Youngsoo’s Diary – Chapter 7 [Gift and Bed]

Hasil gambar untuk kyungsoo

2017 © Elfeetoile

Starring With : Do Kyungsoo [EXO’s D.O.] Park Ahyoung [OC/You]  Do Youngsoo [OC] | Also Support : Byun Baekhyun [EXO’s Baekhyun] and Others |  Genre : Family, Romance, Marriage life, Comedy | Rating : PG+17 | Lenght : Chapter | Disclaimer : This Story Line Is Mine, Please Don’t Copy Paste!

Before :

Chapter 1 [Introduction] | Chapter 2 [History] | Chapter 3 [Chicken Soup] | Chapter 4 [Meet Stranger] |  Chapter 5 [Sausage] | Chapter 6  [Red Marks]

 

“Youngsoo!” pekik Baekhyun ketika bertemu sesosok anak kecil yang baru saja keluar dari mobil berwarna hitam.

Tanpa mempedulikan Ayah dan Ibunya yang baru saja keluar, Youngsoo berlari menghampiri Baekhyun. Pria itu merentangkan tangannya lalu memeluk Youngsoo.

“Paman kemana saja?”

“Paman pergi berkunjung ke rumah Ibu. Youngsoo rindu pada Paman?”

“Em.” Youngsoo mengangguk. “Paman kemarin Youngsoo membeli sosis beeessaar sekali! Tadinya Youngsoo ingin memberikan pada Paman. Tapi, Paman tidak ada.” Baekhyun masih tetap menguarkan senyumnya. Lalu, ia mengusak rambut Youngsoo pelan. Ia tidak ingin kena semprot Youngsoo lagi karena kebiasaannya membuat rambutnya berantakan.

“Nanti sehabis mandi, ke rumah Paman ya.” Baekhyun menegakan tubuhnya yang semula menyamakan tingginya dengan gadis kecil di hadapannya.

“Oke.” Youngsoo mengacungkan jempolnya.

“Sampai bertemu di rumah, Paman.” Youngsoo membalas lambaian Paman Baekhyun.

“Kyungsoo, Ahyoung, aku duluan. Dah, Youngsoo.”

Kyungsoo hanya tersenyum kecil. Dan Ahyoung melambaikan tangannya sebentar.

“Youngsoo ingin gendong?” tawar Kyungsoo yang disetujui oleh Youngsoo dengan senang hati.

“Wah … anak Ayah sudah besar. Semakin berat saja.” Gadis kecil itu hanya tertawa pelan.

“Ayah tidak bekerja?”

“Ayah baru saja pulang kerja.”

Youngsoo dan Kyungsoo asik mengobrol selama perjalanan menuju unit apartemennya. Meninggalkan Ahyoung yang berjalan sendiri di belakang mereka merenungi apa yang ia bicarakan pagi tadi.
___

Youngsoo dengan pakaian kasualnya yang tampak rapi sedang menyisir rambutnya. Hal yang terakhir ia lakukan adalah menyemprotkan tubuhnya dengan parfum beraroma stroberi. Ia akan menempati janjinya untuk berkunjung ke rumah Paman Baekhyun.

“Ibu, Youngsoo pergi ke rumah Paman Baekhyun.” pamitnya melihat Ibunya dengan setumpuk pekerjaan.

Ia menghela napas saat tak ada tanggapan dari Ibunya. Kemudian ia beralih pada Ayahnya yang sedang menonton Larva di televisi. Ugh! Gadis kecil itu memutar matanya saat melihat ulat-ulat bodoh itu.

“Ayah, Youngsoo ingin pergi ke rumah Paman Baekhyun.”

“Ya, jangan terlalu lama.”

.
.
.

Seperti biasa, Youngsoo mengetuk pintu unit apartemen Baekhyun. Yeah … mungkin ia harus menunggu sekitar setahun atau dua tahun lagi untuk bisa menyentuh bel.

“Kau sudah datang?” Baekhyun yang baru saja membuka pintunya menyapa tamu istimewanya itu dengan senyum manis.

