It’s Our Fate? #5 [Reason]

PicsArt_06-15-10.22.53

2018 © Elfeetoile

Starring With : Park Ahyoung [OC/You] Do Kyungsoo [EXO’s D.O.] Park Jisoo [OC] | Also Support : Byun Baekhyun [EXO’s Baekhyun] Mrs. Park [As Ahyoung’s Mom] Kim Sohyun & Other |  Genre : Family, Romance, Sad, Comfort, Marriage life slight! | Rating : PG+17 | Lenght : Chapter | Disclaimer : This Story Line Is Mine, Please Don’t Copy Paste.

Previous : 

#1 [Meet Again] | #2 [The Truth] | #3 [Back To Past] | #4[Trauma]

.

“You Can Call It Fate, If You Already Work Hard.”

.

It’s Our Fate? #5 [Reason]

____

“Apa yang selama ini Bibi sembunyikan padaku?” Aura Sohyun tampak frustasi. Matanya terus menatap lekat pintu berwarna abu gelap yang tertutup beberapa detik yang lalu dengan sebal.

Nyonya Do beranjak dan membawa tubuh Sohyun untuk terduduk. “Biar Bibi cerita sedikit.” Tangan dengan kulit yang tidak terlalu kencang itu menyodorkan teh hijau yang masih hangat pada Sohyun itu berharap bisa meredakan emosi Sang Gadis.

“Dulu saat awal atau pertengahan semester kuliah, Kyungsoo membawa gadis bernama Park Ahyoung padaku, dan Kyungsoo mengatakan akan segera menikahinya. Tapi aku tidak menyetujuinya.”

“Kenapa? Karena Kyungsoo harus menikah denganku? Atau karena Park Ahyoung itu perempuan tak baik?” Sohyun merasa sedikit kecewa saat melihat Nyonya Do menggeleng. Ia terlalu berharap lebih. Mungkin itu karena Nyonya Do sejak kecil menyayanginya.

“Park Ahyoung gadis yang sopan, dia terlihat seperti wanita mandiri, Bibi suka kepribadiannya. Tapi, Bibi lebih menyukai kalau Kyungsoo membawa orang yang ia cintai dan mencintai Kyungsoo dengan tulus. Namun, saat itu Kyungsoo membawa Ahyoung lalu meminta izin menikah karena ingin perusahaan almarhum ayahnya segera jatuh di tangannya, ia harus bergerak cepat untuk itu sebab perusahaan tidak stabil setelah hilang pengawasan karena suamiku tengah sakit parah. Ku kira mereka akan baik, tapi nyatanya Ahyoung tidak mencintai Kyungsoo bahkan sampai detik melahirkan Jisoo pun dia masih ajeg dan kini mereka sudah berpisah.”

“Bukankah Chaeyeon—“

“Kau tahu tentangnya?” Sohyun mengangguk ragu.

“Kyungsoo membawanya saat acara ulangtahun Bibi.” lanjut Sohyun pelan.

“Tadinya iya, Ibu menyukainya karena dia pandai, cantik, dan berpendidikan, tapi setelah melihatnya bermesraan dengan pria lain. Ibu berubah pikiran. Dan memang setelah itu mereka putus.”

“Apa Bibi tidak merestui kami menikah karena Kyungsoo tidak mencintaiku?” Raut kecewa kembali tersirat di wajah Sohyun. Nyonya Do menggenggam tangannya lembut, ia tersenyum penuh arti.

“Bibi merestui. Kau juga harus berjuang untuk itu.

___

Malam ini Jisoo dengan polah menyebalkannya meminta dibuatkan tenda—yang terbentuk dari kursi dan seprai—untuk bermalam mereka. Jisoo dengan cerianya kembali mempersembahkan sebuah musik pada orangtuanya. Jisoo ingin menghentikan waktu untuk menikmati terus momen seperti ini, dimana kedua orangtuanya berkumpul bersama. Oh, mungkin yang dibilang oleh anak-anak lain adalah seperti ini rasanya.

Jisoo sebenarnya sempat mogok bicara. Ia sedikit marah prihal Kyungsoo yang telah menyembunyikan fakta tersebut selama ini dan baru memberitahunya beberapa jam yang lalu. Namun, hal itu pun tak menutup kemungkinan bahwa ia merasa bahagia. Pantas wajahnya dengan dengan wajah Paman Kyungsoo terlihat mirip, pantas sejak awal ia merasa nyaman, semua itu kini sudah terjawab.

