangguk cepat. Kris tersenyum lalu menerimanya.

“Kau sudah termasuk orang yang dia sayanginya, Kris.” Bisik Ahyoung sebelum Kris benar-benar berlalu.

“Ibu, kita berkunjung ke rumah Paman Baekhyun dulu ya.”

“Untuk apa?”

“Memberi sosis ini, tentu saja.”

___

“Ayah, kami pulang.” Youngsoo berlari menuju kedalam rumahnya mencari ayahnya. Kyungsoo sedang duduk di kursi kerjanya ditemani setumpuk tugas dan secangkir kopi.

“Ayah, Youngsoo membeli sesuatu untuk Ayah.” Youngsoo berteriak. Perkataannya mengikuti ayahnya ketika baru saja pulang membawakan sesuatu.

“Ayah di sini sayang.” Kyungsoo berteriak dari ruang kerjanya. Jarinya tangannya kembali menekan keyboard membuat sebuah kata yang saling terhubung.

Ceklek.

Kyungsoo memberi senyumnya pada putrinya menyambut kedatangannya. Kedua tangan pegalnya ia rentangkan meminta pelukan. Youngsoo berlari kecil dan menangkap tengguk Kyungsoo yang membungkuk. Bibirnya kini jatuh pada kedua pipi Ayahnya.

“Youngsoo dan Ibu jalan-jalan?” Youngsoo mengangguk. “Bersama paman Kris. Ibu mengerjakan tugas bersamanya.”

“Oh ya? Dan bukankah tadi Youngsoo bilang membawakan sesuatu untuk Ayah?” Youngsoo mengangguk penuh semangat. Lantas ia turun dari pangkuan sang ayah beralih menarik lengan besar itu keluar ruang kerja.

“Ibu menyiapkan di meja makan.”

Kyungsoo menggendong tubuh putrinya membawanya menuju ruang makan yang bersatu dengan ruang keluarga. Terlihat Ahyoung membawa piring dengan sosis yang sudah potong belah dua.

“Aku sudah menghangatkannya. Makanlah.” Kerut dahi Kyungsoo nampak. Wajah Ahyoung tampak pucat. Lirih intonasi bicaranya memperkuat dugaannya. Ia akan menanyakan hal itu setelah Youngsoo kembali kekamarnya.

“Youngsoo beli dimana?” Tanya Kyungsoo mencairkan suasana. Matanya mengerling pada Ahyoung yang hanya diam.

“Kedai dekat sekolah, Paman Kris yang membelikan.” Kyungsoo memejamkan matanya reflek. Ugh, Youngsoo berbicara dengan sosis masih di dalam mulutnya. Sausnya sukses mengenai wajahnya.

“Telan dulu baru bicara.” Youngsoo tersenyum malu. “Kalau begitu bertanyanya setelah Youngsoo menelan makanan.” Bola mata pria itu berputar. Sepertinya jiwa cerewet dan pandai bicaranya menurun pada putrinya. Telinganya mendengar tawa tertahan dari seberang sana.

“Apa yang kau tertawakan?” Tatapan tak suka langsung ia layangkan pada istrinya itu.

“Kau bicara padaku?” Kepala Ahyoung mendongak. Garpu yang pegang ia arahkan pada diri pria itu. Dan tawanya kini pecah setelah melihat wajah Kyungsoo. Wajah pucatnya itu seakan menghilang entah kemana.

“Yak!” Kyungsoo menaikan suaranya. Kini Youngsoo ikut tertawa. “Ada saus di wajah Ayah.” Tangan Youngsoo terjulur menghapus saus di wajah ayahnya. Amarahnya seakan lenyap seketika ketika Youngsoo melakukan itu semua.

Ahyoung mulai mengendalikan dirinya, dan berhenti tertawa. Ia menatap Kyungsoo yang sedang menatapnya dalam. Dan seketika tawanya hilang.

“Apa yang kau lihat?” Ahyoung memasang wajah garangnya. Kyungsoo langsung merubah tatapannya, kedua alisnya menyatu.

“Percaya diri sekali.” cibir Kyungsoo menyangkal. Matanya beralih pada Youngsoo yang tampaknya sedang sebal apa yang ia dan Ahyoung lakukan.

“Maafkan Ayah.”

Advertisements

3 thoughts on “Youngsoo’s diary – Chapter 5 [Sausage]

  1. Mantap langsung dikasih 4 chapter 😂 thanks el 😊😊
    Kyungsok sebenernya udah jatuh cinta tuh sama ahyoung.. Jangan bikin mereka cerai ya.. Bikinin adek aja buat youngsoo biar gak jadi cerai 😂😂
    Btw aku nunggu cerita jisoo juga

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s