Tanpa disuruh Youngsoo memasuki kediaman Baekhyun yang masih tampak berantakan. Sangat. Youngsoo memasang tampang masam, ia benci sekali melihat barang-barang yang berserakan.

“Paman benar-benar jorok!”

Youngsoo mengacungkan dalaman berwarna abu milik Baekhyun yang berada di atas sofa tempat di mana biasa ia duduk.

Baekhyun dengan cepat melesat menuju Youngsoo dan menyambar dalamannya.

“Itu tidak sopan.” nasihat Baekhyun sambil melempar barang itu ke dalam kamarnya yang kebetulan pintunya tidak ditutup.

“Paman juga. Seharusnya sebelum mengundang orang alangkah lebih baik bila merapikan ruang terlebih dahulu. Untung yang kau undang adalah anak kecil, kalau saja kekasih sendiri pasti langsung putus setelah melihat ruangan ini.” Omel Youngsoo seraya berkacak pinggang. Oh, apa Youngsoo adalah jelmaan ibu cerewet?!

“Hei, aku mengajakmu kemari hanya ingin memberikan ini.” Baekhyun memberikan kotak kepada Youngsoo. Gadis kecil itu tersenyum lebar lantas menerima.

“Apa ini isinya, Paman?” Youngsoo tersenyum lebar lalu membuka kotak dingin itu.

“Wah … macaron.” Senyumnya ikut mengembang saat melihat Youngsoo senang akan pemberiannya.

“Youngsoo suka?”

“Em.” Kepala kecil hitam itu mengagguk, mulutnya mengunyah macaron tersebut.

“Paman, harus mencobanya juga.”

___

“Aku sudah menyiapkan sup kesukaanmu.” ujar Kyungsoo yang berdiri di ambang pintu ruang kerja di samping kamar Youngsoo. Apartemennya hanya terdapat ruang tamu, ruang keluarga sekaligus ruang makan, dapur, dan tiga kamar yang salah satu di dalamnya terdapat kamar mandi, juga kamar mandi dekat dapur. Apartemen memang tidak terlalu besar, tapi setidaknya itu hasil jerih payah Kyungsoo sendiri.

Ahyoung hanya bergumam, kacamata berwarna hitam miliknya masih bertengger di batang hidungnya, dan otak juga tangannya pun belum berhenti bekerja.

“Supnya akan dingin.”

“Sedikit lagi. Ini dikumpulkan besok.” Ahyoung tak melirik pria di belakangnya sedikitpun. Kyungsoo mendekat, lalu duduk di samping, tepatnya di kursi meja kerjanya.

“Kau akan sakit.” Kyungsoo meraba tombol power pada laptop Ahyoung yang seketika mendapat tatapan tajam dari wanita itu.

“Kau tahu kan aku tidak suka diganggu saat bekerja?!” Ahyoung menangkap tangan besar itu dan menyingkirkannya.

“Aku tahu.” kata Kyungsoo terdengar meledek.

“Pergilah … aku akan makan jika anakku sudah pulang.” Kyungsoo menolak, ia kembali mengganggu wanita itu dengan mencabut kabel mouse pointer.

Kini wajah Ahyoung tampak kesal, mungkin kalau dalam bentuk animasi atau diberi efek CGI wajahnya akan tampak merah padam seperti tomat. Ugh! Kyungsoo berhasil menyulut amarahnya.

Ahyoung berdiri, ia mengambil buku setebal dua ruas jari dan bersiap akan menghantam tubuh Kyungsoo. Apa kau akan mencoba melakukan kekerasan dalam rumah tangga, Park Ahyoung?

“Apa kau akan memukulku dengan itu?!!” Mata Kyungsoo membola saat buku itu sudah tak lebih dari sejengkal untuk menyentuh kepalanya.

“Tentu saja!”

“Aww!” Didapatnya dada bidang dan punggung lebarnya itu sebagai sasaran. Kyungsoo mengerang, ia tahu Ahyoung tidak benar-benar memukulnya, tapi buku tebal itu tetaplah sakit mengenai badannya.