“Ini adalah musik kesukaan Jisoo selama Jisoo berlatih piano. Kuharap Ibu dan … Paman bisa menikmati.”

Keyboard yang sudah disetel rapi oleh Jisoo-dibantu oleh Kyungsoo-telah siap. Jisoo mulai menekan tuts-tuts dengan perlahan, musik ini memang bertempo moderato yang siapapun menyukai musik yang satu ini saat pertama kali mendengarnya. Adalah Nocturne in E Flat Major Op.9 No.2 salah satu karya Frederic Chopin yang terkenal. Simfoni yang memanjakan telinga Kyungsoo, Ahyoung dan siapapun yang mendengarnya, tak hanya perasaan nyaman dan damai saat mendengar, Ahyoung dan Kyungsoo juga merasa bangga luar biasa.

“Sepertinya Ayahku menurunkan genetik padanya.” gumam Kyungsoo pelan.

“Ini lagu kesukaan Ibuku. Jadi, Ayah sering memainkan untuk beliau.”

Ahyoung tak memperdulikannya dan memilih terfokus pada penampilan Jisoo. Ia tidak memejamkan matanya seperti biasa saat menikmati lagu, mata wanita itu menatap dalam wajah putranya. Jisoo tidak pernah sesenang ini.

Kau tidak mengerti. Sadarlah! Kau terlalu fokus pada egomu. Aku yakin kau tidak pernah mendengarnya yang ingin ibunya menikah lagi agar dia bisa bermain dengan ayah. Jisoo mengerti perasaanmu, ia bahkan tidak mengungkit ayahnya yang seharusnya ia tahu. Ia tidak ingin kau marah dan kesal.

Tiba-tiba perkataan Kyungsoo kemarin terbesit dalam benaknya. Wajah itu seakan bukti dari kalimat sialan yang Kyungsoo bilang. Ahyoung merasa bersalah. Ada benarnya memang perkataan Kyungsoo. Tapi, ia tak akan kembali pada Kyungsoo. Hanya orang idiot yang memilih jatuh di lubang yang sama. Ya, Jisoo adalah anak Park Ahyoung, dia hanya mempunyai Ibu dan nenek sebagai anggota keluarganya. Itu memang sungguh egois, tapi semua itu Kyungsoo yang memulai memunculkan perasaan itu. Kyungsoo yang menanam sifat egois padanya dan dia telah berhasil karena itu tumbuh dengan baik.

Alunan musik yang Jisoo buat sudah tak terasa di telinganya. Jisoo telah usai, dan ia tidak menikmati itu. Bahkan ia tahu itu usai setelah mendengar tepukan meriah Kyungsoo. Ia mengikuti gerakan pria itu

“Kau hebat.” puji Kyungsoo senang.

“Terima kasih pertunjukannya, Sayang. Ibu akan tidur di kamar.” Ahyoung mengecup pipi Jisoo sebelum pergi menuju kamarnya.

“Ibu tidak tidur di tenda bersama kami?” Kaki itu berhenti sejenak. Ahyoung berbalik kembali pada Jisoo yang mengeluarkan wajah andalannya saat membujuk atau meminta sesuatu. Wanita itu menghela napas lalu mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Jisoo.

“Ibu dan Paman Kyungsoo bukan pasangan yang menikah. Jika seorang pria dan wanita tidur bersama tanpa menikah, Tuhan akan marah.” Jisoo menunduk, ia sedih sekaligus menyesal. Kepala hitam itu mengangguk pelan.

“Ji-jisoo, kau menemani Paman K-kyungsoo.” Jisoo mengangguk untuk yang kedua kalinya.

“Selamat tidur, Ibu.” Jisoo mengecup bibir Sang Ibu.

“Selamat tidur, Sayang.” balas Ahyoung mengacak rambutnya. Ia kembali pada niatan sebelumnya. Tapi, sebuah suara kembali membuat langkahnya kembali terjeda sesaat.

“Selamat tidur, Young.”

