Stay VI [Confession]

stay

2017 © Elfeetoile

Starring With : Park Ahyoung [OC/You] Do Kyungsoo [EXO’s D.O.] Kim Jongin [EXO’s Kai] | Also Support : Do Hyonhee [OC] Kim Junmyeon [EXO’s Suho] Byun Baekhyun [EXO’s Baekhyun] |  Genre : Family, Romance, Hurt, Marriage life | Rating : PG+17 | Lenght : Chapter | Disclaimer : This Story Line Is Mine, Please Don’t Copy Paste. 

I [Stay] | II [It’s Over? Not Yet] | III [Change?] | IV [You Are A Daddy] | V [It Will Be Happy Ending?]

___

“Dia seniormu sewaktu kuliah bukan?” Atensiku beralih padanya yang baru saja datang padaku. Ia meninggalkan meja makan dan mengikutiku ikut menenangkan Hyonhee yang tengah rewel.

Kepalaku memberi respons jujur—mengangguk. Lalu kembali menatap Hyonhee yang mengisap botol susunya dengan rakus. Sepertinya ia belum tahu perihal hubunganku dengan Junmyeon. Aku tidak bermaksud menyembunyikan, aku akan mengatakannya di waktu yang tepat, dan itu bukan saat ini.

“Aku tidak tahu Ayah mengenal Tuan Kim sedekat itu.” tanyaku hati-hati.

“Entahlah, aku dan kedua orangtuaku tidak dekat. Bahkan Ayah dan Ibu jarang sekali terlihat mengobrol, keduanya memilih karier. Kami keluarga sebatas sedarah dan kartu keluarga.” kata Kyungsoo tanpa ekspresi apapun.

Sekarang aku membuktikan bahwa pengertian Hedonisme tidak sepenuhnya benar. Kyungsoo adalah contoh yang begitu menonjol–Keluarganya bergelimpangan harta. Jangankan Kyungsoo, terkadang aku pun merasa seperti itu. Ibuku ikut mengurusi perusahaan Ayahku di beberapa cabang di negara saat aku menginjak bangku kuliah membuat mereka harus berkeliling dunia dan membuat Park Ahyoung Si Gadis Manja terpaksa menjadi gadis yang mandiri. Ibu memang sudah sibuk sejak aku sekolah, tapi orangtuaku benar-benar tidak ada di rumah sejak saat aku lulus sekolah. Dan setidaknya, Ibu masih sanggup mengurusku dengan tangannya juga kasih dan cintanya saat aku membutuhkan kehadirannya–semasa aku kecil hingga remaja.

Untungnya Kyungsoo tidak mengalami tindakan menyimpang di mata hukum, tapi sayangnya di mata sosial iya. Gay bukan penyakit psikis, tidak seperti skrizofenia, bipolar, atau penyakit psikis lainnya yang tidak dikehendaki oleh diri sendiri. Karena menjadi gay adalah pilihan yang mereka pilih. Meskipun begitu, terkadang kami tetap membutuhkan dokter ahli jiwa untuk mengobatinya. Oh, tarik perkataanku pada bagian ‘untungnya’ itu sama sekali tidak menguntungkan.

“Ayo kita pergi ke rumah Ibu Mertua.”

“Sekarang?” Kyungsoo mengangguk.

Agaknya bukan hanya aku saja yang merasa tak nyaman akan kehadirannya. Tapi, memang sejak dulu Kyungsoo tidak menyukai di rumah orangtuanya. Dan kemungkinan lainnya adalah Kyungsoo seperti merasa “Hei, di sini anakmu mengapa dia terus yang kau acuhkan?”.

Bukan maksudku berburuk sangka namun dari sarat wajahnya nampak seperti itu. Kau tahu kan aku ini sudah hapal gelagat suamiku ini?

“Kita baru saja sampai dan makan. Bahkan makanan-makanan tersebut rasanya masih dicerna oleh lambungku.”

Aku ingin pergi. Sangat. Tapi, tidak baik sekali jika langsung pergi begitu saja. Kami bahkan belum bercengkrama ria dengan mereka. Terutama Ayah, beliau yang sangat sibuk meluangkan waktunya hari ini untuk berkumpul dengan kami. Bisa saja aku melupakan wajah beliau kalau saja tidak mirip dengan Kyungsoo. Work holic-nya benar-benar sudah tingkat akut.

“Lagipula, kita harus menghargai Ayah yang sudah menyempatkan waktunya.” tambahku.

Oh, Kyungsoo … bisakah aku berada di pihakmu?!

Ia memasang wajah lesu yang sangat samar di wajah datarnya, Kyungsoo memilih menurut kali ini. Ia yang penuh sopan santun tentu saja setuju dengan yang ku katakan meski itu menyebalkan.

“Presedir Do, Nyonya Park, saya pamit pulang.” Sebuah suara yang membuat kami harus berbalik. Aku tersenyum tipis dan membalas bungkukkan kecilnya. Punggung itu berjalan menuju pintu keluar. Sebuah pertanyaan terbesit dipikiranku. Apa ia tidak makan dengan baik? Tubuhnya lebih kurus dari sebelumnya.

“Hyonhee, kau tidak kemari untuk tidur kan?” Fokusku pada Junmyeon hilang seketika. Oh, ada apa denganku!

“Entahlah, jika cuaca sedang mendung seperti ini dia suka sekali tidur.” ucapku menanggapi Kyungsoo yang sedang membelai pipi gembulnya dengan jempolnya.