“Yak! Berhenti!”

Ahyoung kali ini mengeluarkan tawanya melihat Kyungsoo kesakitan. Pria itu lama-lama jengah dan melempar buku itu. Tawanya seketika hilang saat buku kesayangannya itu terdampar dekat lemari. Wanita itu akan mengambilnya tapi tangannya di cekal oleh Kyungsoo. Tubuh ringannya tiba-tiba berada di pangkuannya dan terkunci oleh lengan besar yang mengungkungnya dengan posesif.

“Yak! Lepaskan!” Ahyoung kembali menampakan wajah kesalnya lagi. Tapi, tidak separah sebelumnya.

“Kau membingungkan, Park Ahyoung.” Ahyoung mengerutkan dahinya ketika bibir tebalnya mengucap kalimat itu dengan serius. Bahkan dengan suara terendahnya.

“Maksudmu?”

“Kau bilang ingin cerai sampai mengatakan apa yang ku rencanakan busuk. Kenyataannya, kau menerimanya bahkan merespons semuanya kemarin malam. Bukankah tahun kemarin kau mengatakan akan menikah sekali seumur hidup? Kau juga bilang akan bersamaku meski hidup yang kita jalani tidak mulus. Kau bertingkah seperti orang munafik. Apa sebenarnya yang terjadi? Adakah sesuatu yang kau sembunyikan mengenai ini?” Ia bungkam. Tubuhnya mencoba untuk melepas, tapi Kyungsoo menahannya. Ahyoung menghindari kontak mata.

“Kau tahu kan aku ini bergolongan darah AB.”

“Bergolongan darah AB? Apa itu ada hubungannya? Alasan tidak logis sekali golongan darah dijadikan permasalahan.”

Kyungsoo semakin mendekatkan tubuh Ahyoung padanya. Wanita itu hanya diam, ia sudah mati kutu jika sudah begini.

“Lihat aku.” Ahyoung memejamkan matanya. Ia membuang wajahnya enggan menurutinya. Kyungsoo kembali memerintahkan itu dan kali ini Ahyoung menurut meski terpaksa.

“Apa kau sama sekali tidak memiliki rasa padaku? Aku pikir hidup bersama selama hampir enam tahun lebih dari cukup.”

“Aku akan menjawab pertanyaanmu. Tapi tidak seperti ini. Biarkan aku duduk di kursiku.” pinta Ahyoung pelan.

“Tidak.” Jawaban Kyungsoo sudah mutlak.

Ahyoung menghela napasnya pelan.

“Tentu aku memiliki rasa padamu. Sebagai teman hidup dan sebagai sahabat yang selalu di sisiku.” jawabnya pelan.

“Hanya sahabat? Dan aku masih ingat di ulang tahun Youngsoo yang ke lima, kau ingin kita tetap setidaknya untuk memenuhi kasih sayangnya.”

“Aku lupa.” kata Ahyoung berbisik.

“Lalu, apa maksud dari kemarin malam dan malam-malam sebelumnya?”

“Tolong lupakan hal itu! Anggap saja itu untuk yang terakhir kalinya.” Mata bulat wanita itu mulai berkaca-kaca.

“Kalau kau ingin bercerai, bersikaplah sepantasnya agar aku bisa merelakanmu.”

Ahyoung mengangguk, ia mengusap air matanya yang entah kapan datangnya dan berhasil membasahi pipinya. Dengan perlahan ia melepaskan tangan Kyungsoo yang melingkar pada pinggangnya dan menjauh.

___

“Hahaha … Youngsoo, lihat! Dia benar-benar terjerembab–” Baekhyun mengehentikan tawanya saat melihat gadis kecil itu tertidur pulas di sofa. Tawanya digantikan oleh senyum menawannya.

Youngsoo sepertinya kelelahan membantu Paman Baekhyun membereskan apartemennya agar kembali rapi. Jangan salah sangka kalau Baekhyun yang meminta bantuan, nyatanya Youngsoo yang memaksa Baekhyun untuk membereskan, dan Youngsoo ikut membantunya. Youngsoo memang gadis yang baik.