Suara dan panggilan itu seakan kembali membuka luka lama. Dia sering sekali mengucapkan itu saat statusnya masih seorang istri. Ahyoung hanya diam, dan merajut langkah demi langkah menuju kamar kembali. Dan memang sejak dulu Ahyoung seperti itu, tidak membalas.
___

Ahyoung membuka matanya perlahan ketika gordein yang mencegah cahaya matahari masuk ke kamarnya tersibak lebar di sisi jendela. Matanya semakin lebar saat indera penciumannya menangkap sebuah aroma yang membuat seseorang dalam tubuhnya bergerak aktif.

“Ibu sangat mengantuk, Sayang.” gumam Ahyoung pelan seraya mengelus perut besarnya lembut. Dan tendangan kembali dilancarkan pada perut Ahyoung.

“Baiklah. Kau sangat lapar sepertinya.”

Ahyoung mengucir rambutnya asal sebelum pergi menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat giginya.

“Kau sudah bangun?” Kyungsoo menaruh dua piring nasi goreng buatannya di atas meja makan mereka. Ia mengampiri Ahyoung dan memberikan kecupan pagi yang hangat sebelum menggiringnya duduk dan menikmati sarapannya.

“Ini bukan akhir pekan, Kyungsoo. Mengapa kau melakukan semua ini? Bukankah kau harusnya pergi ke kantor atau kampus?” ujar Ahyoung setelah mendapati seluruh ruangan kecuali kamarnya terlihat rapi dan bersih.

“Aku mengambil cuti selama seminggu.” jawabnya setelah menelan nasinya.

“Aku bisa pergi ke rumah Ibu atau Ibu bisa kemari untuk menemaniku. Kau tak perlu melakukan itu, pekerjaan dan kuliahmu lebih penting.”

“Tidak apa. Aku sudah mendapat izin.”

“Kyungsoo, nanti kalau kau ketinggalan pelajaran, pekerjaan dikantor terbengkalai—“

Kyungsoo menjatuhkan sendok dan garpunya di atas piring dengan gerakan pelan, namun itu tidak menutup kemungkinan menimbulkan bunyi yang nyaring. Bahkan itu membuat Ahyoung kembali menaruh sendoknya dan tidak jadi makan. Ia melihat Kyungsoo menghela napasnya.

“Kau juga penting, Park Ahyoung. Kalian adalah prioritas utama bagiku. Aku sudah mengajukan cuti jadi kumohon kali ini kau tidak membantahku.” ujar Kyungsoo mencoba sebisa mungkin terdengar lembut.

“Kyungsoo, kau ada di akhir semester seharusnya kau–” Ia meninggalkan meja makannya, nafsu makannya hilang seketika. Bohong kalau ia tidak kesal. Kau tahu kan rasanya tidak dihargai? Kyungsoo kira Ahyoung akan senang dengan apa yang ia lakukan, seperti istri-istri pada umumnya.

Kyungsoo pergi menuju kamar untuk menenangkan dirinya. Ia membereskan seprai dan selimut yang berantakan juga beberapa barang yang tidak berada di tempatnya.

Perut Kyungsoo masih lapar sebenarnya, selain tidak nafsu makan, ia memilih pergi karena takut lepas kendali. Terkadang ia susah mengatur emosinya jika sudah tersulut.

“Kyungsoo.”

Sial!

Ahyoung memasuki kamar dan ia memeluk punggung Kyungsoo erat, tidak seerat itu sih, bayinya cukup menghalangi. Pergerakan Kyungsoo terhenti, ia tidak membalas pelukan itu tidak juga melepaskannya.

“Maaf. Aku tidak bermaksud menyinggungmu. Aku senang sekali kau bisa menemaniku. Hanya saja, aku takut itu merepotkan.” jelas Ahyoung dengan suara pelan. Kyungsoo masih tetap seperti beberapa detik yang lalu. Sampai akhirnya….

“Kau tidak pernah semarah ini. Apa perkataanku benar-benar membuatmu sakit hati? Hiks.” Kaus pada punggung terasa basah dan dingin. Ahyoung menangis, wanita tangguh di belakangnya menangis, itu sebuah keajaiban.

Kyungsoo tak kuasa untuk tak acuh. Ia berbalik dan membalas pelukan wanita itu. Bayi di dalam rahimnya bahkan tak terima melihat ibunya menangis, kaki itu terus menendang saat perutnya dengan perut Kyungsoo menempel. Kyungsoo merasakan itu.

“Aku juga minta maaf. Tadi, aku kekanakan sekali.”