“Apakah cucuku tidur?” tanya Ayah setelah berjalan mendekat pada kami. Ia memandang Hyeonhee lekat. “Sepertinya Kakekmu terlalu asik mengobrol dengan tamu.” tambahnya diakhiri kekehan.

Ia mengambil tempat di sebelah Kyungsoo. Lalu, tak lama Ibu ikut bergabung bersama kami dan duduk di sampingku. Kelihatannya acara keluarga akan segera dimulai.

“Ini semakin lengkap dengan kehadiran Ayah.” ungkapku tulus membuat Ayah tersenyum. Dia begitu ramah dan penyayang. Mungkin, pekerjaannya menuntutnya tak memperhatikan anaknya. Tapi, ia begitu untuk Kyungsoo juga, ia tentu ingin anaknya hebat dengan mengenyam pendidikan lebih dan meneruskan perusahaan yang ia harapkan akan semakin maju. Meskipun caranya sedikit salah.

“Kau sudah besar, Putraku. Aku tak menyangka kau bahkan sudah memiliki seorang anak.” puji Ayah dengan senyum mengembang. Ia merangkul pundak Kyungsoo yang membuatnya canggung.

“Aku ingin sekali menghabiskan waktu dengan kalian.” Kyungsoo hanya diam. Aku tidak tahu soal permasalahan keluarganya, yang aku tahu ia hanya kurang kasih sayang.

“Omong-omong, kalian belum pernah berbulan madu ya?” ujar Ayah mencairkan suasana. Apa mereka secanggung itu? Oh! Yang benar saja!

“Hyonhee dan perusahaan sedang kami prioritaskan.” jelasku mewakili Kyungsoo yang terdiam.

“Eii, hitung-hitung rencana anak kedua.” ucap Ibu seraya mengedipkan sebelah matanya. Aku hanya tersenyum malu menanggapinya.

“Dengar-dengar, keluarga Park sedang berkumpul. Bagaimana kalau kita juga ikut. Bukankah semakin banyak orang semakin bagus?”

.

“Ibu!” Teriakku saat netraku menangkap sesosok punggung yang sangat ku kenal tengah membakar daging. Aku menghambur pada pelukannya. Adegan ini lebih terlihat seperti seorang anak hilang yang bertemu Ibunya. Tapi, aku tak bohong rindu dengan ibuku. Sangat.

“Astaga! Kau seperti bocah berumur lima tahun. Tidak malu orang-orang melihatmu?” Nasihat apa-apaan itu? Apa dosa memeluk Ibunya sendiri? Benar-benar!

“Aku merindukanmu. Terakhir aku melihatmu saat aku melahirkan.” Ibu menyimpan pencapit tersebut sebelum membalas pelukanku.

“Aku juga merindukanmu, Sayang. Kau tetap bayi bagi Ibu.” gumam Ibu lembut. Bagaimanapun aku tetaplah anak bungsu yang selalu manja pada Ibunya.

“Bayi yang mempunyai bayi.” Tambahnya di akhiri kekehan.

“Aku tidak tahu, menantuku semanja itu.” Sahut Ibu Mertua yang baru saja memasuki halaman belakang rumahku bersama dengan Ayah, dan Hyonhee di gendongan Kyungsoo.

“Astaga! aku tak menyangka kalian akan datang.” Ibuku melepaskan pelukan dan menyambut keluarga Do dengan ramah.

“Selamat datang.” Mereka saling bersalaman ria. Ibu juga memuji Kyungsoo bahwa ia bertambah tampan. Oh, apa Ibu lupa kalau anaknya yang satu ini pun bertambah cantik? Kau tahu kan kalau kecantikan Ibu beranak satu itu melebihi gadis perawan?

“Maaf karena kami datang tanpa diundang.” Sahut Ibu Kyungsoo.

“Tidak. Kami sangat senang dengan kehadiran kalian, Besan. Lagipula tadi kita meminta pada Nak Kyungsoo untuk mengajak kalian juga, karena Tuan Do kebetulan sedang di rumah.” Sahut Ayah dari belakang lalu bersalaman

“Apa Ahyoung semanja itu? Menantuku begitu dewasa saat bersama kami.” ujar Ibu Mertuaku yang sepertinya terkaget melihat sifat asliku.

“Dia hanya melakukan itu depan kami. Sebenarnya dia anak bungsu yang selalu ingin diperhatikan.” kata Ibuku yang membuatku sedikit sebal. Aku tak butuh perhatian lebih darimu, Bu.

“Dia orang yang kompeten.”

“Apa ini Hyonhee?” tanya Ibu mengampirinya di gendongan Kyungsoo. Mencoba untuk menggendongnya, tapi itu gagal karena dia sedang bersama Ayahnya. Dan Ibu memang cukup asing baginya.

“Itu karena dia tidak pernah melihat Ibu sebelumnya.” ucapku ketus sekaligus menyindir. Itu sangat keterlaluan kalau dipikir-pikir. Cucunya tak mengenali neneknya sendiri? Bukankah itu hal yang tak wajar?

“Itu terdengar seperti menyuruhku pensiun.” balas Ibu tak kalah ketus.

“Ibu seharusnya menikamati masa tua dengan cucumu, teman-temanmu dan bersantai.”