Mata sipitnya melirik pada jam di dinding yang menunjukan pukul delapan malam, itu artinya Youngsoo sudah cukup lama di sini. Sepertinya Ia harus memulangkan Youngsoo. Dan sepertinya juga, ia harus menggendong Youngsoo yang tampak nyenyak.

.
.
.

Dug! Dug! Dug!

Baekhyun mengetuk pintu dengan kaki berbalut sendal rumahnya. Kedua tangannya tidak mampu menekan bel karena memampah Youngsoo.

Dug! Dug! Dug!

Astaga Baek! Apa kau mencoba menghancurkan pintu utama mantan kekasihmu?

Ceklek.

Seorang wanita keluar dari balik sana. Wanita yang tampak tidak baik-baik saja. Rambutnya terlihat berantakan dan bahkan beberapa kali ia mendengar suara seperti sehabis menangis. Baekhyun hanya mengehela napas, sejuta pertanyaan hanya bisa ia simpan rapat-rapat. Bahkan kekhawatiran pun tak bisa ia ungkapkan. Meski tak mendengar apapun, ia yakin mereka habis bertengkar. Bentengkar bukan seperti biasanya.

“Aku kamari ingin mengantar Youngsoo.”

Ahyoung segera mengambil alih Youngsoo dari gendongan Baekhyun.

“Terima kasih, maaf sudah merepotkan.” suaranya tampak serak. Namun, sekali lagi Baekhyun hanya bisa berpura-pura tidak tahu.

“Ini milik Youngsoo. Dan ini untukmu dan Kyungsoo.” Baekhyun memberi dua bungkusan.

“Terima kasih banyak. Ahaha, aku hanya bercanda waktu itu.” Meski wajahnya sedih, tapi sungguh, tawanya sama sekali tidak ada unsur paksaan. Sampai sekarang sifat drastisnya sama sekali tidak berubah.

“Aku sudah menyiapkannya. Mana mungkin aku lupa pada tetanggaku.”

“Sekali lagi terima kasih.” Ia mengembangkan senyumnya.

“Bukan apa-apa. Sampai jumpa besok.” pamit Baekhyun melambaikan kedua tangannya sambil melangkah menuju apartemennya.

Daripada mengkhawatirkannya dan membuat bencana. Menghiburnya jauh lebih baik. Kyungsoo dengan sifat cemburunya telah memberinya alarm jika Ahyoung bukan miliknya.
___

Ahyoung kembali menutup dan mengunci pintu. Seraya berjalan menuju kamar Youngsoo ia meletakan bingkisan dari Baekhyun ke dalam lemari es.

Perlahan ia meletakan tubuh Youngsoo ke atas ranjang. Berat badan putrinya mengingatkannya bahwa memang yang dirasakan oleh Kyungsoo ada benarnya, waktu enam tahun tidaklah sebentar. Ia menatap wajah bayinya yang kini tumbuh menjadi gadis kecil. Semua yang mereka lalui amat panjang, Ahyoung mengingat semuanya.

Tapi ia tidak mempunyai pilihan. Kalau ia bisa mempertahankan, lebih baik ia bersama Kyungsoo yang menyebalkan dan cerewet itu untuk selamanya. Bukan hanya demi putri sematawayangnya, namun juga dirinya dan Kyungsoo tentunya. Meski ia berkata seperti itu–cerai–tapi hati, jiwa, pikiran dan raganya bahkan menentang apa yang ia ucapkan. Karena satu hal. Itu bukan keinginannya.

Ahyoung tidur di sebelah Youngsoo. Walaupun ranjangnya lebih kecil tetapi muat untuk mereka berdua–meski sempit. Malam ini ia akan tidur di sini. Kedua tangannya ia ulurkan memeluk putrinya. Wanita itu kembali menangis, ia tahu itu tidak menghasilkan apapun, tapi setidaknya menangis bisa membuat hatinya tenang.