“Ayah minta maaf telah membuat Ibumu menangis. Kau sayang sekali dengan Ibu sepertinya.” Kyungsoo terkekeh pelan seraya mengelus perut besar Ahyoung pelan.

.
.
.

Kesadarannya telah kembali padanya. Lamunan Ahyoung seketika buyar ketika Kyungsoo mengajaknya sarapan bersama dengan nasi goreng buatannya.

Ya, sepertinya nasi goreng itu telah membawa jiwanya kembali ke masa lalu tanpa ia kehendaki. Do Kyungsoo benar-benar harus menjauh dari kehidupannya. Hidupnya seketika menjadi tidak tenang setelah kehadirannya.

“Paman, apa ini buatan Paman?” Jisoo yang baru saja membersihkan tubuhnya tersenyum senang begitu seonggok nasi yang terlihat lezat sudah menunggunya.

“Tentu. Kau ingat kan kalau Paman pernah bilang pintar masak?” Jisoo mengangguk lalu menjuput sendok yang telah tersedia.

“Pasti enak rasanya.” terka Jisoo sebelum merasakannya.

Kyungsoo ikut senang melihat kelakuan Jisoo yang makan dengan lahap. Lalu, tiba-tiba ia melirik ke kamar Ahyoung yang terbuka sedikit. Ia yakin seratus persen wanita itu pasti sudah bangun. Kyungsoo pamit pada Jisoo untuk pergi sebentar, Ahyoung juga perlu segera memakan nasi gorengnya, ia tidak suka makanan yang dingin dan kurang menyukai makanan yang dihangatkan.

“Aku tahu kau sudah bangun.” kata Kyungsoo setelah mengetuk pintu kamarnya perlahan.

“Ya, aku akan menyusul.” balas Ahyoung dari dalam. Wanita itu sebenarnya sudah keluar dari kamarnya sejak tadi dan menonton Kyungsoo masak—oh, lebih tepatnya melamun akan masa lalu—dan entah mengapa ia malah kembali ke kamarnya.

Ahyoung kembali keluar. Ia langsung terkejut begitu mendapati Kyungsoo berdiri di depan pintunya. Seketika ia memegang dadanya dan menyandar pada pintu. Dan sialnya pintu itu tidak tertutup dengan benar, alhasil tubuhnya terjungkal dan hampir saja bokongnya menyium lantai kalau saja….

Oh, jantung, bisakah kau tidak seaktif itu. Ya, tubuhnya saat ini di tahan oleh seseorang.

Kyungsoo menyeringai lalu menarik tubuh itu ke dalam dekapannya. Dan untuk kedua kalinya ia terkejut. Ugh! Kenapa kau mudah sekali terkejut akhir-akhir ini?!

“Ini masih senyaman dulu. Meski kau agak kurus.” Komentar Kyungsoo di tengah Ahyoung yang kerja otaknya masih melambat. Kyungsoo mengeratkan pada pinggangnya menghirup feromon wanita itu dalam-dalam.

“Lepaskan.” gumam Ahyoung pada akhirnya setelah tersadar jika ia sudah terhanyut. Terhanyut dalam kenyamanan yang tak ia rasakan beberapa tahun ini. Ia mendorong Kyungsoo dan pergi tanpa pamit ke meja makan.

Park Ahyoung, dia wanita yang memegang teguh prinsip dan keras kepala. Pandai, dan tidak lebih cantik dari Chaeyeon. Kyungsoo akui semua itu, termasuk pada bait akhir. Ahyoung juga tipikal wanita tertutup yang tak bisa disentuh sembarang orang. Kyungsoo menganggap yang terakhir adalah hal yang paling menantang dan bagian terbaik dari Park Ahyoung.

Kyungsoo tersenyum kecil, lantas pergi ketempat di mana Jisoo dan Ahyoung berada. Ia terduduk di samping Jisoo.

“Kau belum makan?” tanya Kyungsoo.

“Paman pimpin do’a.” Bukannya menjawab pertanyaan, Jisoo malah menyuruh Ayahnya dengan semangat.

Oh, putranya tumbuh dengan baik. Park Ahyoung bisa dikatakan cukup religius maka dari itu ia wanita susah untuk didekati. Ia yakin seratus persen Jisoo tumbuh dengan nilai-nilai itu.

“Baiklah.” Mereka mulai berdoa. Kyungsoo merasa ini pertama kali setelah sekian tahun memimpin doa makan.