“Astaga, lihatlah kau sudah seperti Ibu-Ibu cerewet. Ibu ini wanita tua yang keren. Ibu menjelajahi dunia untuk berlibur, kau pikir aku ini melakukan itu hanya untuk sibuk bekerja di sana? Cucu-cucuku itu kata yang lebih tepat.”

Wanita tua yang keren? Itu terdengar berlebihan memang. Tapi percayalah, Ibuku menjuluki dirinya sendiri dengan kenyataan yang ada. Ibuku ini selektif dalam hal makanan dan rajin olahraga maka dari itu meski sudah menyandang status Nenek di akhir umur lima puluhan, namun wajahnya tampak seperti akhir tiga puluhan.

Aku mencerna sejenak perkataan Ibuku. Cucu-cucuku? Apa itu …. Sontak mataku membulat mendengar itu.

“Apa Kak Mei tengah hamil?” pekikku kencang. Oh, Park Ahyoung tenangkan dirimu! Kau membuat semua orang sakit telinga, mungkin sakit jantung juga.

“Ibu, mengapa mengatakannya? Itu tidak akan menjadi kejutan kalau sudah begitu.” Suara berat dari belakang mengejutkan kami. Ya, tentu saja aku mengenalnya. Sangat.

“Ibu tidak mengatakannya.” ujar Ibu tenang. Mungkin Ibu sudah tahu keberadaan mereka.

“Ibu memberikannya kode.” Kak Bongyoung terus menyudutkan Ibu.

“Ya, ya. Ibu salah. Kau puas?” Kakakku mengembangkan senyumnya, ia memeluk Ibu dengan erat setelah itu.

Aku meninggalkan mereka dan mengampiri keluarga Do yang tengah duduk santai bersama Ayah. Ayah Mertua bahkan terlihat lebih hangat saat berbincang dengan Ayah. Aku mengambil tempat duduk kosong yang kebetulan persis di sebelah kanan Kyungsoo.

“Apa yang mereka bicarakan?” bisikku pada Kyungsoo. Ia menoleh sejenak dan membalas pertanyaanku dengan cara berbicara yang sama.

“Apalagi yang mereka bicarakan selain bisnis?” Aku mengangguk-angguk mengerti.

Dan selanjutnya kami melanjutkan acara ini dengan pesta barbeque kecil dengan bumbu tawa dan senyuman. Meski cuaca kurang mendukung, tapi kami bahagia sekali.

Ini memang pertemuan yang durasinya tak bisa dikatakan lama. Namun, hati ini yang merasa menghangat dan nyaman, membuat pertemuan ini seakan diputar secara lambat. Yang pasti aku tahu adalah orang-orang yang hadir di sini tak luput dari perasaan bahagia. Perasaan bahagia mereka menghangatkanku.
___

Tanganku menekan tombol kunci pada ponselku setelah mendengar suara decitan pintu yang terbuka dan kembali tertutup. Adalah Kyungsoo yang baru saja masuk ke kamar kami setelah menidurkan Hyonhee di kamarnya. Agaknya Hyonhee tahu bahwa Ayahnya libur makanya seharian ini tidak lepas dari Kyungsoo.

Dia mendekat dan berbaring di sampingku. Tangan besarnya merengkuh pinggangku erat. Ia terdiam lama, tapi itu tidak berati ia tidur. Sorot matanya masih mengamati langit-langit ruangan. Apa yang ia pikirkan?

“Dokter Jo berkata kalau aku maupun kau harus lebih terbuka satu sama lain.”

“Aku sudah.” kataku pelan seraya berbalik dan secara tak langsung menjauhkan tangan Kyungsoo.

“Oke, kalau begitu … bagaimana mendengar cerita darimu. Tentang masa lalu, mungkin? Ya, selama ini aku hanya mendengar sedikit hal itu.” saranku bersiap menjadi pendengar.

“Aku benci membahas masa lalu.” Kyungsoo menatapku mencoba meyakinkan ia tidak ingin cerita lebih tentang itu.

“Katanya ingin terbuka? Salah satunya adalah menoleh pada masa lalu sejenak.” Ia tampak berpikir dan menghela napasnya pelan.

“Tapi, kau juga harus melakukan hal yang sama.” Aku mengangguk dan menyetujui.

“Dulu sewaktu sekolah menengah atas aku masuk sekolah yang sama sepertimu lebih awal–”

“Aku sudah tahu yang itu.” potongku.

“Ya, tapi kau tidak tahu kan kalau aku masuk sekolah hanya jika sedang ujian?” Oh, pantas saja aku jarang melihatnya.

“Benarkah? Aku adalah anak yang nakal saat sekolah dulu tapi tidak separah itu.”

“Waktu itu aku baru saja kehilangan sosok Jongin yang biasanya selalu di sampingku, saat itu ia menjadi kapten basket dan dikelilingi para gadis. Dan aku juga kehilangan Paman Cha yang sejak kecil mengurusku telah meninggal.”

“Itu aneh jika kau tetap lulus sekolah.”

“Jongin kembali menjadi temanku. Bahkan hingga saat ini. Dan itu sedikit memperbaiki absenku. Dan untungnya aku lulus sekolah. Aku tahu kau benci hal ini, tapi dia yang membuatku jadi sedikit lebih baik, setidaknya aku tidak lagi benci pada kedua orangtuaku.” Kyungsoo kembali menatapku lagi. Itu bagian yang paling tak aku suka.

“Lalu kau membuatku jauh lebih baik.” Ia tersenyum tipis. Itu sangat manis meski pencahayaan kamar kami dikatakan redup.