“Ibu.” terdengar suara kecil yang serak mengalun.

“Apa yang Ibu lakukan disini?” tanya Youngsoo mengeliat pelan.

“Malam ini Ibu tidur dengan Youngsoo ya?” tanyanya balik. Tidak menjawab pertanyaan Youngsoo yang membuatnya sedikit sebal.

“Tidak. Ranjang Youngsoo kecil.”

“Youngsoo.” Mohon Ahyoung. Youngsoo berbalik dan menatap wajah Ibunya.

“Apa Ibu habis menangis?” tanya Youngsoo khawatir.

“T-tidak, Ibu tidak menangis. Ada sesuatu yang masuk ke dalam mata Ibu. Jadinya berair dan terlihat seperti orang menangis.” alibinya. Youngsoo bangkit dan segera meniup mata Ibunya dengan harapan dapat menyembuhkannya.

“Sudah. Sekarang Ibu harus pergi ke kamar Ibu.”

“Youngsoo.” Ibunya kembali memohon.

“Youngsoo ingin tidur sendiri.”

“Youngsoo.”

“Ayah!” panggil Youngsoo dengan suara paling keras.

“Ayah!”

Setelah panggilannya yang kedua sebuah decitan pintu terdengar. Dan terlihatlah sesosok satu-satunya pria di rumah ini.

“Ada apa, Sayang?” Kyungsoo mengampiri Youngsoo dan memangkunya.

“Ibu tidak ingin tidur dengan Ayah.” adunya membuat Ahyoung mengembuskan napasnya malas.

“Ibu tidak bilang begitu. Ibu hanya bilang ingin tidur bersama Youngsoo.”

Kyungsoo menatap Ahyoung yang terlihat berantakan. Dan wajahnya begitu menyedihkan dengan mata yang sembab. Dia bukan pria bodoh yang tidak mengetahui jika dia habis menangis. Untuk kedua kalinya ia merasa bingung. Ahyoung sudah bersikap sebagaimana Istri yang ingin bercerai. Tapi, harusakah dengan air mata jika ia benar-benar ingin melakukannya?

“Youngsoo tidak mau tidur bersama. Sempit!” Rengek Youngsoo. Ia sungguh tidak suka tidur bersama siapapun dengan ranjang muat satu orang seperti miliknya.

“Baiklah. Ayah akan membawa Ibu keluar.” Kyungsoo bersikap hormat seperti prajurit yang siap menjalankan perintah.

Youngsoo membalas hormat Ayahnya dan dengan sigap ia menggendong Ahyoung dan seketika sebuah pekikan terdengar.

“Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi indah.” pamit Kyungsoo sebelum berlalu dari kamarnya.

Ahyoung hanya diam. Masih merasa kesal dengan putrinya. Dia mirip Kyungsoo sekali! Menyebalkan!

“Hei, turunkan aku.” pinta Ahyoung dengan suara pelan. Kyungsoo tak mengindahkan permintaannya dan terus berjalan menuju kamar mereka.

“Bagaimana pun kau masih istriku, Ahyoung.” kata Kyungsoo setelah merebahkan tubuh wanita itu dan menyelimutinya.

“Aku hanya ingin tidur dengan Youngsoo.” kata Ahyoung kembali beralasan.

“Anak sekecil Youngsoo pun tahu kalau kau bukan ingin tidur dengannya. Dengar, meski kau melakukan semua itu tapi aku masih bingung. Seakan-akan yang kau inginkan bukan keinginan dari hatimu sendiri.”

Advertisements

One thought on “Youngsoo’s Diary – Chapter 7 [Gift and Bed]

  1. Wattpad sama di sini dluan wattpad ya updatenya. Ini udah 2x aku baca. Kalo dipikir ulang waktu kyungsoo sama ahyoung ribut terus ahyoung nyebut golongan darah, *ini pemikiranku* gak mungkinkan kalo youngsoo sakit aaaa jangan.. Cuman takut kepikiran ke situ 😸
    Selalu ditunggu cerita selanjutnya dan cerita lainnya 😻

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s