“Selamat makan!” seru Jisoo sebelum menyantap makanannya.

“Jisoo sedang libur panjang bukan?” tanya Kyungsoo di sela-sela kegiatan makan mereka. Yang ditanya hanya mengangguk.

“Jika ada waktu, Jisoo boleh ikut dengan Paman dan Ibu ke Hongkong. Hitung-hitung berlibur.” Senyum Jisoo mengembang seketika.

“Benarkah?”

“Hm.”

___

Kyungsoo mengampiri meja setelah dua pria penghuni meja tersebut melambaikan tangan padanya. Luhan dan Chanyeol tersenyum jahil menatap pakaian Kyungsoo yang terlihat berantakan. Oh, mungkin itu membuat mereka betah melajang.

“Lihatlah penampilan Calon Ayah ini.” ejek Chanyeol diakhiri kekehan.

“Aku kemari bukan jadi bahan ejekan bukan?” ujar Kyungsoo sinis.

“Tidak. Hanya saja… perkataan Chanyeol benar.” sahut Luhan ikut terkekeh.

“Ada apa? Kau tau kan aku sangat sibuk?” Ucapan Kyungsoo membuat Chanyeol dan Luhan bersorak.

“Ooohhhh….” begitu kata dua berengsek itu. Mereka terlalu bersemangat melihat sahabatnya yang satu ini menderita.

“Aku jadi tidak ingin menikah.” Chanyeol bergidik ngeri.

“Apa kita yang selalu tampil keren ini akan sepertimu?”

Kyungsoo memasang wajah jengahnya. Ia membalikan tubuhnya hendak pergi. Alasan Kyungsoo kemari tanpa mengganti baju adalah karena kafè ini benar-benar di samping apartemennya.

“Yak! Kami hanya bercanda. Come on man! Mengapa kau jadi sentimentil sekali?” Chanyeol mencekal lengan Kyungsoo yang akan berlalu.

“Kalian belum merasakannya, jadi menganggap ini semua hanya candaan.”

“Sudahlah, Chan. Kyungsoo ada benarnya.” Luhan menyudahi pembulian terhadap Kyungsoo. Ia lantas merangkul pria tanggung itu dan mengajaknya untuk duduk.

“Chanyeon….” Kepalanya seketika mendongak, mata besarnya membola. Bahkan hanya menyebut namanya Kyungsoo tampaknya sudah menunjukan ketertarikannya.

“Dia kembali ke Seoul,” Luhan mulai menjelaskannya.

“Dia ingin menemuimu–akh!” tambah Chanyeol menggebu-gebu, lalu sebuah pukulan dari Luhan membuatnya memekik di akhir kalimat.
___

Jisoo bersama dengan Kyungsoo pergi ke kedai es krim di mana mereka sering menghabiskan waktu bersama. Terkadang Sarang ikut menemani.

Mereka mempunyai rasa kesukaan, sama-sama menyukai es krim vanila. Perbedaannya, Jisoo menyukai saus stroberi, biskuit hitam dan choco chip berwarna-warni. Sedangkan Kyungsoo dengan tamburan kacang almond dan saus cokelat.

“Akhir-akhir ini Sarang sulit dihubungi.” Jisoo membuka pembicaraan. Menunggu es krim dengan keadaan hening sungguh tidak asyik.

“Jisoo mempunyai masalah dengan Sarang?” Jisoo menggeleng. Kyungsoo mengangguk. Sarang adalah teman yang paling dekat dengan Jisoo, dan memang seharusnya merasa khawatir.

“Mungkin ia sedang ada acara. Tak perlu khawatir. Kan ada Ayah yang bisa mengajakmu bermain.” kata Kyungsoo diakhiri senyuman. Jisoo mengikuti pergerakan bibir Kyungsoo.

“Ayah, kapan Ibu tahu jika aku sudah mengetahui Ayah adalah Ayahku?” Kyungsoo mengembuskan napasnya lantas mengedikan bahunya seraya menggeleng.

“Ayah tidak tahu. Tapi, menurut Ayah, Ibumu harus tahu saat yang tepat.”