“Apa kau sedang menggodaku?” candaku dengan kekehan. Ia menggeleng. “Aku serius kau wanita dan orang pertama yang memperbaiki hidupku …. Sekarang giliranmu.”

Aku membungkam. Berpikir bahwa apakah aku harus menceritakan kisah kelamku bersama Junmyeon? Kyungsoo memang seharusnya mendengar ini. Aku tidak ingin ada salah paham nantinya. Aku menatap mata besarnya. Ia masih menunggu ceritaku dengan sabar.

“Aku malu menceritakan hal ini tapi kau harus tahu. Dulu sebelum bertemu denganmu aku sudah dilamar dan dijanjikan untuk dinikahi. Tapi, ia pergi dan berjanji lagi akan kembali dan … ia mengingkari itu semua dengan tidak memberi kabar padaku selama berbulan-bulan. Ayahku sangat marah saat itu, lalu Ayah dan Ayah Mertua yang kebetulan berteman lama akhirnya ingin menjalin sebuah hubungan bisnis yang mungkin tidak akan putus dengan cara menikahkan kita. Aku tahu ini kedengaran seperti kau sebagai pelampiasan tapi–”

Shit! Mengapa air mataku harus menetes. Tenggorokanku rasanya tercekik kalau mengingat hal itu. Aku benar-benar benci menceritakannya.

“Kau tidak lupa kan saat tiga hari sebelum pernikahan aku kabur dari rumah? Aku pergi ke bandara berniat menyusulnya ke Jepang. Kak Bongyoung menahanku, tentu aku tetap berniat untuk pergi karena aku sudah mengurus semuanya, memesan tiket dan mengurus paspor tanpa sepengetahuan orangtuaku. Lalu, beberapa jam sebelum take off sebuah telepon ku terima, itu dari Junmyeon. Dan dia mengatakan bahwa hubungan kita cukup sampai di sini kemudian memutuskan begitu saja. Dan disitu aku mulai berpikir aku harus menerima apa yang Ayah rencanakan dan mencoba menerima dan mencintaimu. Kau begitu jahat, Kyungsoo sebenarnya. Tapi, kau malah membuat aku mencintaimu dengan waktu yang terbilang singkat. Jujur saja aku merasa tertipu karena aku dijadikan sebagai alat untuk membuatmu sembuh. Namun tak apa, kita impas bukan? Sama-sama menjadi pelampiasan.” Kyungsoo bergeming meski cerita menyedihkan itu telah selesai. Ia benar-benar pendengar yang baik.

“Benarkah?” Aku mengangguk pasti.

“Lalu kau sendiri, apa alasan lain selain sembuh menerima perjodohan ini?” Kyungsoo mulai tampak berpikir.

“Aku hanya melihat dirimu adalah wanita tepat.” jawabnya mengecewakanku.

“Itu terlalu umum.”

“Aku tidak tahu harus menjawab apa.”

Ugh! Sifat kakunya kembali lagi!

“Dulu saat aku masih kuliah aku ingin menjadi penerjemah karena selain bisa keliling dunia, gajinya pun lumayan. Atau paling tidak guru Bahasa Jepang. Aku tidak begitu tertarik dengan industri hiburan mereka, tapi aku menyukai dengan wisatanya. Aku ingin ke Disneyland di Tokyo, Universal Studio di Osaka, Okinawa, dan masih banyak lagi. Ini jelas sekali tidak masuk akal, ya kau tahu kan kuliah itu bukan perkara yang mudah, tapi kenyataannya memang begitu. Meskipun Junmyeon di sana, itu tak mengurangi sukaku pada Jepang.”

“Ayo kita kesana.” tanggap Kyungsoo cepat. Aku mengejap-ejapkan mataku lalu menatapnya. Apa ia serius? Oh, memang kapan Do Kyungsoo bercanda?

“Kau punya banyak pekerjaan.” ujarku setelah meminimalisir rasa terkejutku.

“Setelah saham kembali normal aku harus berhenti, bukan? Kita isi hal itu dengan liburan. Berhubung kita belum pernah berbulan madu, anggap saja liburan nanti seperti itu.”

“Sungguh?” tanyaku tak percaya. Ia mengangguk tanpa ragu.

“Aku merasa selama ini aku tidak pernah membuatmu bahagia. Kalau itu keinginanmu, mari kita kesana.”

Aku menatap pupilnya lama, sebelum akhirnya menguarkan senyum dan mengangguk dengan antusias. Tubuhku langsung bergerak agresif, sebelah tanganku melingkar pada bahunya dan bibir ini pun tak bisa menolak untuk mencium pipinya. Aku seperti Fangirl yang diberi tiket konser idol yang ku suka secara cuma-cuma. Tingkah berlebihan dan sifat asliku yang selama ini aku simpan rapat-rapat seakan naik ke permukaan.

“Aku tak pernah melihat kau sesenang ini.” gumamnya pelan.

“Ya, aku sangat senang.”

Sejak lama aku ingin sekali berlibur ke Jepang. Namun, mengingat seluruh keluargaku sibuk aku jadi tak sempat kesana. Padahal Ayah dan Ibu, bahkan Kak Bongyoung sempat bekerja di Jepang sampai-sampai dia menggaet wanita pribumi. Ugh! Dia memang tukang tebar pesona. Centil sekali.

“Kita pergi bertiga?”

“Berdua. Bukankah aku sudah bilang liburan itu sekaligus bulan madu?” jawabannya membuat kesenanganku hilang seketika.

“Lalu, Hyonhee akan bersama siapa?”

“Kak Mei.” jawab Kyungsoo enteng. Aku menggeleng . Tidak, aku tidak ingin merepotkannya lagi.

“Kak Mei sedang hamil. Kalau-kalau nanti pun ia pasti mengurus bayinya. Itu merepotkannya.”

Aku baru kali ini melihat Kyungsoo berbicara tanpa pertimbangan. Meskipun kelihatannya pria yang mengambil keputusan tepat, nyatanya ia sudah seperti itu, termasuk mencintai Jongin. Oke, cukup. Nampaknya aku terlalu terbawa perasaan.

“Jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak menganggap itu sebuah janji. Kalau memang waktunya, segalanya pasti mudah.” kataku pelan. Lalu kesunyian mengisi atmosfir, aku diam memikirkan topik apa yang harus diangkat.

“Bagaimana tentang masa depan?” tanyaku spontan.

“Masa depan?” ulangnya memastikan dan kepalaku mengangguk.

“Aku ingin berinovasi di perusahaan Ayah nantinya akan semakin maju, aku ingin kita, keluargaku harmonis seperti keluargamu.” jawab Kyungsoo yang sedikit mengecewakan di telingaku.

“Hanya itu?”

“Aku ingin kembali menjadi pria normal, aku ingin Hyonhee tumbuh dengan kasih sayang kedua orangtuanya, aku ingin kau selalu di sampingku.” Kyungsoo yang semula menatap langit kamar, kini menatapku dengan dalam.

“Apa kau mau berjanji untuk selalu berasamaku apapun yang terjadi?” Aku termenung sejenak. Ini terlalu mendadak dan membuat jantungku berdetak abnormal. Dia bukan tipe pria yang romantis. Dia begitu jujur.

Ia mengacungkan ibu jari dan jari kelingkingnya. Yang pernah aku ajarkan padanya. Aku tersenyum lebar dan menautkan jari kelingking kami lalu menempelkan ibu jari.

Bibir tebalnya menyungging senyuman? benar-benar tersenyum. Kyungsoo membawa tubuhku pada dekapannya.

Aku tahu Tuhan tidak pernah tidur. Ia selalu mendengar doa-doa hambanya, Ia selalu melihat usaha hamba-hambanya, dan Ia tentu tahu siapa-siapa yang melakukan semua itu dengan ikhlas.

Apa ini jawaban dari-Nya?

Kyungsoo benar-benar akan sembuh?

Oh, apakah aku kedengaran berlebihan?

Kau tahu kan bagaimana cerita hidupku selama ini?

Kyungsoo meraup bibirku perlahan dan semuanya seakan berjalan begitu lambat. Aku sudah berkali-kali mendapatkan darinya, tapi yang kali ini berbeda. Serbuk-serbuk cinta seakan menyertai kami. Setidaknya kata-kata “Aku ingin kau selalu di sampingku.” Kata lain dari “Aku tak ingin kehilanganmu.” Atau mungkin “Aku mencintaimu.

Aku tahu aku berlebihan. Kau tahu kan bagaimana rasanya? Seperti menemukan perapian di tengah antartika atau menemukan oasis di gurun.

Dia Do Kyungsoo, aku menikah dengannya dengan segala sifat buruknya. Dia menyukai pria. Bahkan lebih buruknya ia acuh tak acuh pada anak kandungnya sendiri. Dia membentakku dan nyaris menamparku di saat hamil tua. Lalu, perlahan semua hal itu seakan masuk kedalam jurang seperti dalam film Inside Out, yang nantinya akan hilang menjadi abu yang beterbangan.

“Dan aku ingin anak laki-laki darimu.”
___

Minggu pagi sudah menjelang. Matahari nampak di langit cirrus hari ini. Meski cerah, kami tidak mempunyai acara pergi keluar walau sekedar untuk berjalan-jalan.

Sewaktu sarapan pun sama seperti biasa, Kyungsoo yang diam saat makan dan aku yang makan menyuapi bubur organik pada Hyonhee.

“Anak pintar.” pujiku gemas saat menyuapkan suapan terakhir. Aku senang sekali setelah kemarin-kemarin sakit, akhirnya Hyonhee mendapatkan kembali nafsu makannya.

Hyonhee harus mengganti pakaiannya yang penuh dengan bubur dan memandikannya juga. Aku melepas semua pakaiannya dan juga popoknya sebelum pergi ke kamar mandi untuk bermain air. Yeah, Hyonhee suka air.

Kyungsoo diam-diam berdiri diambang pintu saat aku tak sengaja melirik ke arahnya. Bebek-bebek karet berwarna kuning dan busa telah memenuhi bak mandi miliknya. Ia memukul-mukul air dan sukses membasahi sebagian tubuhku.

“Ayo bergabung kita bermain air.” ajakku pada Kyungsoo yang terlihat tertarik ikut masuk ke dalam. Sebelum akhirnya bunyi dering telepon menghentikan aksinya.

Sepertinya dia harus pergi, karena aku yakin 99,9% itu panggilan dari kantor. Aku berani bertaruh kalau omongan aku ini pasti terjadi. Aku sudah berpengalaman akan hal ini.
___

Aku sedikit kesal bahwa ternyata apa yang aku duga menjadi kenyataan. Meskipun hanya dii rumah, tetapi itu akan berkesan untuk kami, terutama Hyonhee. Kyungsoo akhir-akhir ini sibuk. Jangan menganggapku kekanakan, aku tahu dia seperti itu untuk kami. Tapi dia terlalu. Aku tidak ingin sifat work holic Ayah Mertua menurun padanya. Pekerjaan dan keharmonisan keluarga harus seimbang bukan?