Jisoo menatap Kyungsoo lama. Dalam pikirannya masih tak menyangka akan bertemu Ayah kandungnya. Dulu teman-teman kelasnya mengolok dirinya dan Sarang karena tidak mempunyai orangtua yang lengkap. Jisoo tidak mempunyai Ayah–di sisinya–sedangkan Sarang tidak mempunyai Ibu–di sisinya. Tapi, guru Jo mengatakan bahwa setiap anak memiliki orangtua. Semenjak itu ia percaya jika suatu saat nanti ia akan bertemu Ayahnya.

Satu doa Jisoo sudah terkabul, lalu setelah itu doa lain pun terpanjatkan. Meminta pada-Nya bahwa suatu hari nanti Ayah dan Ibunya akan kembali bersatu seperti dulu.

“Jisoo,”

“Hm.” Jisoo masih fokus pada es krim yang telah diantar oleh pelayan.

“Kalau Ayah dan Ibu kembali bersama, apa yang Jisoo inginkan?”

Jisoo tampak berpikir seraya mengelum es krim bersama banyak toping. Sedangkan Kyungsoo memandang Jisoo yang seakan bertelepati.

“Jisoo ingin adik.” ucapnya seraya tersenyum kuda.

Kyungsoo terkekeh lalu mengulurkan tangannya untuk ber hi5 ria.

“Ayah sangat setuju untuk itu.”

Ahyoung sangat menggemaskan saat hamil, sosok tangguhnya akan berubah menjadi kekanakan dan manja. Kalau Kyungsoo ingat-ingat itu membuatnya ingin menghamili Ahyoung lagi.

“Nanti, Ayah menginap lagi ya?”

“Oke.”
___

Ahyoung seharusnya bersyukur akan perhatian Kyungsoo yang tak tanggung-tanggung. Pria yang merubah dirinya menjadi pekerja rumah tangga sekaligus pengasuh untuk Ahyoung itu tengah sibuk dengan masakan yang sebentar lagi matang. Dan memang ia sudah bersyukur.

Kyungsoo membawa makanan yang telah disajikan ke kamar di mana Ahyoung berada. Kakinya bengkak dan membuat Ahyoung sulit berjalan. Jadi, akhir-akhir ini hampir semua aktivitas mereka dilakukan di dalam kamar yang cukup luas. Kyungsoo bahkan membeli televisi dan dispenser untuk di kamar. Juga memindahkan beberapa sofa untuk menonton televisi. Karena kamar mereka berada di atas sedangkan dapur, ruang tamu, dan ruang keluarga berada di lantai bawah.

Wanita itu tengah menonton acara berita saat Kyungsoo baru saja membuka pintunya. Ia menempatkan nampan itu di atas nakas lalu menggeser meja yang berada di samping televisi.

“Nasinya terlalu banyak.” komentar Ahyoung pelan.

Kyungsoo menggeleng. Ia menaruh omlet telur itu di atas nasi Ahyoung.

“Tidak, itu pas. Setengahnya untuk anakku, Ahyoung.”

Ahyoung memakan itu dengan nurut. Kalau dipikir-pikir memang sebanyak ini porsinya, ia selalu makan dengan porsi standar namun acap kali menambah nasinya.

“Kau benar, Kyungsoo.”

Ahyoung memakan dengan lahap seperti tiga hari tidak makan. Sungguh, melihatnya saja Kyungsoo sudah merasa kenyang. Sendok dan sumpit memilih melihat wanita itu yang makan tanpa jeda.

“Kau tidak makan?” tanya Ahyoung dengan mulut penuh dengan makanan. Kyungsoo tersenyum kecil.

“Habiskan semuanya. Aku sudah kenyang.”

“Kau harus makan juga.” kata Ahyoung memaksa, tapi terlihat seperti niat tidak niat.

Kyungsoo tetap melanjutkan kegiatannya memandangi istri kesayangannya makan dengan baik. Selama ini Ahyoung sulit makan, tepatnya saat kehamilan di trismester pertama hingga pertengahan trismester kedua. Ahyoung nyaris tidak pernah makan.

Orang bilang yang seksi itu harus mempunyai bentuk tubuh S line, dimana payudara dan bokong menonjol dengan pinggang dan lengan yang ramping. Tapi, menurut Kyungsoo istrinya yang dulunya kurus itu malah seksi saat hamil di mana sekujur tubuhnya membengkak. Berat badan Ahyoung naik hampir dua puluh kilogram sudah plus dengan bayinya. Ahyoung tidak memilih-milih makanan saat nafsu makannya datang, ia akan memakan makanan apa saja. Kyungsoo biasanya memastikan bahan makanan yang ada dalam lemari pendingin haruslah bernutrisi.