Sadar tidak sadar, aku menyusuri blok dimana aku terakhir aku berjalan-jalan berdua dengan Hyonhee, tepatnya saat belanja dan terjebak hujan sehingga membuatku berteduh di kafe dan bertemu Si Psikiater Gila–Byun Baekhyun. Hingga saat ini aku masih heran sekaligus kagum pada sahabatku itu. Dia orang gila yang cerdas.

Entah mengapa kakiku membawaku dan Hyonhee yang terbaring dalam kereta bayi menuju kafe yang sama. Berharap bertemu Baekhyun mungkin tak buruk. Namun, daripada Baekhyun, cheese cake dengan saus matcha lebih menarik atensiku sejak tadi. Seakan poster Cheese Cake Matcha di depan sana melambai padaku. Sepertinya itu menu baru.

Aku mengambil tempat duduk yang tersisa. Gara-gara Cheese Cake Matcha pengunjung membludak dari biasanya hari ini. Aku baru menyadari kalau menu yang aku inginkan memang sedang promo dan harganya setengah dari harga normal. Oh, pantas saja.

“Cheese Cake Matcha satu dan Moccha Ice satu. Ada tambahan?” kata kak Yewon lalu tersenyum. Ia menatap Hyonhee yang sedang bermain dengan mainan karet.

“Tidak.” Kak Yewon mengangguk, tapi tak beranjak dari tempat. Ia malah asik dengan Hyonhee yang senang di ajak bermain olehnya.

“Kim Yewon, aku tidak ingin kehabisan Cheese Cake Matcha promonya!” ujarku tak sabaran. Dia malah mencoba menggendong Hyonhee yang semakin akrab padanya.

“Kim Yewon!” Ia malah terkekeh menunjukan apple cheek-nya yang menonjol. Ia menjauhkan tangannya dari Hyonhee dan segera menuju ruangan staf setelah sebelumnya ia melambaikan tangannya seraya berkata, “Sampai jumpa lagi.” dengan nada lucu yang dibuat-buat.

Mataku menyapu ruangan yang saat ini lebih luas dari sebelumnya–saat aku sekolah dulu. Interiornya sedikit diubah dan membuat suasana menjadi lebih klasik. Meskipun begitu, aroma kue di kafe ini tidak pernah berubah, menjadi satu-satunya yang bisa membuatku terbang menuju masa sekolah dulu yang terbilang cukup buruk yang menyenangkan. Jangan bertanya siapa melakukan itu semua kalau bukan Si Psikiater Gila. Kami sering terlambat namun Baekhyun selalu mempunyai beragam rencana untuk masuk ke dalam kelas dengan selamat.

Pandangan mataku ku fokuskan pada seorang pria berkemeja merah maroon dengan perawakan mungil bagi ukuran pria, aku tahu dia siapa. Tetapi, ia tak sendirian, dia ditemani oleh pria tampan dengan rambut yang disemir blonde dan dengan pakaian kasual, perawakan tubuhnya hampir sebelas dua belas dengannya.

“Sampai bertemu minggu depan.” Dia yang menangkap mataku sedang memandangnya tersenyum sebelum melenggang.

Mungkin itu orang yang Baekhyun bicarakan. Maksudku, dia yang tersenyum tadi adalah pasien Baekhyun.

“Kau lagi.” Baekhyun menghampiriku ia mengambil tempat duduk dimana ia dapat melihat Hyonhee dengan jelas.

“Aku ingin menggendongnya.” izin Baekhyun lalu mengangkat tubuh Hyonhee ke dalam tubuh mungil. Dia dokter jadi aku percaya padanya meski dia belim menikah.

“Ini pesanannya, Nyonya.” Kak Yewon kembali datang dengan pesananku.

“Seumur-umur aku belum pernah dipanggil Nyonya.” protesku. Oh, dia adalah orang pertama yang memanggil Nyonya. Bahkan, maid di rumah Kyungsoo memanggilku Nona meski aku sudah beranak satu.

“Kau tidak ingin memasan sesuatu lagi, Pak Dokter?” tanyanya pada Baekhyun. Baekhyun menggeleng, ia asik bermain dengan Hyonhee sepertinya.

Sialan. Si Kim satu ini tidak menghiraukan perkataanku. Apa perlu aku membasmi orang bermarga Kim? Mereka benar-benar menyebalkan. Kim Yewon, Kim Junmyeon, Kim Jongin.

“Selamat menikmati.” Ia mengedipkan mata padaku. Apa itu permintaan maaf? Atau apa?

Kak Yewon melanggang begitu saja menuju meja lain yang butuh pelayanannya.

“Oh ya, Baek. Yang tadi itu siapa?”

“Siapa maksudmu? Lelaki tadi?” Aku mengiyakan pertanyannya. Ia memangku Hyonhee sebelum menatapku dengan serius.

“Dia keluarga yang aku ceritakan itu.” bisiknya pelan.

Aku mengangguk paham. Dan entah mengapa aku lega mendengar itu. Sudah tak asing kalau dokter menyembunyikan identitas pasiennya.

“Baekhyun, kau harus menikah.” ucapku spontan melihat dia sangat lihai mengasuh bayi.

Dia tampan, mapan, siapa perempuan yang tidak ingin dengannya? Dan yang terpenting usianya dan segala yang ia punya sudah matang, tidak termasuk mental aku rasa. Tetapi, kalau ia mau kenapa tidak?

“Kan aku sudah katakan kalau aku akan menikahi Hyonhee. Betul tidak, Sayang?”

Ia mengangkat tubuh Hyonhee lebih tinggi dari kepalanya, dan itu membuatnya tertawa terbahak-bahak saat Baekhyun menggelitik perutnya dengan hidung bangirnya.

“Ternyata selain gila, kau itu pedofil ya?”

Baekhyun terkekeh mendengar perkataanku. Ia mengembalikan posisi Hyonhee seperti semula–dipangku.

“Aku tidak tahu. Mempunyai kekasih saja belum.” Baekhyun menjengitkan kedua bahunya.

“Kau sudah matang, Baekhyun. Sudah saatnya kau menikah.”

“Kau itu sama seperti Ibuku ya. Memaksaku cepat-cepat menikah. Kau kira mencari istri itu seperti mencari oksigen?”

“Bisa-bisa manusia akan punah kalau isi otaknya seperti dirimu semua.”

“Buktinya kau tidak.” sahutnya menjulurkan lidah. Dia masih tetap kekanakan dan menyebalkan ternyata. Pantas tidak ada yang ingin bersamanya.

“Kau itu punya pekerjaan tetap, wajahmu juga lumayan. Wanita-wanita pasti ada yang suka denganmu.”

“Bilang saja aku ini tampan dan diidolakan oleh banyak wanita. Susah sekali rasanya memuji orang.”

“Kepalamu itu mudah besar, Baek. Ditambah tingkat kenarsisanmu itu sudah akut. Aku hanya takut jika memujimu nantinya kau akan menjadi psikiater gila betulan karena tidak ada penawarnya.”

Tawa Baekhyun meledak begitu saja. Sampai-sampai membuat sepasang mata orang-orang di sekitar menatap ke arah kita. Bahkan Hyonhee menangis karena terkejut mendengar tawa Baekhyun yang seperti auman singa kelaparan.

“Aku sebenarnya sudah punya calon bahkan sebelum kuliah.” Mataku membelak samar seraya menerima Hyonhee yang menangis.

“Siapa?”

“Tidak bisa dibilang begitu memang. Tapi, intinya aku sudah suka dengan satu gadis sejak dulu.”

Kini gilaran aku yang tertawa. Oh, ku kira dia tidak tertarik dengan wanita. Baekhyun berdecak sebal, sepertinya ucapannya benar-benar serius. Sarat wajahnya terutama matanya sama sekali menunjukan tanda-tanda dusta.

“Ceritakan padaku siapa dia?”

Aku menopang dagu menatap wajahnya dekat setelah menyimpan Hyonhee di kereta bayi. Ia sedikit mulai tenang.

“Kau tahu saat sekolah dulu–”

Yak! Kau menyembunyikan itu sejak dulu? Sahabat macam apa kau ini!”

Bola matanya memutar. “Dengarkan dulu sampai selesai.”

Aku hanya diam dan menuruti permintaannya.

“Saat sekolah dulu ada seorang gadis berambut panjang yang lebih sering diikat. Gadis yang memilih membawa bekal nasi ketimbang makan di kantin. Dia kalau dilihat-lihat cantik, tapi kelakuannya seakan menutupi itu. Dia begitu karena aku, aku selalu membuatnya terlambat dan bolos pelajaran demi mengerjakan hal tidak penting, karena dia seperti daun dia mudah yang mengikuti arah angin. Dia mengajakku menginap jika orangtua dan kakaknya tidak ada, dia bahkan tidak segan tidur seranjang denganku. Dia tidak takut kalau nantinya insting laki-lakiku muncul. Dia–”

“Baek.”

Aku menyelanya. Kedua tanganku menutup kedua telingaku. Aku tidak ingin mendengarnya lebih lanjut.

“Kenapa? Kau tahu siapa dia?” dia tersenyum tulus.

Entah mengapa pipiku tiba-tiba basah. Rasanya hatiku berkecamuk, teraduk-aduk oleh banyak perasaan yang timbul. Baekhyun hendak mengusap air mataku, tapi aku menepisnya. Aku merasakan hancur sehancurnya. Kau tahu? Baekhyun memang bukan pegulat hebat, dia tidak cerdas masuk fakultas kedokteran pun dengan kerja kerasnya, dia pria yang rela datang tengah malam untuk menemaniku. Dia bukan pria pengecut yang suka mengumbar janji lalu kemudian tidak menepatinya. Dia pria yang jujur dan menepati janjinya.

Dan yang membuat hatiku sakit adalah selama ini dia betah melajang karena aku. Dan yang paling amat teramat sakit adalah dia terlambat. Orang yang benar-benar tulus dan benar-benar mencintaiku datang setelah Kim Junmyeon Si Pendusta dan sedang bersama Do Kyungsoo yang entah kapan dia akan menganggapku istri betulan.

“Kau jahat, Baek.” gumamku pelan masih terisak.

“Aku ingin, Ahyoung. Tapi, Kim Junmyeon datang terlebih dahulu.” Baekhyun masih mempertahankan senyumnya.