Kyungsoo tak tahan dengan pipi tembam yang terlihat menggemaskan itu untuk tidak menciumnya. Ahyoung memandangnya dengan menkerucutkan bibirnya, dan pria itu mengecup bibir itu lagi.

___

Kyungsoo dan Jisoo kembali ke rumah, mendapati Ahyoung sedang masak. Apartemennya terlihat rapi, bahkan tenda-tenda yang terbuat dari seprai sudah tak nampak.

“Jisoo sudah pulang?”

Senyum Ahyoung memudar saat mendapati Kyungsoo masih muncul di wajahnya. Ahyoung menyuruh Jisoo untuk mencuci tangannya dan makan.

“Mau apa kau kemari?” tanya Ahyoung terdengar garang di telinga Kyungsoo.

“Aku ingin bermain bersama anakku tentu saja.”

Mata Ahyoung melotot. “Jangan menyebut kata itu keras-keras.” ucap wanita itu penuh penekananan.

“Kata yang mana? Kata “anakku”? Oh, takut ya Jisoo mendengarnya?” Kyungsoo menggodanya dengan pura-pura bodoh.

“Kalau kau ingin tahu. Jisoo kembali memintaku menginap di sini.”

Tangan Ahyoung mengepal tanpa sepengetahuannya, yang beberapa detik lagi bisa saja meluncurkan bogem mentah pada wajah pria itu.

“Ah! Jisoo juga berkata kalau dia ingin adik. Kau tahu, saat hamil kau sangat menggemaskan, tapi jika sedang tidak mengapa sangat ganas? Akh!”

“Siapa yang kau bilang ganas hah?!” kata Ahyoung garang setelah menendang tulang kering Kyungsoo.

“Ibu! Mengapa Ibu melakukan itu pada A–Paman Kyungsoo? Jisoo yang memintanya untuk menginap lagi disini.” Jisoo membantu Ayahnya bangun dan membawanya menuju meja makan.

Ahyoung bergeming. Oh, Jisoo tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dan sekarang, Jisoo terlihat begitu marah karena pria—yang menerutnya—brengsek itu.

Kyungsoo menolehkan kepalanya ke belakang menatap Ahyoung yang membeku. Lalu, lidahnya menjulur mengejek wanita itu.

Wanita itu langsung kembali mengepalkan tangannya. Bahkan ia mengacungkan sendal guna melempar ke wajah pria menyebalkan itu tapi urung karena sudah berlalu.
___

Kyungsoo….”

Wanita itu berdiri dengan perut besarnya. Memandangnya dengan tatapan nanar.

Pria yang dipandangnya malah memandang tajam pada kedua pemuda yang telah mengajaknya ke kafe.

“Mau apa kau kesini?” Kyungsoo berujar dengan intonasi sangat dingin.

Wanita itu berjalan dan memeluknya erat pada pria yang sedari tadi memandangnya tidak suka.

“Aku tidak tahan dengan semua ini, Kyungsoo.”

Bukannya membalas pelukannya atau menenangkannya, Kyungsoo justru melepaskannya.

“Aku sudah punya istri di rumah, kau juga punya suami yang harus kau urus, Chaeyeon.”

Setelah mengucapkan itu Kyungsoo pergi. Isakan terdengar memilukan terdengar di belakangnya. Tapi langkahnya tak berhenti.

“Hidup aku tak lama lagi.”

Dia berehenti sejenak. Seketika dadanya sesak dan tenggorokannya terasa sesak. Kyungsoo tentu masih punya hati nurani untuk merasa kasihan pada Kim Chaeyeon. Dalam lubuk hatinya masih ada bayang wanita itu, meskipun bayangan Ahyoung terlihat lebih jelas.

Yang membuat Kyungsoo percaya begitu saja adalah, perkataan Kim Chaeyeon 95% selalu benar. Dia tidak suka berbohong, kalau pun berbohong, apakah akting dia sebegitu bagusnya?

____

Udah lama bgt ya aku udh ga ngepost ini. mudah-mudahan kallian masih inget cerita ini wkwk 😀

So … i hope you guys like it. Dont forget to like, komentar, dan follow akun wattpad aku Elfeetoile. ^^

 

Regard

Elfeetoile

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s