Bukannya aku tidak bersyukur atau tidak bisa menerima keadaan sekarang. Tapi, Ayolah! Siapa yang tidak sakit hati mendengar ini?!

“Hei! Mengapa kau menangis? Seharusnya aku yang begitu! Bukan dirimu!” canda Baekhyun diiringi kekehan khasnya.

Senyumnya hilang saat candaannya sama sekali tak menghiburku dan malah tangisku semakin menjadi. Baekhyun memberi beberapa helai tisu padaku. Untung saja aku tidak memakai eyeliner dan mascara ku translucent. Wajahku benar-benar seperti wanita yang selamat dari pusaran segi tiga bermuda jika memakai riasan tebal. Shit! Sempat-sempatnya aku memikirkan hal seperti itu!

“Park Ahyoung.” panggilnya pelan. Ia hendak menggenggam tanganku tapi lagi-lagi mencegahnya. Ia tidak perlu melakukan hal itu untuk pengakuan kadaluarsa ini.

“Apa kau tidak bahagia?”

Iya, Baek. Hatiku selalu sedih saat setelah tidak bersamamu.

“Iya tentu saja.”

Tentu aku memilih berbohong. Dia bukan siapa-siapa lagi bagiku. Atau kemungkinan menjadi orang ketiga. Masalah perasaan sakitku pada Kyungsoo hanya aku dan Tuhan yang boleh tahu. Seburuk apapun Kyungsoo, dia tetap suamiku yang reputasinya harus ku jaga.

“Tapi mimikmu tidak mendukung.”

“Aku tidak bohong. Aku sudah mempunyai suami tentu saja aku bahagia.” balasku sekenannya seraya menghapus air mataku yang keluar tanpa izin.

Baekhyun menguarkan senyum manisnya. Aku sudah terlanjur mencintai Kyungsoo, dan aku tidak mungkin bahkan sama sekali tidak mempunyai niatan untuk mencintai pria sipit di depanku ini. Aku tidak menyesal akan penyataan Baekhyun. Maksudku, aku tidak menyesal setelah semua yang terjadi. Dadaku tiba-tiba saja seakan teremas kuat, membuat napas terasa sesak seketika saat mendengarnya.

Sejujurnya aku tidak menyangka kalau Baekhyun melajang selama itu karena aku. Aku memang peka, tapi aku tidak tahu akan itu. Baekhyun memang perangai yang jujur, namun tidak menutukan kemungkinan kalau dia menyembunyikam sesuatu. Baekhyun bukan pria pendusta, bukan pula pria yang suka berterus terang.

Dan yang terpenting adalah aku harus percaya dan mendukung Do Kyungsoo akan berjuang untuk kami semua. Aku tahu ini menyakitkan, namun di sisi lain aku ingin menikah sekali seumur hidup. Kata ibuku menikah tidak mesti dengan orang yang baik, justru seharusnya dengan menikah pribadi kita harus semakin baik. Dan aku percaya bahwa Tuhan tidak akan memberi cobaan pada umat-Nya di luar batas kemampuan.

“Baguslah. Hiraukan ucapanku tadi. Kita masih biasa bersahabat kan?” Aku mengangguk.

“Tentu saja.”

___

Shimmie shimmie ko ko bop i think i like it ~

Hoho gimana part ini? Setelah penantian panjang menunggu cuman dapet ini? Kecewa kah? Maapkeun (/\) *sungkem* jujur aku sempet stuck nulis part ini, karena terdesak UN, SBM, Tes Ujian PTS. Dan ga ada inspirasi karena semenjak aku nulis aku malah jarang baca ff 😆😆😆. And its final result of this part. So, i hope you guys like it.

Gue mau curhat dikit boleh?
Lu manly bgt, Baek! Tapi kenapa cuman di MV doang?! Setelah itu kembali menjadi cabe. Wae? Tapi suka bgt sma pnampilan bedanya! God! 😗😗😗
Kyungsoo, plis ini konsepnya sedikit sexy rate nya aja 15. Tapi kenapa lu malah imut?! Lari-lari dengan perut yang sedikit maju 😀 kaya anak sd sumpah. Lap yu pisun lah 😍😘😍😘
Kai, lu kaya orang dieng nyasar sumpah. :’) 😂😂😂😂
Yang lain? Swag seperti biasa wkwkwk.

Jangan lupa Comment daan like yaks … share ke temen kalian yg demen ff juga boleh 🙂 dan terimakasih untuk yang udah baca, klik jempol, dan komentar. Poin akhir aku ga maksa sih, karena ga setiap orang bisa ngeluarin pendapat, meski dalam hatiku terdalam sedalam kenikmatan Kyungsoo(?) 😆😆😆 kadang ngerasa kecewa dengan komentar yang isinya “next” haha. Tapi aku lebih kecewa sama yang ga comment. Hoho.

Oh ya, part akhir tentu bakal di-protect. Makanya terus komentar ya biar bisa baca nanti 😆😆😆

Regard
Elfeetoile.

Salam Ko Ko Bop! 😚😚😚

Advertisements

6 thoughts on “Stay VI [Confession]

  1. Ini unexpected bingo~ gila gila gila, ok nuggu kyungsoo cemburu sama baekhyun
    Setalah sekian lama menunggu, stress abis ujian lainnya, finally dipost juga. Aku bolak balik ke blog-mu cuman buat liat stay udh di post apa belum.

    El, kamu tau nggak. Aku baca chapter ini pelan-pelan banget supaya bisa menghayati. Good job

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s